1 Timotius 5:4 - Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya
mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan
membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada
Allah.
Setelah 21 tahun menikah, suatu hari isteriku meminta
kesediaanku untuk makan malam diluar dan menonton bersama seorang wanita. “Aku mencintaimu, tetapi aku
tahu bahwa wanitu itu juga mencintaimu dan sangat mengharapkan untuk bisa
menghabiskan sedikit waktu bersamamu.” Wanita yang dimaksudkan oleh
isteriku tak lain adalah ibuku sendiri yang sudah menjanda selama 19 tahun.
Karena kesibukan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, belakangan ini aku
memang tidak punya waktu untuk menjenguknya. Malam itu aku menelepon ibu dan
mengajaknya makan malam diluar dan menonton berdua. Ibu seolah tak percaya
ajakanku. “Nggak
salah? Apakah kau baik-baik saja?” Tanya ibu padaku. “Iya Bu, kita akan pergi
berdua saja,” jawabku.
Sepulang dari bekerja aku langsung menuju
kerumah ibu. Dalam perjalanan kerumah ibu, aku merasa
sedikit tegang. Aku tahu ketegangan ini disebabkan karena aku tidak pernah
pergi berdua dengannya. Setiba di depan rumah, ibu sudah menunggu di depan
pintu. Ibu menata rambutnya seindah mungkin dan ia mengenakan gaun yang dulu
dikenakannya pada ulang tahun terakhir pernikahannya. Ia tersenyum sambil
berkata, “Aku
mengatakan kepada teman-temanku bahwa aku akan pergi makan dan menonton dengan
anak laki-lakiku.” Ibu mengatakan itu sambil berjalan ke mobilku.
Setiba di restoran, kami terlibat dalam
perbincangan yang sangat menyenangkan. “Aku
ingat saat-saat makan di restoran seperti ini, ketika kamu masih kecil dulu,” kata
Ibu tersenyum sambil membaca daftar menu yang disediakan. Dalam perjalanan pulang,
ibu berkata kepadaku, “Aku
ingin pergi lagi bersamamu seperti malam ini, tetapi itu pun kalau engkau
bersedia.”
Beberapa hari kemudian ibu meninggal dunia
karena serangan jantung. Tak lama setelah itu, aku menerima sebuah amplop
berisi kwitansi dari restoran tempat kami makan malam sebelumnya. Ada catatan kecil yang ibu tuliskan
disana, “Aku sudah membayar tagihan ini. Aku tidak yakin apakah aku masih
berumur panjang, namun demikian aku tetap membayar untuk dua orang. Satu
untukmu dan satu lagi untuk isterimu. Engkau tidak akan pernah tahu betapa
berartinya malam itu bagiku. Aku mengasihimu anakku.”
Ini adalah saat yang tepat untuk Anda mengoreksi diri mengenai
keharmonisan hubungan dengan orang tua, khususnya ibu yang sudah melahirkan
Anda. Ibu yang dulu mencurahkan kasih sayang kepada Anda, ibu yang selalu
berdoa dan mengharapkan yang terbaik bagi Anda, yang menangis kepada Tuhan
untuk Anda. Marilah kira belajar menjadi anak yang berbakti kepada orang tua,
anak yang bisa membahagiakan mereka. Kita melakukan ini bukan semata-mata untuk
menyenangkan manusia, tetapi kita tahu bahwa perbuatan seperti ini akan
menyukakan hati Tuhan. Anda yang saat ini sedang mengalami
keretakan hubungan dengan orang tua, segeralah pulihkan hubungan itu.
DOA: Bapa, mampukan aku mengasihi dan
membahagiakan orang tuaku. Aku berdoa kiranya Engkau memberkati mereka dengan
kekuatan. Dalam Nama Tuhan Yesus aku mohon. Amin.
KATA-KATA BIJAK: Latihlah kepekaan untuk mendengarkan jeritan batin seorang ibu,
sekalipun mulutnya tertutup rapat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar