Pekerjaan halal adalah pekerjaan yang memberi kontribusi pada apa yang
dikehendaki Allah agar dilaksanakan di dalam dunia dan yang tidak secara
aktif memberi kontribusi kepada apa yang tidak disukai Allah. Pekerjaan
yang merusak ciptaan Allah -- pelacuran dan pencurian -- merupakan
perusak pekerjaan Allah. Walaupun kejahatan memang memengaruhi pekerjaan
yang halal, tetapi pekerjaan itu sendiri baik dan merupakan kontribusi
untuk dapat mencapai sasaran Allah.
Kaitan antara pekerjaan yang
kita lakukan dan bagaimana pekerjaan itu memberi kontribusi kepada
pekerjaan Allah tidak selalu tampak jelas.
Kebanyakan pekerja
"sekuler" merasa bahwa Allah paling tertarik pada ajaran yang bersifat
religius. Kepercayaan ini didasarkan atas empat anggapan yang keliru
berikut ini.
- Allah jauh lebih tertarik pada jiwa manusia daripada pada tubuh mereka.
- Hal-hal kekal itu jauh lebih penting daripada hal-hal yang ada pada saat ini.
- Kehidupan itu sendiri terbagi menjadi yang sakral dan yang sekuler.
- Para pendeta dan utusan Injil itu lebih penting bagi rencana Allah daripada orang-orang yang bekerja dalam bidang "sekuler".
Akan
tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa Allah tertarik pada
manusia seutuhnya, bukan hanya jiwanya. Itu sebabnya, orang yang membuat
karung yang akan digunakan untuk mengangkut bahan makanan sehingga
akhirnya bisa sampai ke meja makan Anda, itu memberi kontribusi yang
sama dalam pekerjaan Allah seperti seorang guru, juru rawat, atau utusan
Injil.
Selanjutnya, apa yang terjadi, baik dalam kekekalan
maupun dalam waktu yang fana ini, adalah sepenuhnya nyata dan penting
bagi Allah. Dengan menjadi mitra atau rekan Allah dalam membuat sesuatu
supaya alam semesta yang fana ini dapat berjalan dengan mulus dan
memuliakan Allah, itu sama juga seperti menjadi rekan kerja Allah dalam
penginjilan. Memang benar bahwa kekekalan adalah tujuan akhir kita, dan
bahwa tujuan kita harus memengaruhi segala sesuatu yang kita kerjakan
hari ini. Namun, hal ini juga berarti bahwa kita perlu memuliakan Allah
dalam segala cara yang mungkin -- dalam pekerjaan kita sama seperti
dalam doa, kebaktian, dan percakapan kita tentang Injil. Jika Allah
telah merancang Anda untuk menjadi arsitek atau tukang kayu, membangun
rumah untuk memuliakan Allah sekarang adalah salah satu cara terbaik
yang diberikan Allah kepada Anda untuk menceritakan kepada setiap orang
bahwa kehidupan Anda -- dan seharusnya kehidupan mereka -- juga
diarahkan pada kehidupan yang kekal bersama-sama dengan Allah.
Pekerjaan yang baik merupakan segi yang penting dari penyebarluasan Injil dalam kehidupan Anda sehari-hari.
Allah
telah memberi amanat kepada semua orang Kristen untuk menjadi saksi
kebenaran Injil. Akan tetapi, berbicara mengenai Kristus bukanlah
satu-satunya segi dari kesaksian Kristen. Perkataan kita tidak akan
berarti apa-apa jika perkataan itu tidak didukung dengan kehidupan yang
mencerminkan komitmen kita terhadap kedua hukum utama yang diberikan
Tuhan Yesus: mengasihi Allah dan mengasihi orang lain (Matius 22:34-40).
Salah satu cara utama untuk menunjukkan kasih kepada Allah adalah
dengan bekerja bersama dengan Dia dalam memelihara alam fisik yang
diciptakan-Nya -- dengan mencerminkan gambar Allah dalam pekerjaan yang
berguna. Dan, salah satu cara utama kita dapat menunjukkan kasih kepada
orang lain adalah dengan melakukan pekerjaan yang memberi kontribusi
pada kesejahteraan mereka. Apabila orang melihat kita melakukan
pekerjaan dengan integritas dan segala perhatian, demi kebaikan orang
dan produk yang ditangani, kita memperoleh rasa hormat dan perhatian
dari mereka tentang apa yang telah memotivasi kita.
Bagi
kebanyakan dari kita, tempat kerja kita adalah daerah misi kita yang
utama. Namun, pekerjaan yang kita lakukan bukan merupakan pekerjaan yang
sekunder jika dibandingkan dengan pekerjaan yang "sebenarnya", yaitu
bersahabat dan memberitakan Injil. Malah, melakukan pekerjaan "sekuler"
kita dengan baik merupakan salah satu cara utama kita untuk dapat
memperagakan Injil dan memuliakan Allah.
Tidak perlu menjadi bosan atau merasa diri tidak berguna.
Bekerja
merupakan salah satu cara utama untuk menggenapi kedua perintah agung
untuk mengasihi. Melalui bekerja, kita mengasihi Allah dan orang lain
dengan:
- melayani orang,
- memenuhi kebutuhan kita sendiri,
- memenuhi kebutuhan keluarga kita,
- mencari uang agar dapat memberi kepada orang lain, dan
- bekerja bersama Allah melaksanakan tugas yang ingin dilaksanakan Allah.
Apabila
kita menyadari bahwa Allah telah menempatkan kita dalam suatu pekerjaan
supaya kita dapat memberi kontribusi pada ciptaan-Nya, betapa sekuler
pun sifatnya, hal itu akan memberikan perasaan bermartabat dan bertujuan
kepada pekerjaan kita.
Karier Anda tidak merumuskan siapa Anda.
Kebudayaan kita hampir memuja soal bekerja. Sikap ini seolah-olah mempunyai kepercayaan yang berikut ini:
a. Tujuan akhir dari pekerjaan adalah untuk memenuhi diri Anda sendiri.
b. Keberhasilan dalam hidup berarti keberhasilan dalam pekerjaan.
c.
Anda dapat mengukur seberapa besar kesuksesan seseorang dari kekayaan
materinya, profesinya, atau statusnya dalam pekerjaan. Citra lebih
dipentingkan daripada kenyataan.
d. Anda harus melakukan apa saja untuk menyelesaikan pekerjaan Anda.
Namun,
dalam pandangan Allah, tujuan akhir dari pekerjaan adalah untuk
memuliakan Allah dengan bekerja bersama Allah dan melayani orang lain.
Sukses dalam hidup diukur lebih banyak dari bagaimana baiknya kita telah
mengasihi dan bukan dari bagaimana status kita dalam pekerjaan. (Orang
yang pernikahannya berantakan, yang anak-anaknya kecanduan obat bius,
dan yang tidak disukai bawahannya, telah gagal dalam pemandangan Allah,
sekalipun ia sangat sukses dalam usahanya.) Allah tertarik pada hati,
bukan pada penampilan lahiriah. Dan, walaupun Allah memuji jika kita
melakukan segala sesuatu agar pekerjaan itu dapat selesai (kerja keras,
efisiensi, perencanaan), tidak ada yang dapat membuat moral yang
dibengkokkan atau hal menyakiti orang lain dianggap benar.
Alasan
mengapa orang terdorong untuk melakukan "apa saja yang mungkin" adalah
karena mereka berpikir bahwa karier mereka yang menentukan nilai mereka.
Akan tetapi, identitas orang Kristen adalah sebagai anak dari Allah
yang hidup, seorang mitra kerja, dan ahli waris bersama Kristus.
"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?" (Lukas 9:25)
Dengan
menemukan identitas Anda di dalam Kristus, maka Anda akan dimerdekakan
dari kesia-siaan dan keputusasaan dalam usaha Anda untuk senantiasa
menaiki anak tangga keberhasilan dalam karier Anda, sekadar untuk
membuktikan nilai atau harga diri Anda.
Menang bukanlah perkara satu-satunya.
Tugas
kita adalah melakukan pekerjaan Allah, dengan cara Allah, dan
memercayakan hasilnya kepada Allah. Di dalam kedaulatan-Nya, Ia dapat
mengizinkan kita mengalami kesusahan atau keberhasilan untuk
mendewasakan kita dan menunjukkan kepada dunia bagaimana kita menangani
kesusahan atau keberhasilan. Namun, segala sesuatu senantiasa ada dalam
tangan pengendalian-Nya.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli buku: A Compact Guide to the Christian Life
Judul buku terjemahan: Kompas Kehidupan Kristen
Judul bab: Bekerja dan Beristirahat
Penulis: K. C. Hinckley
Penerjemah: Gerrit J. Tiendas
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
Halaman: 226 -- 229
2013-10-30
SUAMI YANG TIDAK MAU BEKERJA
Sudah seyogianya seorang suami bekerja untuk menafkahi keluarganya, tetapi sayangnya ada sebagian suami yang tidak mau bekerja. Sudah tentu hal seperti ini menciptakan masalah tersendiri. Apa yang harus dilakukan istri bila ini terjadi pada keluarganya? Sebagaimana hal lainnya, kita harus mencari penyebabnya terlebih dahulu sebelum mencari solusinya.
Ada orang yang tidak mau bekerja selama belum memperoleh pekerjaan yang diidamkannya. Dalam kasus ini, bisa saja ia dahulu bekerja, tetapi kemudian kehilangan pekerjaannya. Ia menolak untuk melakukan pekerjaan lainnya sebab ia merasa tidak cocok. Dalam kasus seperti ini, istri sebaiknya turut membantu suami mencarikan pekerjaan, dengan catatan suami pun tidak berhenti mencari pekerjaan. Secara berkala, sampaikanlah kepada suami kondisi keuangan keluarga supaya ia menyadari kebutuhan yang ada. Pada akhirnya, istri dapat mendorong suami untuk mengambil pekerjaan lain sebagai pekerjaan sementara. Bila istri sendiri mempunyai penghasilan yang cukup, ini bisa memperlama si suami untuk mengambil pekerjaan lain sebab kondisi keuangan tidak lagi mendesak.
Ada orang yang tidak mau bekerja sampai menemukan pekerjaan yang diidamkannya. Masalahnya adalah, ia tidak pernah bekerja. Jika ini yang terjadi, istri dapat mengajaknya menjalani konseling karier agar suami bisa melihat rumpun pekerjaan, bukan satuan pekerjaannya saja. Dengan kata lain, lewat konseling karier, suami berkesempatan melihat bahwa sesungguhnya ada pekerjaan lain yang dapat dikerjakannya sekaligus menjadi wadah aktualisasi dirinya. Dalam keadaan ini, suami tentu saja dituntut untuk fleksibel.
Ada yang tidak mau bekerja karena merasa kecewa atau sakit hati dengan pekerjaannya. Mungkin ia diberhentikan dengan cara yang tidak adil atau ia diperlakukan secara buruk. Berilah waktu kepadanya untuk pulih. Setelah itu, ingatkanlah bahwa kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi. Istri dapat menawarkan diri untuk bekerja membantu suami, tetapi mintalah agar suami tetap mengambil pekerjaan yang ada.
Ada yang tidak mau bekerja karena sukar berelasi dengan orang. Masalahnya adalah, ia bukanlah tipe pekerja mandiri sehingga menuntut kesediaannya untuk bekerja dengan orang lain. Dengan lembut tetapi jelas, istri harus menyadarkan suami akan kelemahannya agar suami tidak menyalahkan orang terus. Mungkin istri bisa memberi solusi praktis yang berkaitan dengan kerja sama. Yang terpenting adalah, semasa suami bekerja, istri harus sering-sering mengajaknya membicarakan situasi dalam pekerjaan supaya bila ada masalah yang timbul, istri dapat dengan segera memberi bantuan praktis.
Ada yang tidak mau bekerja karena memang ia seorang yang malas. Ia mau hidup enak tanpa mengeluarkan keringat dan merasa tidak apa-apa memanfaatkan istri. Ini adalah kasus yang berat sebab pada akhirnya, demi kepentingan keluarga, istri harus memikul beban supaya kebutuhan tercukupi. Dalam kasus seperti ini, pembicaraan dengan suami hampir selalu percuma. Jadi, daripada bertengkar, lebih baik diamkan saja, jangan diungkit-ungkit. Sudah tentu relasi suami istri cenderung memburuk, tetapi inilah konsekuensi yang mesti dipikul.
Firman Tuhan
"Berkatalah si pemalas, 'Ada singa di jalan! Ada singa di lorong' ... Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak daripada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana." (Amsal 26:13,16) Orang yang malas selalu mempunyai alasan mengapa ia tidak dapat bekerja. Ia jarang sekali mengakui bahwa sebenarnya bukannya ia tidak dapat bekerja, melainkan ia tidak mau bekerja. Memang sulit berhubungan dengan si pemalas. Pada akhirnya, ia harus menanggung akibatnya sebagaimana dikatakan dalam Amsal 26:1, "Seperti salju di musim panas dan hujan pada waktu panen, demikian kehormatan pun tidak layak bagi orang bebal."
Diambil dan disunting dari:
Nama situs: TELAGA.org
Alamat URL: http://www.telaga.org/audio/suami_yang_tidak_mau_bekerja
Judul transkrip: Suami yang tidak Mau Bekerja (T254A)
Penulis: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Tanggal akses: 15 Agustus 2013
PERAN WANITA DALAM PELAYANAN
Semua murid Tuhan Yesus adalah pria, tetapi sebenarnya, banyak pelayanan yang Ia lakukan bersama murid-murid-Nya ditopang oleh pelayanan para wanita.
Mari kita lihat secara spesifik beberapa tokoh Alkitab berikut ini.
a. Miriam, kakak perempuan Musa.
Miriam memainkan peranan yang sangat penting, kesuksesan Musa karena andil Miriam yang sangat besar. Seandainya kita tidak menghitung kuasa Tuhan, barangkali kalau tidak ada Miriam, Musa sudah hanyut di sungai. Namun, karena ada Miriam, Musa terhanyut masuk ke dalam istana Firaun.
b. Debora, barisan hakim-hakim.
Melalui tokoh ini, sangat kelihatan bahwa Tuhan tidak melihat jenis kelamin untuk mencari seorang pemimpin. Padahal, budaya pada waktu itu mengutamakan pria untuk memegang peranan, tetapi Tuhan memakai Debora untuk menjadi seorang hakim dan nabiah.
c. Ester, seorang ratu.
Dia bisa menjadi alat atau saluran untuk bisa menghubungi suaminya, sang raja, kemudian bisa mengubah berbagai peristiwa yang tadinya direncanakan dengan jahat oleh Haman. Akhirnya, karena keberanian Ester, ditambah dengan dukungan dari rakyatnya, dia bisa melakukan hal tersebut. Peranan Ester sangat penting sehingga satu bangsa terselamatkan. Kalau Ester tidak bertindak, kemungkinan besar keadaan bangsa Israel pada saat itu sangat-sangat terancam, bahkan bisa punah.
d. Yang lainnya lagi adalah peranan wanita-wanita seperti Maria Magdalena, Susana, dan Yohana dalam pelayanan Tuhan Yesus.
Bagi saya, yang menarik adalah mereka begitu setia melayani Tuhan Yesus, memberikan dukungan keuangan, dan sebagainya. Bahkan, Alkitab mencatat bahwa saat Tuhan Yesus berada di kayu salib, yang bersama dengan-Nya adalah para wanita tersebut. Merekalah yang pertama menjenguk kubur Tuhan Yesus dan yang pertama melihat Tuhan Yesus bangkit. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan begitu spesial memperhatikan wanita yang dianggap lemah, yang dianggap tidak ada apa-apanya, khususnya pada zaman itu. Mereka diangkat ke posisi yang begitu tinggi, dihargai, dan dikenang oleh Tuhan sendiri. Itu adalah anugerah semata.
Sebagai kaum wanita yang memang terdesak dan dibatasi (meskipun seharusnya tidak seperti itu), yang perlu dilakukan untuk menghadapi hal ini adalah:
- Pakailah kesempatan yang sudah ada semaksimal mungkin.
- Jangan pasif, tetapi lebih aktif menciptakan kesempatan dan memakai kesempatan.
- Jangan mengada-ada, tetapi tunjukkanlah bahwa apa yang Tuhan berikan dan apa yang Tuhan bebankan dalam hati para wanita direalisasikan menurut kehendak-Nya.
- Bersandarlah pada kekuatan dari Tuhan dan tunjukkan kesetiaan kita di dalam pelayanan sehingga orang dapat melihat bahwa wanita dapat melayani dengan bagus dan konsisten.
Dalam Filipi 3:17, Rasul Paulus berkata, "Saudara-saudara ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu." Sebagai wanita, kita perlu memberikan teladan yang indah sehingga orang di luar akan melihat kesaksian hidup kita, kesetiaan kita, dan kesanggupan kita. Akhirnya, mereka mau tidak mau harus mengakui sumbangsih yang telah diberikan oleh para wanita dalam pelayanan.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: TELAGA
Alamat URL: http://www.telaga.org/audio/peran_wanita_dalam_pelayanan
Judul transkrip: Peran Wanita dalam Pelayanan (T069B)
Penulis: Esther Tjahja, S.Psi. & Pdt. Dr. Netty Lintang
Tanggal akses: 25 September 2013
MELAYANI TUHAN DI SAMPING SUAMI ANDA
Entah membagikan buletin gereja setiap hari Minggu atau bergabung dalam pelayanan internasional yang sangat besar, semua orang Kristen memang dipanggil untuk melayani Allah dan gereja-Nya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Akan tetapi, kehidupan pernikahan memunculkan pertimbangan dan kesulitan lebih banyak ketika harus membedakan bagaimana dan di mana kita melayani. Dalam sebuah kutipan dari bukunya, "A Wife After God's Own Heart", Elizabeth George memberikan nasihat kepada para istri untuk melayani Allah bersama pasangan.
Bagaimana seorang istri menolong suaminya dalam melayani Tuhan? Bagaimana seorang istri melayani Tuhan jika suaminya tertinggal di belakang? Dan, bagaimana seorang wanita melayani Tuhan jika suaminya bukan orang Kristen?
1. Mulailah melayani orang-orang yang ada di rumah terlebih dahulu.
Selama bertahun-tahun, saya memiliki moto pribadi yang saya pegang setiap kali saya mendapat kesempatan untuk melayani orang lain dan gereja saya. Moto tersebut berbunyi, "Jangan berikan sesuatu kepada orang lain sebelum Anda memberikannya terlebih dahulu kepada orang-orang di rumah Anda." Ungkapan ini mengingatkan saya pada prioritas yang diberikan Allah setiap hari. Saya harus melayani suami dan anak-anak saya, yaitu memberikan kasih sayang saya kepada mereka yang ada di rumah terlebih dahulu. Setelah itu, baru membagikannya kepada orang lain -- bukan sebaliknya. Saya tahu, mudah sekali membalikkan urutannya. Demikian juga dengan wanita-wanita lain seperti Anda dan saya. Sebagai contoh, akhir-akhir ini, saya berbicara dengan seorang wanita yang telah mengundurkan diri dari posisi ketua komisi kaum wanita di gerejanya. Mengapa? Dia mengatakan bahwa dia mengundurkan diri dari posisinya karena prioritasnya tidak jelas. Dia memberi tahu saya bahwa baginya lebih mudah dan lebih berguna melayani wanita-wanita di gereja daripada memenuhi semua kebutuhan kedua anaknya yang sudah masuk pendidikan prasekolah dan suaminya yang ada di rumah.
Wanita lain yang melayani sebagai pemimpin musik dan pujian, serta penyanyi solo di salah satu persekutuan saya, meninggalkan persekutuan karena ia merasa bersalah akibat prioritasnya yang salah (bahkan, dia sudah berjalan ke telepon umum untuk menelepon suaminya dan meminta maaf kepadanya!). Lalu, ia memberi tahu saya bahwa tadi pagi, ketika dia berpamitan kepada suaminya sebelum meninggalkan rumah untuk menghadiri seminar "A Woman After God's Own Heart", dia benar-benar ingin mengucapkan kata "berpisah". Dia memberi tahu suaminya bahwa dia tidak akan kembali, selamanya. Syukurlah, dia pulang ke rumah sepulang dari seminar "A Woman After God's Own Heart"!
Dalam kedua kasus tersebut, wanita-wanita di atas memberikan apa yang jelas-jelas tidak mereka berikan kepada keluarganya kepada orang lain. Namun, saya menyebut dua orang ini, "luar biasa!" karena mereka menyadari prioritas mereka yang salah. "Puji Tuhan!" mereka mau melakukan hal yang benar. Sebagai istri, Anda harus melayani suami Anda lebih dahulu sebelum melayani orang lain. Hal yang penting di sini bukan apa yang dipikirkan jemaat tentang Anda, tetapi apa yang dipikirkan keluarga Anda tentang Anda. Bukan apa yang dibutuhkan orang-orang di gereja, tetapi apa yang diperlukan keluarga Anda di rumah. Itulah tugas, prioritas, dan hak istimewa istri!
Istri-istri yang terkasih, ketika orang-orang dan segala hal yang ada di rumah dirawat, dikasihi, dilayani, dan diurus baik-baik, hal itu juga akan terbawa ketika kita melayani di gereja, serta merawat dan memedulikan orang lain. Itulah yang dimaksud dengan istri yang berkenan di hati Allah.
2. Melayanilah dengan restu dan dukungan suami Anda.
Jika dan ketika Anda benar-benar ingin mendaftarkan diri dalam sebuah pelayanan atau menjadi sukarelawan untuk menolong beberapa urusan di gereja, tolong -- saya tekankan lagi, tolonglah -- mintalah izin kepada suami Anda terlebih dahulu. Hubungan Anda dengan suami Anda, kepatuhan Anda pada keinginannya dalam pernikahan Anda dan dalam kepemimpinannya atas Anda berdua sebagai pasangan, serta pelayanan Anda kepadanya harus "seperti kepada Tuhan" (Efesus 5:22) dan harus dilakukan "dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kolose 3:23).
Saya secara pribadi membuat kebijakan untuk tidak pernah melakukan apa pun atau mengambil proyek apa pun tanpa meminta masukan, pendapat, ide, dan persetujuan suami saya, Jim. Ini bukan karena saya takut kepada Jim atau memandangnya seperti figur orang tua. Bukan. Saya melakukannya karena saya lebih menghargai hubungan dan persahabatan yang kami miliki sebagai pasangan daripada keinginan saya untuk melakukan apa yang saya inginkan. Jadi, jika waktu saya digunakan untuk pelayanan, demikian juga waktu Jim. Jika uang saya digunakan untuk pelayanan, demikian juga uang Jim. Jika stres saya memengaruhi (seperti stres yang saya alami ketika pertama kali mendaftarkan diri untuk mengajar di kelas Alkitab bagi kaum wanita), stres tersebut tertular terhadap hidup Jim juga.
Anugerah Allah mengalir seiring ketaatan saya terhadap standar Allah bagi saya sebagai seorang istri, yaitu untuk menghormati suami saya dengan menghormatinya terlebih dahulu (Roma 12:10), menganggapnya lebih utama daripada diri saya sendiri (Filipi 2:3), dan sedapat mungkin hidup dengan damai bersama suami saya (Roma 12:18). Oleh karena itu, saya meminta pendapat dan persetujuan Jim untuk segala sesuatu, termasuk kesempatan-kesempatan dalam pelayanan. Saya tidak pernah menginginkan diri saya berada pada posisi penting dalam pelayanan (dalam segala hal) tanpa dukungan suami saya. Maka dari itu, saya hanya melayani dengan restu dan dukungan suami saya. Dengan begitu, saya dapat melayani dengan hati yang lega. Mengapa? Karena saya tahu Jim memimpin, dan berdoa untuk saya. Kami bersama-sama menyediakan dan menetapkan sebagian waktu dan energi kami yang berharga untuk pelayanan, yang artinya ini merupakan pelayanan bersama. Tentu saja, setelah itu kami mengevaluasinya. Namun, saya lebih sering membuat komitmen pelayanan hanya jika di dalam hati saya tahu bahwa saya mendapatkan dukungan suami.
Apa yang harus dilakukan istri jika suaminya mengatakan tidak (percayalah kepada saya, Jim pun sering kali berkata tidak)? Jika Anda menjadi istri dari suami yang seperti itu, saya katakan Anda harus bersyukur kepada Allah. Suami Anda adalah kunci yang membantu Anda untuk tetap memegang prioritas karena masukannya dapat menjadi alarm ketika ada hal-hal yang tidak seimbang. Arahannya adalah cara Allah menuntun Anda. Jadi, ketika Jim mengatakan tidak, saya pribadi bersyukur kepada Allah untuk suami yang mau memimpin dan memberi tanggapan. Setelah itu, saya menolak kesempatan pelayanan tanpa sakit hati. Mengikuti kehendak Allah dengan mengikuti kepemimpinan suami membuat saya, dan pelayanan saya, tetap berada di tengah kehendak Allah. Pernyataan "tidak" dan "ya" dalam area pelayanan sama-sama merupakan kehendak dan arahan Allah.
3. Melayanilah sebisa Anda.
Ketika Jim dan saya mulai ke gereja sebagai pasangan Kristen, kami tidak tahu apa pun tentang bagaimana kami melayani Tuhan, tentang Alkitab, atau tentang karunia rohani. Namun, dengan hati yang bersyukur kepada Juru Selamat, kami tahu kami ingin melakukan sesuatu. Jadi, kami melakukan segala sesuatu yang dapat kami lakukan! Kami mencuci piring setelah beramah-tamah dengan orang banyak. Kami menata kursi, melipat kursi, menumpuk kursi, dan memindahkan kursi ke tempat ibadah. Kami meletakkan lagu-lagu himne di bangku gereja dan membersihkan debu di ruang ibadah. Kami mencuci cerek dan panci saat pertemuan berlangsung. Kami menyapa orang yang datang untuk beribadah, memimpin kelompok Pemahaman Alkitab di rumah kami, mengantar jemaat-jemaat yang sudah lanjut usia ke gereja, membangun stan-stan yang longgar untuk pekan raya anak-anak, mengecat dan membersihkan taman, dan membantu memasang langit-langit kantor ketika ada penataan ulang di gereja kami. Satu per satu, daftar pelayanan berbagai bidang terus ditambahkan. Kami tidak perlu memiliki keahlian khusus untuk mengerjakan pelayanan-pelayanan yang luar biasa ini. Kami hanya perlu melakukannya dengan hati yang melayani.
Berikutnya, setelah kami bertumbuh dalam pengetahuan akan firman Allah, pelayanan kami pun ikut berkembang. Kami mengikuti kursus pelatihan untuk menjadi konselor dan mulai melayani di ruang doa setelah ibadah. Kami mengikuti kelas penjangkauan penginjilan dan bergabung dengan pelayanan perkunjungan. Kami mengikuti kursus pelatihan untuk guru sekolah minggu dan mulai membantu melayani anak-anak di kelas-kelas. Kami mengikuti kelas pelatihan pemuridan dan mulai melayani orang lain satu per satu. Kami mengikuti beberapa kursus pemahaman Alkitab dan mulai membagikannya di kelompok-kelompok kecil. Dan, selama mengikuti semua pelayanan dan kelas-kelas serta mengalami pertumbuhan rohani, kami menggunakan rumah kami. Setiap orang, siapa pun mereka, akan disambut di rumah kami, baik orang-orang yang berasal dari tempat-tempat di sekitar kami atau dari daerah lain di seluruh dunia!
Akan tetapi, bagaimana jika suami Anda tidak menginginkan Anda untuk melayani dengan cara-cara seperti ini? Pertimbangkanlah apa yang dapat Anda lakukan dalam situasi Anda. Saya tidak dapat menyebutkan bagi Anda, berapa banyak wanita yang saya kenal, yang membuat kue untuk pelayanan ... dari rumah. Wanita-wanita yang menyiapkan makanan untuk orang lain ... dari rumah, yang menelepon untuk mengatur beberapa pelayanan atau mengecek orang-orang yang bertugas ... dari rumah, yang menulis surat-surat dan catatan-catatan yang menguatkan ... dari rumah, yang mengetik daftar informasi gereja ... dari rumah, dan tentunya yang berdoa untuk orang lain di gereja dan orang-orang di seluruh dunia ... dari rumah. Cara-cara untuk menolong dan melayani dari rumah benar-benar tidak terbatas -- apabila Anda memiliki hati untuk melayani Tuhan!
Akhir kata, melayanilah sebisa Anda!
Diterjemahkan dan disunting dari:
Nama situs: Crosswalk
Alamat URL: http://www.crosswalk.com/family/marriage/serving-the-lord-next-to-your-husband-1329676.html
Judul asli artikel: Serving the Lord Next to Your Husband
Penulis: Elizabeth George
Tanggal akses: 18 September 2013
KESAKSIAN WANITA: SEIMBANGKAH ANDA?
Selama hampir delapan belas tahun lamanya saya terlibat dalam pelayanan, saya selalu memperhatikan dua bagian, saya selalu memeriksa dua instrumen di "dashboard" kehidupan saya. Sampai baru-baru ini, saya pikir itu sudah cukup.
Pertama, saya benar-benar memperhatikan kerohanian saya, yaitu bagaimana keadaan saya secara rohani. Tanpa Tuhan, saya tidak dapat melakukan apa-apa. Itu saya tahu. Saya tidak mau semua usaha dalam kehidupan saya habis terbakar karena semua yang saya lakukan sekarang ini atas usaha sendiri atau karena pintar bertaktik. Saya harus selalu sadar bahwa saya harus melakukan segalanya dengan bantuan Roh Kudus.
Agar tingkat kerohanian saya berada di tempat yang seharusnya, saya telah membuat komitmen untuk berdisiplin dalam hal: berpuasa, berkorban, belajar, dsb.. Seperti kebanyakan orang Kristen lainnya, saya menemukan bahwa kedisiplinan ini membangkitkan dan memompa kerohanian saya dan menyediakan kekuatan, serta intensitas bagi pelayanan saya. Walaupun dalam tahun-tahun terakhir ini kemajuan semakin cepat, saya dapat dengan jujur mengatakan bahwa saya jarang salah dalam membaca keadaan rohani saya. Bila saya melihat "dashboard" kehidupan saya, saya dapat mengetahui apakah bensin saya masih penuh, tinggal setengah, atau sudah habis. Jika secara rohani bensin saya masih penuh, saya dapat mengatakan bahwa saya mencintai Yesus, saya dapat menjaga kedisiplinan rohani, saya juga menjaga diri saya agar selalu terbuka kepada pimpinan Tuhan.
Kedua, saya juga memeriksa jasmani saya. Bagaimana keadaan saya secara jasmani? Saya sadar bila saya terlalu memaksa diri saya, akhirnya saya jatuh secara jasmani. Bila saya tidak menjaga makanan apa yang saya makan, diet, dan waktu istirahat, saya hanya mempersembahkan 2/3 bagian energi saja. Padahal, Roh Kudus menghendaki agar kita memberikan seluruhnya, baik secara rohani maupun jasmani, guna melakukan panggilan-Nya.
Peralatan yang Terabaikan
Ketika arti Natal tidak mengubah perasaan saya, dengan hati-hati saya mulai memeriksa kehidupan saya. Setelah bercakap-cakap dengan beberapa orang yang lebih berpengalaman, saya baru menyadari bahwa saya lalai memperhatikan satu alat yang penting. Keadaan saya secara rohani dan jasmani memang penting, namun saya gagal mempertimbangkan hal lain dalam pelayanan saya, yaitu kekuatan emosi saya.
Karena secara emosi, saya terlalu kehabisan, saya tidak dapat melihat perbedaan antara aktivitas dan panggilan Tuhan dalam hidup saya. Saya memerlukan instrumen ketiga di "dashboard" saya. Selama beberapa minggu ini, saya secara perlahan-lahan mulai menyadari bahwa ada pelayanan dan kegiatan lainnya yang menghabiskan persediaan emosi saya. Saya sebut pengalaman-pengalaman ini "IMA" (Intensive Ministry Activities), atau aktivitas pelayanan yang terlalu intensif.
IMA dapat berupa konfrontasi, acara penyuluhan yang menegangkan, pengajaran yang melelahkan, atau persiapan dan penyampaian pengajaran mengenai topik yang sangat sensitif, yang semuanya memerlukan penelitian dan pemikiran yang berat dan melelahkan. Misalnya, saat saya mengendarai mobil pulang pergi antara gereja dan rumah, kerohanian saya terasa tipis. Saya merasa ada sesuatu hal yang tidak beres, lalu saya memeriksa kedua buah alat yang tepercaya.
Secara rohani, saya bertanya, "Apakah saya sudah menyampaikan firman Tuhan semaksimal mungkin? Apakah saya sudah berdoa? Apakah saya sudah mempersiapkannya dengan baik? Apakah saya benar? Apakah para penatua memberikan peneguhan atas apa yang telah saya sampaikan?" Apabila sebuah alat pengukur menunjukkan "normal", saya akan memeriksa keadaan jasmani saya. "Apakah saya tetap diet? Ya. Apakah saya masih berolahraga? Ya. Jika demikian, berarti saya sehat. Namun, masih ada sesuatu yang tidak benar. Saya memerlukan alat ketiga yang dapat memonitor keadaan emosi saya untuk menentukan kesehatan saya dalam pelayanan.
Sering kali, kita menafsirkan bahwa keputusasaan kita disebabkan oleh kelemahan secara rohani. Kita menilai diri kita: "Saya seorang Kristen yang tidak baik!" atau "Saya adalah seorang murid yang jelek." Dan, sering kali, kesusahan-kesusahan kita memang menandakan bahwa kita tidak bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Namun, tantangan-tantangan yang kita hadapi dalam pelayanan bukan karena kejatuhan dalam hal rohani, melainkan karena kekosongan emosi kita.
Membaca Alat Emosi Anda
Sekarang ini, saya sudah bertekad untuk memasang alat pengontrol emosi saya di tengah "dashboard" dan belajar cara membacanya. Saya mengambil tanggung jawab untuk mengatur persediaan emosi saya. Saat saya mengalami krisis, tanpa menyadari bahwa persediaan emosi saya sudah menipis, saya (1) secara moral mulai merasa mudah diserang, (2) menemukan diri saya mudah sekali marah dan tersinggung, dan (3) mendapat keinginan untuk keluar dari pekerjaan Tuhan. Tiba-tiba, saya tahu bahwa emosi saya mulai mengering. Sekarang, tujuan saya adalah memonitor sumber-sumber emosional saya supaya saya tidak mencapai itu. Tanda-tanda apakah yang harus saya cari? Jika saya menghindari suatu pelayanan dan berkata, "Tidak apa-apa jika saya tidak pernah melakukannya lagi," ini adalah peringatan. Ada sesuatu yang salah ketika saya memandang orang lain sebagai rintangan atau melihat pelayanan sebagai suatu tugas rutin.
Petunjuk lain adalah dalam perjalan pulang, apakah saya mengharapkan Lynne tidak mempunyai problem dan anak-anak tidak menginginkan apa-apa dari saya? Mengharapkan orang-orang yang berharga dalam hidup saya dapat bertahan tanpa saya adalah suatu tanda bahwa saya tidak mempunyai sisa yang cukup untuk diberikan, dan inilah tanda masalah yang serius.
Setiap orang harus menemukan tanda-tanda peringatan untuk hidupnya sendiri. Apakah saya secara emosi sudah kehabisan bensin? Tidak dapatkah saya bertahan untuk berhubungan dengan orang lain sekarang? Apakah saya merasa perlu untuk pulang, mendengarkan musik, dan membiarkan Tuhan mengisi kembali baterai emosi saya?
Mengisi Kembali Persediaan Emosional
Jika Anda duduk di lapangan parkir dan menjalankan semua aksesori mobil Anda seperti radio, lampu-lampu, pemanas, klakson, penghapus kabut, dan jendela-jendela, kemungkinan besar Anda akan melemahkan baterainya dalam waktu sepuluh menit. Lalu, Anda membawanya ke bengkel untuk diisikan kembali, dan mengatakan akan mengambilnya sepuluh menit kemudian. Apa yang akan mereka katakan? "Tidak, kami akan mengisinya kembali semalaman karena dibutuhkan tujuh atau delapan jam untuk membuatnya kuat kembali."
Cara terbaik untuk mengisi baterai hingga berkekuatan penuh kembali adalah secara perlahan-lahan dan konsisten. Menyembuhkan kekeringan emosional juga membutuhkan waktu. Memulihkan ukuran emosi biasanya diartikan dengan melakukan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan pelayanan -- berlari, mandi, membaca, mendengarkan musik, main golf, bersepeda motor, atau mengukir. Yang terpenting adalah membangun jadwal pelayanan yang memungkinkan waktu yang sepadan untuk pengisian kembali emosi kita.
Kembali ke Daerah Karunia Anda
Penggunaan karunia roh Anda yang utama akan mengembuskan napas kehidupan kembali. Saat Anda sudah mengetahui karunia-karunia roh Anda dan menggunakannya sejalan dengan Tuhan Yesus, Anda membuat suatu perbedaan. Anda merasakan peneguhan dari Tuhan dan sering kali, Anda akan merasa lebih bertenaga sesudah pelayanan daripada sebelumnya.
Ketika Yesus bercakap-cakap dengan seorang wanita di tepi sumur, kedua belas murid-Nya kembali dari makan dan berkata, "Yesus, Engkau pasti sangat kelaparan. Kami sudah makan, dan Engkau terus bekerja selama waktu makan-Mu." Yesus menjawab, "Saya sudah makan makanan yang tidak kalian sadari. Bapa telah memakai saya untuk berbicara dengan seorang wanita yang dalam kesusahan."
Yesus mengerti bahwa melakukan apa yang Bapa percayakan kepada-Nya, sangatlah memuaskan. Sebaliknya, melayani di luar daerah karunia Anda cenderung membuat Anda kering karena Anda tidak memikul kuk yang seharusnya. Jika saya banyak menggunakan karunia tingkat ketiga atau keempat, tidaklah mengherankan bila saya tidak merasakan kekuatan emosional dalam pelayanan. Kita berjalan dengan kekuatan lebih apabila kita dapat melatih karunia-karunia utama kita. Tuhan tahu apa yang Ia lakukan dalam membagi-bagikan karunia. Saat pelayanan kita konsisten dengan jalan Tuhan bagi kita, kita akan menemukan gairah baru untuk pelayanan.
Menyeimbangkan Hal-Hal yang Kekal dan Duniawi
Kekeringan emosi mengingatkan saya bahwa seorang pemimpin Kristen harus mempunyai keseimbangan yang baik antara keterlibatan dalam hal kekekalan dan duniawi. Pada zaman Yesus, kehidupan mereka berbeda. Di dalam Alkitab, sesudah Yesus melayani atau mengajar, biasanya kita menemukan ungkapan: "Kemudian Yesus bersama murid-murid-Nya pergi dari Yudea ke Galilea." Perjalanan-perjalanan seperti ini biasanya cukup jauh dan sering kali, Yesus dan murid-murid-Nya berjalan kaki. Apa yang terjadi dalam perjalanan jauh? Mereka bercanda, berhenti dan beristirahat sejenak, memetik buah-buahan dan minum, tidur siang, dan melanjutkan perjalanan. Melalui semua ini, simpanan emosi terpenuhi dan keseimbangan yang baik antara hal-hal kekekalan dan duniawi diperbarui.
Sekarang ini, kita hidup pada zaman yang berbeda, dan saya tidak menyadari perubahan itu. Memasang telepon mobil, mesin fax, dan membuat pesawat terbang jet ke dalam sistem zaman ini membuat keadaan alami dan "keduniawian" hilang. Baru-baru ini, saya membuat tekad untuk berbicara di Michigan Utara. Lalu, orang yang mengundang saya itu menelepon kembali dan bertanya, "Dapatkah Anda berbicara dua kali selagi Anda berada di sini?" Saya setuju. Beberapa minggu kemudian, ia menelepon kembali dan berkata, "Bill, kami perlu Anda untuk berbicara tiga kali selagi Anda di sini, dan kalau bisa bertemu dengan beberapa orang sekalian sarapan pagi."
"Bagaimana aku dapat sampai di sana dengan tepat?" tanya saya. "Kami dapat mengirimkan pesawat terbang untuk Anda." Tak lama kemudian, ada satu orang lagi dari Texas menelepon. "Bill," katanya. "Saya benar-benar bingung. Ada sekitar seribu anak perguruan tinggi yang hadir, dan pembicara yang telah kami undang tidak dapat hadir. Sebagian besar dari anak-anak ini sudah membaca buku Anda, 'Too Busy Not to Pray', dan acara ini berkisar tentang buku Anda itu. Bisakah Anda menolong kami?" "Kapan?" tanyaku. Ia menjawab dan saya jawab, "Itu tidak mungkin karena saya harus berada di Michigan Utara pagi itu." Lalu, ia bertanya, "Anda ke sana naik apa?" "Ada orang yang akan menjemput saya dengan pesawat terbang." Jawabnya, "Bisakah kamu tanyakan pada orang yang akan menjemputmu untuk membawamu kemari?"
Akhirnya, saya naik pesawat pukul 07.00 pada hari Jumat pagi ke Michigan Utara, bertemu dengan beberapa pemimpin, berbicara tiga kali, dan rapat sambil makan siang. Lalu, saya naik pesawat kembali menuju Texas Selatan, dengan seorang yang terus-menerus bertanya. Makan bersama beberapa pemimpin sambil makan malam, berbicara dua kali, lalu kembali naik pesawat. Tiba di rumah pada hari Sabtu pagi pukul 01.00, sore harinya, saya berkhotbah dan dua kali pada hari Minggu pagi.
Persoalannya, secara rohani saya sehat. Saya telah memelihara kedisiplinan dan berusaha menaati Tuhan. Secara jasmani, saya bertahan, tidak seperti habis lari maraton. Namun, secara emosional, saya terkuras habis. Selain terkuras secara emosional, saya menyadari dua nilai lain yang tersembunyi dari kehidupan yang memusatkan pelayanan. Pertama, jikalau kita terlalu memperhatikan aktivitas rohani, lama-kelamaan kita akan kehilangan perasaan terhadap orang lain selain Tuhan. Kita tidak pernah berada dalam dunia mereka. Kedua, kita akan kehilangan keajaiban gereja, arti keselamatan, dan perasaan berada dalam pekerjaan Tuhan. Kita dapat melebihi batas dalam hal kekekalan sampai kita tidak lagi menghargai kemuliaannya.
Mengetahui hal ini, saya telah memperbarui komitmen untuk masuk dalam aktivitas yang tidak berhubungan dengan gereja. Saya lebih banyak main golf, mendaftarkan diri dalam perlombaan mobil balap, dan belajar mengendarai mobil balap. Jika saya tidak mengatur jadwal, jika saya menunggu sampai jadwal saya kosong, tidak mungkin saya dapat melakukan semua kegiatan tersebut. Dalam pelayanan kekristenan, kebutuhan orang tidak pernah akan habis.
Sasaran hidup saya adalah untuk memonitor sumber kerohanian, jasmani, dan emosi saya sehingga saya dapat melayani dengan bantuan karunia Tuhan selama hidup saya. Saya sering memikirkan Billy Graham, seorang pemimpin yang mempunyai integritas tinggi, yang telah melayani Yesus Kristus selama 45 tahun. Beliau adalah seorang yang rendah hari, suci hatinya, dan efektif. Setiap hari, beliau semakin bergantung pada Kristus. Saya berpikir, "Jika Tuhan tidak mengubah panggilan-Nya dalam hidup saya, dapatkah saya bertahan seperti ini selama dua puluh tahun mendatang?"
Saya yakin Tuhan menginginkan kita hidup untuk menyelesaikan pertandingan yang telah kita mulai. Itu adalah tantangan bagi setiap pemimpin Kristen. Dan, memonitor ketiga alat -- rohani, jasmani, dan emosi -- yang mempunyai bagian penting dalam kelangsungan hidup kita.
Diambil dari:
Judul majalah: HARVESTER, Edisi November/Desember, Tahun 1994
Penulis: Bill Hybels
Penyadur: Rita Makmura dan Cecilia Tanugraha
Penerbit: Indonesian Harvest Outreach
Halaman: 5 -- 9
2013-10-23
On ma Da Parpadananta
On ma da
parpadananta,
paima hita soman
On ma da parjanjianta,
On ma da parjanjianta,
paima hita soman
Domma tangkas ibotoh ham do au
Ulang pala ham tarudu
Torihi ham halak na legan
Ulang be na songon au
Ai au ma da ia
tarsongon hatani umpama:
Tanggiang na tarpulou botouhu
Magou tarelang-elang botouhu
Tanggiang na tarpulou botouhu
Magou tarelang-elang botouhu
Lalap mangadang-adang
Ai au ma da ia tarsongon hatani umpama:
Dingis na lang marasar botouhu
Ija golapni ari botouhu
Ijai huparbornginhon…
Sarudin Saragih
Mamuhun
1. Poltak ma
bintang da botou, topat ma tula
Lopus arian, tahun, panorang pe das ma
Rokkap ni badan da botou nadong tarsura
Bodari on mando hita boi pajuppah
Suntabi da botou bani hata na silap
Age parlahou, pangabak na hurang tama
Horas-horas hita botou sayur matua
Daoh ma bala, sai dear paruttungan
Lopus arian, tahun, panorang pe das ma
Rokkap ni badan da botou nadong tarsura
Bodari on mando hita boi pajuppah
Suntabi da botou bani hata na silap
Age parlahou, pangabak na hurang tama
Horas-horas hita botou sayur matua
Daoh ma bala, sai dear paruttungan
2. Borit do
namin botou, sompong marsirang
Na dob dokah somal sanggah bai haposoon
Ai nikku pe namin botou nadong tarsura
Ai goluh on nadong parhusoranni
Tading ma ham botou tading ulang mahua
Andohar ham girah homa hululuan
Horas horas hita botou, sayur matua
Daoh ma bala sai dear ma paruntungan
Na dob dokah somal sanggah bai haposoon
Ai nikku pe namin botou nadong tarsura
Ai goluh on nadong parhusoranni
Tading ma ham botou tading ulang mahua
Andohar ham girah homa hululuan
Horas horas hita botou, sayur matua
Daoh ma bala sai dear ma paruntungan
3. Sai jalo
ham ma botou, andon ma demban
Hatani on botou padaskon paruhuran
Appogi ham botou holsoh pusok ni uhur
Iluh na horom gan patorang uhur
Nasalpu in bortou nasasap na lupahon
Goluh nabayu ma tongon na manggantihkon
Horas horas hita botou, sayur matua
Daoh ma bala sai dear ma paruntungan
Hatani on botou padaskon paruhuran
Appogi ham botou holsoh pusok ni uhur
Iluh na horom gan patorang uhur
Nasalpu in bortou nasasap na lupahon
Goluh nabayu ma tongon na manggantihkon
Horas horas hita botou, sayur matua
Daoh ma bala sai dear ma paruntungan
Taralamsyah Saragih
Langganan:
Postingan (Atom)