Beberapa hari
belakangan ini, saya merasakan dorongan yang kuat untuk berdoa lebih sering
dari biasanya. Setiap kali berdoa, saya selalu mendoakan semua teman-teman dan
sahabat dan orang-orang yang ada di dalam lingkungan kehidupan saya. Entah
mengapa, ketika saya mulai mendoakan seorang sahabat, padahal saya baru
menyebutkan namanya, saya sudah menangis sedih sekali. Saya tidak tahu mengapa
saya bisa sesedih itu. Tapi saya melanjutkan berdoa baginya.
Kemarin saya bertemu
dengan seorang sahabat dan seperti biasa kami saling sharing dan
ternyata dia mengatakan pada saya bahwa hatinya sedang sedih sekali. Ada
pengalaman yang sangat membuatnya takut dan sedih. Dia tidak mengerti mengapa
harus mengalami hal seperti itu. Saya mendengarkan dia dengan sungguh-sungguh
dari awal hingga akhir kisahnya. Roh Kudus ingatkan saya untuk berdoa baginya.
Hal-hal yang sahabat saya bagikan adalah pokok doa yang akan saya panjatkan
pada Tuhan.
Jujur saja, saya tidak
suka mendengar kisah sedih orang lain. Saya berpikir bahwa saya sudah cukup
dengan kisah sedih yang saya alami sendiri. Alasan lainnya adalah apa yang saya
dengar dari teman atau sahabat, seringkali mau tidak mau menjadi beban pikiran
saya juga. Terkadang memang orang yang datang berbagi kisahnya tidak selalu
harus dibantu oleh kita. Duduk di samping dan menjadi pendengar yang baik saja
sebenarnya sudah cukup membantu dan sangat berarti baginya.
Kalau saya renungkan
lagi, ternyata Tuhan sedang mengajarkan saya untuk sanggup melihat (
dengan mata iman ) jalan keluar dari kesukaran yang saya alami sendiri. Dengan
mendengarkan orang lain, saya diajarkan oleh-Nya untuk belajar memiliki
cara pandang yang berbeda terhadap kesulitan yang sedang saya hadapi . Ternyata
selama ini kalau saya bertemu persoalan, kesulitan, tantangan atau sedang dalam
masa kesukaran, saya sama seperti mereka, orang-orang yang berbagi kisahnya
dengan saya. Semua yang ada dipikiran hanya saya, masalah saya dan kesulitan
saya.
Saya tidak mengatakan
bahwa berbagi pengalaman pribadi ( baca : curhat ) ke teman atau sahabat itu
salah. Yang saya mau bahas disini adalah pelajaran berharga yang bisa kita
petik dari situasi yang tidak menyenangkan dan menyulitkan hidup kita.
Tindakan apa yang menjadi bagian kita yang seharusnya dilakukan . (Tentunya
tindakan kita adalah hasil dari cara berpikir kita).
Terlalu memikirkan
diri sendiri dan hanya fokus ke masalah saja membuat kita semakin tidak
berdaya, boro-boro memikirkan jalan keluar. Persis seperti katak yang ada
di bawah sumur. Ketika katak ini memandang ke atas sumur, dia melihat langit
yang selebar mulut sumur dan langsung berpikir bahwa hanya selebar itulah
langit. Katak ini tidak tahu kebenaran bahwa langit itu sangat luas dan lebar,
jauh melebihi lebarnya mulut sumur .
Seringkali kita
berpikir seperti katak tersebut. Masalah yang ada dihadapan menghalangi kita
untuk bisa melihat jalan keluar yang terbentang luas. Bukannya berusaha mencari
jalan keluar, yang kita lakukan malah sebaliknya. Terlalu sibuk bersedih,
merasa diri tidak berguna, tidak layak, marah, kesal, kecewa karena tidak ada
seorangpun yang bisa menolong atau memberi jalan keluar atau malah menyalahkan
Tuhan sekalian.
Setiap kita yang
percaya kepada Tuhan Yesus pasti tahu bahwa firman-Nya adalah kebenaran. Yang
sering kita tidak tahu bahwa firman-Nya itu sungguh dapat menolong kita. Di
dalam segala keadaan, baik dalam masa kesukaran atau pun kelimpahan, firman-Nya
adalah pelita dan terang bagi jalan kita.
Sahabat saya, Lovi
pernah mengatakan, ” sekalipun kita dalam kesusahan, tetaplah lakukan hal yang
benar sesuai dengan firman-Nya. “ Saya setuju sekali dengan nasihatnya.
Tidak seorangpun dari kita yang tahu jalan keluar seperti apa yang akan Tuhan
berikan kelak. Tidak perlu kita memikirkan apa-apa, pokoknya lakukan saja apa
yang Tuhan firmankan dengan taat, setia dan rendah hati. Kalau sudah kita
sama-sama melakukannya, jangan lupa mengucap syukur ketika pertolongan-Nya
hadir bagi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar