Pekerjaan halal adalah pekerjaan yang memberi kontribusi pada apa yang
dikehendaki Allah agar dilaksanakan di dalam dunia dan yang tidak secara
aktif memberi kontribusi kepada apa yang tidak disukai Allah. Pekerjaan
yang merusak ciptaan Allah -- pelacuran dan pencurian -- merupakan
perusak pekerjaan Allah. Walaupun kejahatan memang memengaruhi pekerjaan
yang halal, tetapi pekerjaan itu sendiri baik dan merupakan kontribusi
untuk dapat mencapai sasaran Allah.
Kaitan antara pekerjaan yang
kita lakukan dan bagaimana pekerjaan itu memberi kontribusi kepada
pekerjaan Allah tidak selalu tampak jelas.
Kebanyakan pekerja
"sekuler" merasa bahwa Allah paling tertarik pada ajaran yang bersifat
religius. Kepercayaan ini didasarkan atas empat anggapan yang keliru
berikut ini.
- Allah jauh lebih tertarik pada jiwa manusia daripada pada tubuh mereka.
- Hal-hal kekal itu jauh lebih penting daripada hal-hal yang ada pada saat ini.
- Kehidupan itu sendiri terbagi menjadi yang sakral dan yang sekuler.
- Para pendeta dan utusan Injil itu lebih penting bagi rencana Allah daripada orang-orang yang bekerja dalam bidang "sekuler".
Akan
tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa Allah tertarik pada
manusia seutuhnya, bukan hanya jiwanya. Itu sebabnya, orang yang membuat
karung yang akan digunakan untuk mengangkut bahan makanan sehingga
akhirnya bisa sampai ke meja makan Anda, itu memberi kontribusi yang
sama dalam pekerjaan Allah seperti seorang guru, juru rawat, atau utusan
Injil.
Selanjutnya, apa yang terjadi, baik dalam kekekalan
maupun dalam waktu yang fana ini, adalah sepenuhnya nyata dan penting
bagi Allah. Dengan menjadi mitra atau rekan Allah dalam membuat sesuatu
supaya alam semesta yang fana ini dapat berjalan dengan mulus dan
memuliakan Allah, itu sama juga seperti menjadi rekan kerja Allah dalam
penginjilan. Memang benar bahwa kekekalan adalah tujuan akhir kita, dan
bahwa tujuan kita harus memengaruhi segala sesuatu yang kita kerjakan
hari ini. Namun, hal ini juga berarti bahwa kita perlu memuliakan Allah
dalam segala cara yang mungkin -- dalam pekerjaan kita sama seperti
dalam doa, kebaktian, dan percakapan kita tentang Injil. Jika Allah
telah merancang Anda untuk menjadi arsitek atau tukang kayu, membangun
rumah untuk memuliakan Allah sekarang adalah salah satu cara terbaik
yang diberikan Allah kepada Anda untuk menceritakan kepada setiap orang
bahwa kehidupan Anda -- dan seharusnya kehidupan mereka -- juga
diarahkan pada kehidupan yang kekal bersama-sama dengan Allah.
Pekerjaan yang baik merupakan segi yang penting dari penyebarluasan Injil dalam kehidupan Anda sehari-hari.
Allah
telah memberi amanat kepada semua orang Kristen untuk menjadi saksi
kebenaran Injil. Akan tetapi, berbicara mengenai Kristus bukanlah
satu-satunya segi dari kesaksian Kristen. Perkataan kita tidak akan
berarti apa-apa jika perkataan itu tidak didukung dengan kehidupan yang
mencerminkan komitmen kita terhadap kedua hukum utama yang diberikan
Tuhan Yesus: mengasihi Allah dan mengasihi orang lain (Matius 22:34-40).
Salah satu cara utama untuk menunjukkan kasih kepada Allah adalah
dengan bekerja bersama dengan Dia dalam memelihara alam fisik yang
diciptakan-Nya -- dengan mencerminkan gambar Allah dalam pekerjaan yang
berguna. Dan, salah satu cara utama kita dapat menunjukkan kasih kepada
orang lain adalah dengan melakukan pekerjaan yang memberi kontribusi
pada kesejahteraan mereka. Apabila orang melihat kita melakukan
pekerjaan dengan integritas dan segala perhatian, demi kebaikan orang
dan produk yang ditangani, kita memperoleh rasa hormat dan perhatian
dari mereka tentang apa yang telah memotivasi kita.
Bagi
kebanyakan dari kita, tempat kerja kita adalah daerah misi kita yang
utama. Namun, pekerjaan yang kita lakukan bukan merupakan pekerjaan yang
sekunder jika dibandingkan dengan pekerjaan yang "sebenarnya", yaitu
bersahabat dan memberitakan Injil. Malah, melakukan pekerjaan "sekuler"
kita dengan baik merupakan salah satu cara utama kita untuk dapat
memperagakan Injil dan memuliakan Allah.
Tidak perlu menjadi bosan atau merasa diri tidak berguna.
Bekerja
merupakan salah satu cara utama untuk menggenapi kedua perintah agung
untuk mengasihi. Melalui bekerja, kita mengasihi Allah dan orang lain
dengan:
- melayani orang,
- memenuhi kebutuhan kita sendiri,
- memenuhi kebutuhan keluarga kita,
- mencari uang agar dapat memberi kepada orang lain, dan
- bekerja bersama Allah melaksanakan tugas yang ingin dilaksanakan Allah.
Apabila
kita menyadari bahwa Allah telah menempatkan kita dalam suatu pekerjaan
supaya kita dapat memberi kontribusi pada ciptaan-Nya, betapa sekuler
pun sifatnya, hal itu akan memberikan perasaan bermartabat dan bertujuan
kepada pekerjaan kita.
Karier Anda tidak merumuskan siapa Anda.
Kebudayaan kita hampir memuja soal bekerja. Sikap ini seolah-olah mempunyai kepercayaan yang berikut ini:
a. Tujuan akhir dari pekerjaan adalah untuk memenuhi diri Anda sendiri.
b. Keberhasilan dalam hidup berarti keberhasilan dalam pekerjaan.
c.
Anda dapat mengukur seberapa besar kesuksesan seseorang dari kekayaan
materinya, profesinya, atau statusnya dalam pekerjaan. Citra lebih
dipentingkan daripada kenyataan.
d. Anda harus melakukan apa saja untuk menyelesaikan pekerjaan Anda.
Namun,
dalam pandangan Allah, tujuan akhir dari pekerjaan adalah untuk
memuliakan Allah dengan bekerja bersama Allah dan melayani orang lain.
Sukses dalam hidup diukur lebih banyak dari bagaimana baiknya kita telah
mengasihi dan bukan dari bagaimana status kita dalam pekerjaan. (Orang
yang pernikahannya berantakan, yang anak-anaknya kecanduan obat bius,
dan yang tidak disukai bawahannya, telah gagal dalam pemandangan Allah,
sekalipun ia sangat sukses dalam usahanya.) Allah tertarik pada hati,
bukan pada penampilan lahiriah. Dan, walaupun Allah memuji jika kita
melakukan segala sesuatu agar pekerjaan itu dapat selesai (kerja keras,
efisiensi, perencanaan), tidak ada yang dapat membuat moral yang
dibengkokkan atau hal menyakiti orang lain dianggap benar.
Alasan
mengapa orang terdorong untuk melakukan "apa saja yang mungkin" adalah
karena mereka berpikir bahwa karier mereka yang menentukan nilai mereka.
Akan tetapi, identitas orang Kristen adalah sebagai anak dari Allah
yang hidup, seorang mitra kerja, dan ahli waris bersama Kristus.
"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?" (Lukas 9:25)
Dengan
menemukan identitas Anda di dalam Kristus, maka Anda akan dimerdekakan
dari kesia-siaan dan keputusasaan dalam usaha Anda untuk senantiasa
menaiki anak tangga keberhasilan dalam karier Anda, sekadar untuk
membuktikan nilai atau harga diri Anda.
Menang bukanlah perkara satu-satunya.
Tugas
kita adalah melakukan pekerjaan Allah, dengan cara Allah, dan
memercayakan hasilnya kepada Allah. Di dalam kedaulatan-Nya, Ia dapat
mengizinkan kita mengalami kesusahan atau keberhasilan untuk
mendewasakan kita dan menunjukkan kepada dunia bagaimana kita menangani
kesusahan atau keberhasilan. Namun, segala sesuatu senantiasa ada dalam
tangan pengendalian-Nya.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli buku: A Compact Guide to the Christian Life
Judul buku terjemahan: Kompas Kehidupan Kristen
Judul bab: Bekerja dan Beristirahat
Penulis: K. C. Hinckley
Penerjemah: Gerrit J. Tiendas
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
Halaman: 226 -- 229
Tidak ada komentar:
Posting Komentar