2013-11-26

Menyematkan Rindu Pada Bukit Menara





Kala penantian ku bawa berjalan, panas terik matahari siang itu kembali membakar kulit sawo matangku. Walau kelihatan tidak jauh, namun dibutuhkan keteguhan hati dan sebuah tekad dan semangat untuk menggapainya. Setelah lelah sedari pagi melakukan kegiatan rutin pada tugas di misi ini akhirnya sesuatu yang dinantikan pun tiba, aku duduk di sebuah sofa yang sengaja ditempatkan di loby sebagai tempat peristirahatan. Kulihat teman-teman  tampak begitu lahap menyantap hidangan makan siang yang setiap hari dipersiapkan oleh panitia . Restoran selalu menyiapkan santapan khas daerah ini dengan cita rasa lokal yang bersahabat dengan lidah.
Karena sesuatu yang ku harap, Aku tak lapar, sama sekali tidak. Di setiap waktu makan siang seperti ini, rasa laparku selalu terkalahkan oleh satu rasa yang begitu menggebu. Rasa yang mengikat hatiku pada sebuah janji yang kau ucapkan dua tahun yang lalu tentang pekerjaan ini. Rasa itu kuberi nama rindu bukit menara. Lalu hari-hariku seperti anak-anak sekolah. Aku mempunyai pekerjaan rumah untuk menyematkan rindu pada bukit menara yang dapat memantau keindahan hunian kota.
Dulu, sebelum kau pergi membawa mimpimu ke kota yang jauh itu, kita selalu berbagi pengetahuan dan cerita di sana. Kau selalu membawa buku mu yang baru untuk ku baca sebelum kau pergi bertemu temanmu ke kantin sekolah ini. Sebagai gantinya, aku menuliskan cerita dongeng dengan guratan tangan ku untuk bacaan mu di malam itu. Kau mengatakan bahwa cerita dongeng buatan ku adalah dongeng  terindah yang pernah kau baca sepanjang hidupmu.
Beberapa detik kemudian, kurasakan batinku mulai mengharu biru kembali, tak sabar rasanya dapat menggapai bukit menara itu secepatnya. Sementara itu, teman-teman ku bersiap untuk kembali ke daerah mereka, namun beberapa sahabatku memenuhi keinginan menggapai puncak bukit menara. Aku dan teman-teman memakai sandal yang di beli di tempat itu dan sudah tentu harganya sangat tidak bersahabat. Tak bisa kucegah sekeping memori tentang perjalanan ku dulu, teringat aku pramuka hendak persami. Persami yang membawa ku berjalan menuju sebuah rangkaian yang kebanyakan orang menyebutnya dengan panggilan persahabatan baru.
Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah, kelas tiga dan aktif berorganisasi. Siang itu aku duduk di kelas sendiri dan menundukkan kepala dalam-dalam, karena semua temanku pergi menonton di bioskop. Ruang kelas kita bersebelahan. Kau berhenti tepat di depan kelasku dan menatapku dengan penuh tanda tanya. Terang saja, di saat itu aku malu karena tdk dapat mengikuti trend mereka. Minder dan malu menyelimuti kelas itu menurut sukmaku.
Kau berjalan mendekatiku, duduk di sampingku, lalu berkata, “Kamu ndak nonton?”
Perlahan kutengadahkan kepala untuk melihat wajahmu sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipiku. Aku diam tak menjawab pertanyaanmu. Lalu aku kembali menundukkan kepala dan memilin-milinkan ujung bajuku. Minder dan malu menyelimuti kelas itu menurut sukmaku, sebab semua tau kala itu.......
“Aku ndak akan ejekin kamu kok. Kamu koq malu dan tertunduk?” rupanya kau seperti bisa membaca pikiranku saat itu. Kau malah semakin ingin tahu mengapa aku menunduk dan terdiam sendirian di kelas saat itu.
Sekuat tenaga kutahan dan ku sembunyikan semua perasaan ku dan berlindung di balik senyum masam yang terpaksa untuk menjawab pertanyaanmu. Kau sedikit memiringkan kepala untuk melihat wajahku yang masih tertunduk dan malu.
“Aku malu dan sedih, gak bisa ikut dengan teman,” aku masih mengingat dengan jelas bagaimana nada bicaraku saat itu.
Kau tertawa begitu puas setelah mendengar jawabanku terlihat dari tatapan mu. Seketika saja, kau berdiri dan memegang tangaku untuk mengajak berdiri. Aku masih menatapmu tanpa kata-kata, sebab aku tak mengira....dalam kondisi begini ada sahabat yang mau berbagi.
“ayo makan kue? Kalau di sini terus kamu akan merasakan pengalaman yang sama dan tertekan?” mari kita beli di kantin.....katamu saat itu.
Dengan malu-malu kujawab pertanyaanmu, “Aku ndak punya uang. Uangku hilang dari tas ku saat senam tadi pagi.” Aku tidak sampai hati meminta kembali ke orang tua ku, ini salah ku.
Seketika saja Kau melepaskan genggaman tanganmu dan menghapus air mataku. Aku tersentak kaget dengan perlakuanmu saat itu. Tak ku duga bahwa tawamu yang tadi mengejekku berubah menjadi sifat seorang kakak yang mengayomi adiknya.
“Ya, sudah, ayo tak antar pulang,” ucapmu sambil menuntunku keluar kelas. Nanti aku yang jelasin ke orang tua kita. Dan yang pasti....kamu kan tidak berbohong?
Siang itu kau mengantarku sampai rumah dan menceritakan keadaan sebenarnya buat orang tua. . Aku tersenyum begitu bahagia saat itu, sebab satu masalah besar ku selesai oleh mu.
Setelah selesai, sebelum pulang engkau mengulurkan tanganmu seraya berkata, “Porman.”
Tanpa menyia-nyiakan waktu,secepat kilat aku membalas uluran tanganmu, “Imen.”
Siang itu adalah awal persahabatan kita. Kau dan aku mulai bermain bersama di sekolah ketika istirahat tiba. Pulang sekolah kita berjalan bersama, Tak jarang, kau berkunjung ke rumahku. Kau meminta ku membuatkan cerita dongeng. Aku sudah tak ingat lagi, sudah berapa set koleksi dongengmu yang merupakan guratan tangan ku, yang dapat kulakukan berkat  anjuranmu yang membakar semangat. Dalam setiap karya seni ini, perlu pertimbangan serius terhadap warnanya. Lalu di tengahnya tertulis nama kau dan aku.
Ketika suatu hari, tugas mengembalakan kerbau milik orang tauaku ke tanah lapang.....
Aku bermain layang-layang, yang sebelumnya ku tuliskan dalam dongeng ceritaku.
Dalam dongengku itu..... layang-layang itu menghubungkan kita dengan bulan dalaam ketinggiannya..... bulan impian dalam cita-cita.
Aku berteriak kegirangan, “Imeennnnn, layang-layangku bisa terbang!”
Kau berdiri di sampingku sambil melihat ke layang-layang yang berhasil kuterbangkan dengan indah. “Siapa dulu yang mengajari? Imennnn!” jawabmu bangga sambil membusungkan dada.
Sebagai gantinya, aku mengajakmu bermain bersama menunggang kerbau milik bapa ku. Kau begitu bersemangat ketika kuajak melihat ladang, tanam-tanaman milik ayahku yang ditanam  dan siap dipanen di atas lahan milik orang lain. Kau juga mengatakan bahwa suara lolongan anjing dan denguh kerbau membuat hatimu ceria. Betapa senangnya aku........
Aku tersadar dari lamunanku ketika temanku  menggerakkan tangannya  dan mengajakku dan berkata......tidakkah kita jadi berangkat menuju bukit menara itu?. Ah, jangan menyebutku sebagai lelaki yang cengeng! Aku memang selalu seperti ini, ketika terpisah jauh dari mereka. Rinduku padamu seperti cambuk yang siap mengayun pada punggung kerbau di sawah saat membajak. Cambukkan demi cambukan membuat laju kakiku melangkah maju.
Seandainya saja aku bisa mencegah kepergianmu untuk tidak menuntut ilmu di kota yang kini membuatmu lupa akan dongengku, layang-layang yang kuterbangkan itu, lolong anjing dan lenguh suara kerbai diladang itu  yang membuat hatimu ceria. Seandainya saja aku bisa sedikit berargumen buat mereka, mungkin kau akan mempertimbangkan kembali kepergianmu. Ah, sudahlah. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kedatanganmu setiap tahun dan terus fokus pada pendidikanku yang sudah separuh jalan ini dan hingga selesai. Jalan itu.....sambil menunggang kerbai milik paman ku........ aku lalui....tahun demi tahun...... permainan layang-layang itu....kuyakini hanya dongeng belaka. Kala itu....layang-layang terbakar disamping kandang dan talinya semua hangus terbakar. Sedih.............dan tak mampu berbuat apa.....
Layang-layang itu....Aku memang selalu menasihati diri agar bersabar memahaminya, namun batinku meronta karena setiap keping kenangan dongeng itu berbunyi seperti logam yang jatuh di atas keramik. Dan memori kepergianmu itu terputar lagi di benakku, tetap terlambat ketersadaran dan upaya dongeng ku.
Senja menguning, memerah lalu tenggelam dengan sempurna sore itu. Menara dan puncak bukit dengan tegap menghadapinya. Kota itu seakan tidak rela ditinggalkan oleh sang suryanya. Hati kota itu merunduk dan menari setelah angin sore mengecupnya dengan lembut, dan berkata ..... “surya buatan manusia akaan menyala”. Tapi sang kota berkata pada angin yang menyapanya.... dengan lirih ia berkata” itu bukan surya abadi milikku”. Suara jangkrik dan belalang bersama angin di bukit berkata kembali buat sang kota “ hari sudah sore, sebentar lagi akan malam.....surya mu pasti akan kembali esok pagi”. Percayalah..... Lalu sang kota berkata kembali...” Saya mau dia di sini hari ini....sebab semenjak pagi ia tidak kelihatan....ia ditutup oleh awan” Aku tahu...besok ia kan muncul kembali....namun hari dan tanggalnya sudah berbeda, suasananya berbeda. Pohon di kaki bukit menara itu  mulai terdengar melantunkan nyanyian malam dengan penuh semangat, namun sura jangkrik dan burung itu seolah tidak rela menyambutnya. Benar saja......surya buataan manusia menghiasi kota itu, membedakan daerah-daerahnya dengan jelas. Terjadi sekat-sekat yang nyata.....dan tak sesempurna surya yang kota itu miliki. Bukit menara hanya mampu memandanginya, ia menghibur kota dengan nyanyian pepohonannya yang begitu bersemangat. Kota seolah berduka........di samping dermaganya.
Pada malam itu......seakan aku tdk mau meninggalkan bukit menara itu. Sepertinya kau tak mendengar ucapanku. Kau terlihat begitu gelisah. Engkau duduk di batu itu dengan kakimu kau ayunkan ke depan dan ke belakang yang semakin mempertegas kegelisahanmu.
Dalam dongengku, engkau berkata “Aku harus pergi, Porman,” ucapmu sambil menatap mataku lekat-lekat, selesai ujian itu.
Aku terkaget mendengar ucapanmu. Seketika saja, kurasakan detak jantungku seperti berhenti setelah beberapa detik. Aku tersadar dan dengan cepat menyuruh jantungku untuk berdetak kembali. Namun, hanya diam yang kuberikan sebagai jawaban atas ucapanmu.
“Aku akan melanjutkan perjalanan dan mungkin  kuliah di kota itu. Aku sudah ditunggu di sana,dan akan mencari pekerjaan di sana” ucapmu lanjut. Dari air wajahmu aku tahu ada rasa yang memberatkanmu saat menyampaikannya padaku.
Seketika saja aku terhenyak dan menyandarkan diri pada tembok dinding rumah itu. Aku merasa seperti ada yang menghujam tepat di jantungku. Kau yang menyadari perubahan ekspresiku langsung berkata, “Tenanglah, Porman . Aku ndak akan melupakanmu. Aku akan pulang kampung setiap tahun.”Kita akan bermain layang-layang seperti dongengmu itu.
Kau diam sejenak sebelum akhirnya menggenggam tanganku erat dan berjanji, “Aku berjanji tak akan melupakanmu. Percayalah padaku. Aku akan setia pada janji kita. Kau dan aku di usia 25 tahun nanti.”
Lalu kaki bukit menara yang hijau semakin merunduk saat itu. Senja yang berubah menjadi jingga rasanya begitu kelabu. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam dan mengenang dongeng tulisanku. Ku urai kembali satu persatu.....ternyata... dalam tulisan itu, aku fahami bahwa antara penulis dan pembaca ada gap. Penulis selalu tertinggal satu hari di belakang pembaca. Yang ku sesali....mengapa dulu cerita itu harus ku tulis? Jika langsung kuceritakan... maka waktunya harus bersamaan dan akan slalu bersama merajut cerita dan berbagi dongegng bersama.
Suara teman ku itu memanggilku dengan lantang, membuyarkanku dari lamunan tentangmu.
“Ayo pulang, sudah malam,” temanku berteriak sekali lagi.
Ok , Pak,” jawabku singkat.
Aku beranjak dari bukit menara itu  yang penuh dengan lukisan  kepingan kenangan dan dengan malas. Sebelum benar-benar melangkahkan kaki, kupandangi kota itu yang sedang bersedih....terlihat dari dialog  itu dengan rasa yang mengharu biru. Aku melihat tawa, kata, cerita, dan tangis kita menguap di udara menuju peristirahatan hari di bukit menara itu. Lalu kepingan-kepingan itu berserakan, usang karena lama tak kau sentuh, lama sudah dia menunggu mu.
Sejenak aku berdiri memandangi kota itu yang mengabur ditelan kuasa malam, dengan rasa haru yang luar biasa, Isakanku kujelmakan pada lukisan langit jingga yang sempurna. Ah, aku tak akan berharap terlalu banyak. Sebab kedatangan malam itu selalu membuat kotaku  kecewa. Sang surya seolah olah melupakan setiap hal yang pernah mereka lalui dengan kota itu bersama alasan setumpuk tugas dan hal baru di kota yang lain dibelahan bumi sana yang sisinya berbeda.
Kau mengernyitkan dahi melihat layang-layang  yang kubawa ke bukit menaraa itu. Dengan penuh semangat dan sukacita aku membuatnya untuk dapat bermain kembali, namun kau membalas kegembiraanku dengan tanda tanya.
“Aku tak lagi memainkan layang-layang dongengku seperti dulu lagi, Mel. Benangnya tidak akan sanggup menahan terpaan badai bukit menara itu, badainya akan kuat menarik layang-layang dongengku itu.  Jika dipaksakan, layang-layang dongeng itu akan terbang, dan benangnya akan mengoyak dedaunan pisang yang utuh, muda dan cantik yang tumbuh di bukit menara itu. Angin di bukit menara itu berbeda dengan angin di lapangan tempat kita menggembala dulu. Disana......layang-layang dongengku melayang dan menyatu dengan bulan harapan..........
Ramada Deira Hotel Room 522 in Dubai
Minggu, 17 Nopember 2013  22.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar