Kala penantian ku bawa berjalan, panas terik matahari
siang itu kembali membakar kulit sawo matangku. Walau kelihatan tidak jauh,
namun dibutuhkan keteguhan hati dan sebuah tekad dan semangat untuk
menggapainya. Setelah lelah sedari pagi melakukan kegiatan rutin pada tugas di
misi ini akhirnya sesuatu yang dinantikan pun tiba, aku duduk di sebuah sofa
yang sengaja ditempatkan di loby sebagai tempat peristirahatan. Kulihat teman-teman
tampak begitu lahap menyantap hidangan
makan siang yang setiap hari dipersiapkan oleh panitia . Restoran
selalu menyiapkan santapan khas daerah ini dengan cita rasa lokal yang
bersahabat dengan lidah.
Karena sesuatu yang ku harap, Aku tak lapar, sama
sekali tidak. Di setiap waktu makan siang seperti ini, rasa laparku selalu
terkalahkan oleh satu rasa yang begitu menggebu. Rasa yang mengikat hatiku pada
sebuah janji yang kau ucapkan dua tahun yang lalu tentang pekerjaan ini. Rasa
itu kuberi nama rindu bukit menara. Lalu hari-hariku seperti anak-anak sekolah.
Aku mempunyai pekerjaan rumah untuk menyematkan rindu pada bukit menara yang dapat
memantau keindahan hunian kota.
Dulu, sebelum kau pergi membawa mimpimu ke kota yang
jauh itu, kita selalu berbagi pengetahuan dan cerita di sana. Kau selalu
membawa buku mu yang baru untuk ku baca sebelum kau pergi bertemu
temanmu ke kantin sekolah ini. Sebagai gantinya, aku menuliskan cerita dongeng
dengan guratan tangan ku untuk bacaan mu di malam itu. Kau mengatakan bahwa cerita
dongeng buatan ku adalah dongeng terindah
yang pernah kau baca sepanjang hidupmu.
Beberapa detik kemudian, kurasakan batinku mulai
mengharu biru kembali, tak sabar rasanya dapat menggapai bukit menara itu
secepatnya. Sementara itu, teman-teman ku bersiap untuk kembali ke
daerah mereka, namun beberapa sahabatku memenuhi keinginan menggapai puncak
bukit menara. Aku dan teman-teman memakai sandal yang di beli di tempat
itu dan sudah tentu harganya sangat tidak bersahabat. Tak bisa kucegah sekeping
memori tentang perjalanan ku dulu, teringat aku pramuka hendak persami. Persami
yang membawa ku berjalan menuju sebuah rangkaian yang kebanyakan orang
menyebutnya dengan panggilan persahabatan baru.
Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah, kelas
tiga dan aktif berorganisasi. Siang itu aku duduk di kelas sendiri dan
menundukkan kepala dalam-dalam, karena semua temanku pergi menonton di bioskop.
Ruang kelas kita bersebelahan. Kau berhenti tepat di depan kelasku dan
menatapku dengan penuh tanda tanya. Terang saja, di saat itu aku malu karena
tdk dapat mengikuti trend mereka. Minder dan malu menyelimuti kelas itu menurut
sukmaku.
Kau berjalan mendekatiku, duduk di sampingku, lalu
berkata, “Kamu ndak nonton?”
Perlahan kutengadahkan kepala untuk melihat wajahmu
sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipiku. Aku diam tak menjawab
pertanyaanmu. Lalu aku kembali menundukkan kepala dan memilin-milinkan ujung bajuku.
Minder dan malu menyelimuti kelas
itu menurut sukmaku, sebab semua tau kala itu.......
“Aku ndak akan ejekin kamu kok. Kamu koq
malu dan tertunduk?” rupanya kau seperti bisa membaca pikiranku saat itu.
Kau malah semakin ingin tahu mengapa aku menunduk dan terdiam sendirian di
kelas saat itu.
Sekuat tenaga kutahan dan ku sembunyikan semua
perasaan ku dan berlindung di balik senyum masam yang terpaksa untuk menjawab
pertanyaanmu. Kau sedikit memiringkan kepala untuk melihat wajahku yang masih
tertunduk dan malu.
“Aku malu dan sedih, gak bisa ikut dengan teman,” aku
masih mengingat dengan jelas bagaimana nada bicaraku saat itu.
Kau tertawa begitu puas setelah mendengar jawabanku
terlihat dari tatapan mu. Seketika saja, kau berdiri dan memegang tangaku untuk
mengajak berdiri. Aku masih menatapmu tanpa kata-kata, sebab aku tak
mengira....dalam kondisi begini ada sahabat yang mau berbagi.
“ayo makan kue? Kalau di sini terus kamu akan
merasakan pengalaman yang sama dan tertekan?” mari kita beli di
kantin.....katamu saat itu.
Dengan malu-malu kujawab pertanyaanmu, “Aku ndak punya
uang. Uangku hilang dari tas ku saat senam tadi pagi.” Aku tidak sampai hati
meminta kembali ke orang tua ku, ini salah ku.
Seketika saja Kau melepaskan genggaman tanganmu dan
menghapus air mataku. Aku tersentak kaget dengan perlakuanmu saat itu. Tak ku
duga bahwa tawamu yang tadi mengejekku berubah menjadi sifat seorang kakak yang
mengayomi adiknya.
“Ya, sudah, ayo tak antar pulang,” ucapmu
sambil menuntunku keluar kelas. Nanti aku yang jelasin ke orang tua kita. Dan
yang pasti....kamu kan tidak berbohong?
Siang itu kau mengantarku sampai rumah dan
menceritakan keadaan sebenarnya buat orang tua. . Aku tersenyum begitu bahagia
saat itu, sebab satu masalah besar ku selesai oleh mu.
Setelah selesai, sebelum pulang engkau mengulurkan
tanganmu seraya berkata, “Porman.”
Tanpa menyia-nyiakan waktu,secepat kilat aku membalas
uluran tanganmu, “Imen.”
Siang itu adalah awal persahabatan kita. Kau dan aku
mulai bermain bersama di sekolah ketika istirahat tiba. Pulang sekolah kita
berjalan bersama, Tak jarang, kau berkunjung ke rumahku. Kau meminta ku membuatkan
cerita dongeng. Aku sudah tak ingat lagi, sudah berapa set koleksi dongengmu
yang merupakan guratan tangan ku, yang dapat kulakukan berkat anjuranmu yang membakar semangat. Dalam setiap
karya seni ini, perlu pertimbangan serius terhadap warnanya. Lalu di tengahnya
tertulis nama kau dan aku.
Ketika suatu
hari, tugas mengembalakan kerbau milik orang tauaku ke tanah lapang.....
Aku bermain
layang-layang, yang sebelumnya ku tuliskan dalam dongeng ceritaku.
Dalam
dongengku itu..... layang-layang itu menghubungkan kita dengan bulan dalaam
ketinggiannya..... bulan impian dalam cita-cita.
Aku
berteriak kegirangan, “Imeennnnn, layang-layangku bisa terbang!”
Kau berdiri di sampingku sambil melihat ke
layang-layang yang berhasil kuterbangkan dengan indah. “Siapa dulu yang
mengajari? Imennnn!” jawabmu bangga sambil membusungkan dada.
Sebagai gantinya, aku mengajakmu bermain bersama
menunggang kerbau milik bapa ku. Kau begitu bersemangat ketika kuajak
melihat ladang, tanam-tanaman milik ayahku yang ditanam dan siap dipanen di atas lahan milik orang
lain. Kau juga mengatakan bahwa suara lolongan anjing dan denguh kerbau membuat
hatimu ceria. Betapa senangnya aku........
Aku tersadar dari lamunanku ketika temanku menggerakkan tangannya dan mengajakku dan berkata......tidakkah kita
jadi berangkat menuju bukit menara itu?. Ah, jangan menyebutku sebagai lelaki
yang cengeng! Aku memang selalu seperti ini, ketika terpisah jauh dari mereka.
Rinduku padamu seperti cambuk yang siap mengayun pada punggung kerbau di sawah
saat membajak. Cambukkan demi cambukan membuat laju kakiku melangkah maju.
Seandainya saja aku bisa mencegah kepergianmu untuk
tidak menuntut ilmu di kota yang kini membuatmu lupa akan dongengku, layang-layang
yang kuterbangkan itu, lolong anjing dan lenguh suara kerbai diladang itu yang membuat hatimu ceria. Seandainya saja aku
bisa sedikit berargumen buat mereka, mungkin kau akan mempertimbangkan kembali
kepergianmu. Ah, sudahlah. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu
kedatanganmu setiap tahun dan terus fokus pada pendidikanku yang sudah separuh
jalan ini dan hingga selesai. Jalan itu.....sambil menunggang kerbai milik
paman ku........ aku lalui....tahun demi tahun...... permainan layang-layang
itu....kuyakini hanya dongeng belaka. Kala itu....layang-layang terbakar
disamping kandang dan talinya semua hangus terbakar. Sedih.............dan tak
mampu berbuat apa.....
Layang-layang itu....Aku memang selalu menasihati diri
agar bersabar memahaminya, namun batinku meronta karena setiap keping kenangan dongeng
itu berbunyi seperti logam yang jatuh di atas keramik. Dan memori kepergianmu itu
terputar lagi di benakku, tetap terlambat ketersadaran dan upaya dongeng ku.
Senja menguning, memerah lalu tenggelam dengan
sempurna sore itu. Menara dan puncak bukit dengan tegap menghadapinya. Kota itu
seakan tidak rela ditinggalkan oleh sang suryanya. Hati kota itu merunduk dan
menari setelah angin sore mengecupnya dengan lembut, dan berkata ..... “surya
buatan manusia akaan menyala”. Tapi sang kota berkata pada angin yang
menyapanya.... dengan lirih ia berkata” itu bukan surya abadi milikku”. Suara
jangkrik dan belalang bersama angin di bukit berkata kembali buat sang kota “
hari sudah sore, sebentar lagi akan malam.....surya mu pasti akan kembali esok
pagi”. Percayalah..... Lalu sang kota berkata kembali...” Saya mau dia di sini
hari ini....sebab semenjak pagi ia tidak kelihatan....ia ditutup oleh awan” Aku
tahu...besok ia kan muncul kembali....namun hari dan tanggalnya sudah berbeda,
suasananya berbeda. Pohon di kaki bukit menara itu mulai terdengar melantunkan nyanyian malam
dengan penuh semangat, namun sura jangkrik dan burung itu seolah tidak rela
menyambutnya. Benar saja......surya buataan manusia menghiasi kota itu,
membedakan daerah-daerahnya dengan jelas. Terjadi sekat-sekat yang
nyata.....dan tak sesempurna surya yang kota itu miliki. Bukit menara hanya
mampu memandanginya, ia menghibur kota dengan nyanyian pepohonannya yang begitu
bersemangat. Kota seolah berduka........di samping dermaganya.
Pada malam itu......seakan aku tdk mau meninggalkan
bukit menara itu. Sepertinya kau tak mendengar ucapanku. Kau terlihat begitu
gelisah. Engkau duduk di batu itu dengan kakimu kau ayunkan ke depan dan ke
belakang yang semakin mempertegas kegelisahanmu.
Dalam dongengku, engkau berkata “Aku harus pergi, Porman,”
ucapmu sambil menatap mataku lekat-lekat, selesai ujian itu.
Aku terkaget mendengar ucapanmu. Seketika saja,
kurasakan detak jantungku seperti berhenti setelah beberapa detik. Aku tersadar
dan dengan cepat menyuruh jantungku untuk berdetak kembali. Namun, hanya diam
yang kuberikan sebagai jawaban atas ucapanmu.
“Aku akan melanjutkan perjalanan dan mungkin kuliah di kota itu. Aku sudah ditunggu di sana,dan
akan mencari pekerjaan di sana” ucapmu lanjut. Dari air wajahmu aku tahu ada
rasa yang memberatkanmu saat menyampaikannya padaku.
Seketika saja aku terhenyak dan menyandarkan diri pada
tembok dinding rumah itu. Aku merasa seperti ada yang menghujam tepat di
jantungku. Kau yang menyadari perubahan ekspresiku langsung berkata,
“Tenanglah, Porman . Aku ndak akan melupakanmu. Aku akan pulang kampung
setiap tahun.”Kita akan bermain layang-layang seperti dongengmu itu.
Kau diam sejenak sebelum akhirnya menggenggam tanganku
erat dan berjanji, “Aku berjanji tak akan melupakanmu. Percayalah padaku. Aku
akan setia pada janji kita. Kau dan aku di usia 25 tahun nanti.”
Lalu kaki bukit menara yang hijau semakin merunduk
saat itu. Senja yang berubah menjadi jingga rasanya begitu kelabu. Sepanjang
perjalanan pulang, aku hanya diam dan mengenang dongeng tulisanku. Ku urai
kembali satu persatu.....ternyata... dalam tulisan itu, aku fahami bahwa antara
penulis dan pembaca ada gap. Penulis selalu tertinggal satu hari di belakang
pembaca. Yang ku sesali....mengapa dulu cerita itu harus ku tulis? Jika
langsung kuceritakan... maka waktunya harus bersamaan dan akan slalu bersama
merajut cerita dan berbagi dongegng bersama.
Suara teman ku itu memanggilku dengan lantang,
membuyarkanku dari lamunan tentangmu.
“Ayo pulang, sudah malam,” temanku berteriak
sekali lagi.
“Ok , Pak,” jawabku singkat.
Aku beranjak dari bukit menara itu yang penuh dengan lukisan kepingan kenangan dan dengan malas. Sebelum
benar-benar melangkahkan kaki, kupandangi kota itu yang sedang
bersedih....terlihat dari dialog itu
dengan rasa yang mengharu biru. Aku melihat tawa, kata, cerita, dan tangis kita
menguap di udara menuju peristirahatan hari di bukit menara itu. Lalu
kepingan-kepingan itu berserakan, usang karena lama tak kau sentuh, lama sudah
dia menunggu mu.
Sejenak aku berdiri memandangi kota itu yang mengabur
ditelan kuasa malam, dengan rasa haru yang luar biasa, Isakanku kujelmakan pada
lukisan langit jingga yang sempurna. Ah, aku tak akan berharap terlalu banyak.
Sebab kedatangan malam itu selalu membuat kotaku kecewa. Sang surya
seolah olah melupakan setiap hal yang pernah mereka lalui dengan kota itu
bersama alasan setumpuk tugas dan hal baru di kota yang lain dibelahan bumi
sana yang sisinya berbeda.
Kau mengernyitkan dahi melihat layang-layang yang kubawa ke bukit menaraa itu. Dengan penuh
semangat dan sukacita aku membuatnya untuk dapat bermain kembali, namun kau
membalas kegembiraanku dengan tanda tanya.
“Aku tak lagi memainkan layang-layang dongengku seperti
dulu lagi, Mel. Benangnya tidak akan sanggup menahan terpaan badai bukit menara
itu, badainya akan kuat menarik layang-layang dongengku itu. Jika dipaksakan, layang-layang dongeng itu
akan terbang, dan benangnya akan mengoyak dedaunan pisang yang utuh, muda dan
cantik yang tumbuh di bukit menara itu. Angin di bukit menara itu berbeda
dengan angin di lapangan tempat kita menggembala dulu.
Disana......layang-layang dongengku melayang dan menyatu dengan bulan
harapan..........
Ramada Deira Hotel Room 522 in Dubai
Minggu, 17 Nopember 2013 22.00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar