2013-12-18

Cinta Tak Pernah Menyerah (Tulisan Lama yang Hilang)




Saya sedang iseng. Iseng menonton video klip sebuah lagu soundtrack film ABG, My MVP Valentine. Well, dari judulnya saya sudah tahu betapa ABG-nya lagu dan film itu. Masa-masa yang sudah lewat..saya pikir. Masa ABG, masa sejak kita mulai menegnal persaan cinta, bahkan penuh dengan cinta monyet yang konyol. Tapi entah mengapa, saya menontonnya, dan setelah saya menyimaknya, saya terlarut dengan masa saya sewaktu saya di usia yang sama, kondisi yang sama dan memutarnya lagi dan lagi. Mungkin usia saya yang wakru itu yang relatip lebih tua, sebab saya bisa menyadarinya ketika saya duduk di bangku SMA.[Ups..don' t tell me it's because I am feeling blue..]

Tiba-tiba saya melihat seperti sepercik keindahan yang dimiliki masa lalu,rasa yang tulus, tanpa ternoda oleh banyak tuntutan kehidupan kemewahan yang menyesatkan,  tetapi hilang setelah kita menjadi dewasa.  Anak ABG penuh dengan gejolak dan gelora yang cendrung tidak menghitung untung ruginya. Rasa solidaritas berteman yang tinggi, sepenanggungan dan rasa senasib yang cukup tinggi.  Banyak salahnya, kata kita setelah kita menjadi dewasa.
Mungkin betul,dan setelah saya analisa tergantung tujuannya ke arah mana, namun pengalaman saya mengatakan untuk ketulusan dalam bersahabat, ABG itu jauh lebih tulus dibandingkan dengan orang dewasa. Tapi juga mungkin tidak semuanya salah dan jelek. Saya melihat sekelebatan dari film itu, cewek yang setia menunggu cowoknya walaupun ditinggalkan. Cowok yang mencintai seorang cewek dengan tulus walaupun tahu tak bisa bersama. [Ok..ok..I know it's only a movie..I know..]

But, please tell me..tell me your past. Siapa yang rela nungguin pujaan hati di bus stop di tengah hujan deras, walau bisnya sudah lewat? Siapa yang rela berjalan ditengah terik matahari dengan kekasihnya tanpa ada keluhan?
Siapa yang rela nabung uang jajan berbulan-bulan demi membelikan kado buat pacarnya? Siapa yang rela jemput naik turun bis-mikrolet untuk seseorang? Siapa yang rela bikinin semua PR dan nyatetin ringkasan pelajaran demi pacarnya? Siapa yang rela menunggu bertahun-tahun walau yang dicintai jauh di negeri seberang? Dan banyak  pertanyaan siapa lainnya yang dapat kita tanyakan. Jawabnya adalah: Anak ABG.

Then tell me now. Dan Siapa yang berantem gara-gara suami kesal menunggu istri yang shopping kelamaan? Siapa yang bertengkar gara-gara perbedaan definisi "Saving"? Yang satu berpendapat yang namanya saving, yaitu uang yang disimpan di bawah kasur, yang satu berpendapat saving itu seperti yang diumumkan shopping mall, shopping dan save 50% karena ada sale. Siapa yang bertengkar soal pembagian tugas rumah tangga, soal siapa yang ngambil raport anak, dll? Jawabnya: Orang dewasa.

Hal inilah yang mendorong saya membuat tulisan ini dan mengenang kelahiran saya pada 38 tahun yang lalu, saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana, dari keluarga petani miskin yang jauh dari pengaruh majunya kehidupan kota. Setelah saya membaca tulisan orang lain dalam suatu renungan, yang sebagian isinya saya kutipdalam tulisan ini, saya terinspirasi akan keadaan saya ketika saya dalam kondisi seperti tersebut di atas. Saya mengenang kehidupan masa kanak-kanak saya yang penuh dengan serba jangan.... tidak boleh....dan istilah pantang dan tabu karena tradisi yang kuat. Maklumlah, sekarang saya sadari bahwa itulah pemahaman orang tua saya yang hanya mengecap pendidikan hanya hingga kelas 3 Sekolah Dasar... pada masa itu. Sehingga mereka memantulkan perilaku dan peraturan yang pernah mereka alami tanpa dilakukan sensor atau analisis. Tapi saya bangga dengan kedua orang tua saya yang dapat membentuk dan mendidik saya hingga seperti sekarang ini, dan semoga anak-anak saya juga bisa saya didik hingga dewasa.

Saya juga jadi teringat akan kisah cinta kasih yang lain. Saya teringat masa ABG juga dengan cinta yang membara untuk Tuhan.
Ribuan orang berkumpul dalam sebuah acara sayembara sekolah minggu dan remaja sa GKPS  di Pamatang Siantar. Ribuan ABG mendedikasikan hidup bagi Kristus, bersiap pergi dalam pekerjaan Tuhan, sekalipun harus diutus ke Afrika sekalipun, rela menyerahkan segala-galanya bagi Dia.

Siapa yang dengan sukacita lembur malam-malam untuk mendekor gereja buat perayaan Natal? Siapa yang tetap rajin ke gereja, walau jelas-jelas pendetanya atau majelis gerejanya sering mengabaikan, atau tidak pernah menyapanya atau bahkan tidak mengenalnya? Siapa yang tetap bertahan dalam pelayanan walaupun setiap kali ke gereja dimarahi habis-habisan oleh orang tua? Siapa yang tiap malam-pagi menghafal ayat Alkitab dengan semangat walau pun yang menugasinya tidak hafal? Siapa yang menyisihkan 50% uang jajannya untuk penginjilan? Jawabnya: Anak ABG.

Siapa yang bertengkar dalam rapat majelis gara-gara soal sebuah generator diesel? Siapa yang tidak mau lagi ke gereja, karena pendetanya lupa tersenyum dalam satu kebaktian? Siapa yang malas ke gereja karena hujan gerimis? Siapa yang hitung-hitungan dengan Tuhan tentang uang, waktu, dll? Siapa yang menyisihkan 10% gajinya untuk penginjilan? Jawabnya: Orang dewasa.

[Oh come on Sarmulia ! Lain, dong..anak ABG belum mengenal realitas hidup. Orang dewasa dituntut untuk berpikir logis, rasional, dan bertanggung jawab kepda keluarga, Mencari uang, misalnya adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan anak ABG]

Well, may be it's true.
I don’t act have an exact answer. Saya cuma punya secercah harap. Dalam melakukan suatu pekerjaan adalah merupakan aplikasi dari sebuah pola pikir. Sangat jarang sebuah pekerjaan tanpa adanya sebuah pola pikir. Semua yang kita miliki, harta materi, pikiran, persaan dan bahkan waktu semuanya adalah sesungguhnya milikNya yang dititipkan buat kita. Dalam pemahaman saya, semua yang dapat kita lakukan yang menurut banyak orang membantu orang lain, baik materi, pengetahuan dan perasaan adalah cara Tuhan untuk menyampaikan kasih dan berkatNya kepada orang lain atau dunia sekitar melalui kita. Seharusnya kita bahagia dan bangga masih dipercayakan oleh pemilikNya untuk dapat berbuat sesuai dengan kehendakNya, jangan kita angkat menjadi sebuah kesombongan.
Huh..!?

Sound like cinta ABG? Well, but it's true. Mungkin memang seharusnya pijar-pijar cinta ABG tidak pernah mati, walaupun kita menjadi dewasa. Kita menjadi dewasa dalam pemikiran, menjadi bijaksana dalam pertimbangan, tapi mengapa mesti kehilangan passion-nya anak ABG? Bayangkan jikalau pijar-pijar itu tetap membara. Jika passion itu mewarnai hidup kita, dalam pernikahan, dalam hubungan kita dengan Bapa dan dengan sesama. Ya, seharusnya cinta tak pernah menyerah. Usia, tuntutan kerja, dunia orang dewasa tidak perlu memadamkan perasaan cinta. Cinta tak pernah menyerah. Biarkan cinta kita tetap membara bagi Kristus, walau di tengah tuntutan tanggung jawab sebagai orang dewasa. Biarkan cinta kita tetap membara bagi kekasih kita, walau tangan dan wajahnya sudah keriput dan tidak lagi seperti saat kita pertama "deg-deg-an". Biarkan pijar-pijar itu tetap hidup dalam hati dan perasaan kita.

Bukankah perasaan cinta kasih itu adalah anugerah….. yang dititipkan atau  diberikan oleh pemilikNya kepada mereka yang pantas untuk merasakannya???? Mari kita jawab dalam hati kita dengan jujur dan dalam doa kita, sebab tidak ada seorang pun yang bias memastikan hal itu kecuali  kita dengan Dia yang memiliki kita………………. (S4MT, Minggu 19 Juni 2010……03.50 WIB)

Refleksi Natal 2013



Ada keindahan dalam hal-hal  yang sederhana.

Tadi ada seekor cicak yang sedang kasmaran dan mengejar betinanya, ada daun kuning jatuh dari pohon besar, ada pula segelas air putih yang nikmat sekali
menemaniku sembari aku mengajar di ruangan ini. Dalam kejenuhan menunggu waktu, aku keluar ruangan lalu memandangi pohon mangga yang sedang berbuah di depan kelas ini. Aku iri melihat sepasang cicak yang sedang bercengkrama d asbes atauplafon ruangan, lalu aku menyempatkan diri memandangi taman di depan ruangan ini. Dasar cicak.... gumam ku, seolah mereka mengajak kami untuk mengalami pengalaman mereka.

Ada perbedaan mendasar yang terjadi saat ini jika kita bandingkan dengan keadaan ketika saya anak-anak, sekarang seolah-olah orang sukses jika berpengaruh besar, dapat menguasai orang lain, menjajah orang lain dan sebagainya. Banyak orang haus akan kekuasaan, kekayaan dan ketenaran, apa pun cara dan metode yang harus mereka tempuh. Kebanyakan kita hanya puas pada kesuksesan besar, keberhasilan yang hingar bingar, keuntungan yang berlimpah. Tapi pernahkah kita menikmati keindahan pada hal-hal  yang sederhana, yang terjadi di sekeliling kita. Seperti hal yang terjadi pada pengamatan saya tadi. Ada banyak orang menghabiskan dana mereka untuk menonton film percintaan yang sebenarnya dibalut oleh sejuta dusta. Bukankah film yang ditayangkan di bioskop itu adalah suatu hal yang penuh kebohongan, penuh rekayasa dan kepalsuan yang diatur oleh mereka yang disebut sutradara? Tapi…...dengan sadar kita bayar kebohongan itu dengan mahal. Mungkin hal ini menjadi sebuah pergumulan, dan ketololan saya menuliskannya.....
Lalu saya mau keluar dari pola pikir itu...........
Enaknya bakso dan mie sop tempat SMA kita dulu, murah, gurih, nikmat, dan penuh keceriaan. Makanan ter enak adalah makanan dekat sekolah kita dulu, terutama bakso, dan juga, ada nostalgia disana.
Ketika kita sadari....masa SMP, SMA yang begitu berkesan bagi kehidupan. Pada masa ini kita mulai menemukan perasaan yang memisahkan kita dari mereka yang kita kasihi. Kita sudah mulai terbatas dengan orang tua kita, dengan saudara beda jenis kelamin kita oleh karena aturan adat yang mengikat kita. Secara sembunyi-sembunyi....kita semakin dekat dengan lawan jenis kita yang berasal dari keluarga lain. Bahkan kadang, mereka yang justru belum pernah kita kenal, tapi hanya dipertemukan oleh keinginan bersama, hoby, tabiat bahkan perhatian.

Indahnya matahari pagi, sedapnya bau tanah yang terguyur hujan, indahnya tawa para pedagang asongan. Lucunya anak-anak  kecil di kebon binatang, walaupun bau tahi gajah menyenggrang hidung. Gembiranya pembantu yang mau pulang lebaran ketika kita beri baju bekas kita. Adakah hal-hal  kecil ini membuat anda bahagia? Apakah "inner joy" anda bersorak sorai, ataukah sudah tidak ada lagi "keceriaan nurani" ini dalam kehidupan anda?

Kehidupan bukanlah hanya berisi sederetan rekor kesuksesan dan tonggak tonggak sejarah yang kita taklukkan, tetapi juga berisi rentetan kesederhanaan yang indah dan penuh arti.

Minggu  lalu saya ke Tiga Ras dan Tanjung Unta , sebuah tempat wisata di Kabupaten Simalungun yang sudah 20 tahun tidak pernah saya kunjungi di Sumatera Utara, dan kembali banyak kenangan indah ketika SMA dulu... Ada kenangan, ada kegembiraan rakyat, ada kesederhanaan yang menawan, masih. Jalan itu berubah, namun mangga dan tanaman lainnya masih mengingatkan ku akan kenangan Pramuka SMA ku dulu.
Dua minggu lalu, saya ke wisata alam rakyat kaum marginal alias pemandian Karang Sari di pinggiran  kota Pamatang Siantar, dekat kampung  Rambung Merah, dekat lagi ke Batu enam, rumah sahabat ku.
Oh… tempat yang sudah 21 tahun lalu aku kenang kini, aku sadari semua….. PKS sekolah ku yang berkesan dan penuh makna dalam hidup…. Sebab aku bisa jadi Ketua OSIS di sekolahku. Aku ingin mengulang kembali masa itu, aku akan lebih baik …akan lebih bermakna……..
Aku…….dia……..dan semua….. larut dalam sebuah acara Patroli Keamanan Sekolah…….acara itu semua semangat dan berlangsung hikmad…..sakit…..pening…… dan gelapnya malam.  Lilin itu  …panas mengena di kuku kakiku……. Kaki ku….. aduh bulu kakiku tercabut serasa digigit semut. Aku memahami semua itu sekarang ketika sudah 21 tahun berlalu…. Orientasi PKS membuatku lebih dewasa.


Kenikmatan itu murah, dan mudah, kalau kita tahu bagaimana cara menikmati hidup ini. Kita tidak perlu tersandera oleh dogma kehidupan yang harus mendewakan sukses, jabatan, dan materi. Tapi merasakan rasa indah dalam kesederhanaan yang ada. Bukankah dulu aku begitu adanya????

Mungkin telah terjadi tujuh puluh atau  tujuh puluh tiga hal kecil yang indah yang anda lalui hari ini, tetapi mata anda tertutup pada satu proyek yang tidak juga goal itu... Mengapa tidak mencoba mebuka mata kita? Kita bagaikan orang yang berada di dalam bus yang melewati jalan-jalan yang luar biasa indah pemandangannya, tetapi kita tutup gorden penutup jendela bus, sehingga apapun tidak terlihat dari dalam hanya karena takut akan laju bus tersebut. Atau kita bagaikan orang yang berada di dalam pesawat udara yang melewati pemandangan alam  yang luar biasa indah, tetapi kita tutup jendela kaca dengan penutup jendela, sehingga apapun tidak terlihat dari dalam hanya karena takut akan ketinggian  pesawat tersebut
Kesedihan dan kegagalan pun merupakan sebagian dari perjalanan kehidupan yang dapat kita imani, dan amini. Biarkan kesedihan itu hinggap sebentar di hati, tapi jangan biarkan ia berlama lama dan bahkan buat sangkar disana. Kembalilah melihat keindahan dan kenikmatan kecil yang dapat kita  syukuri.

Rasakan apapun yang kita  lalui, karena hidup ini cuma perjalanan saja. Dan bagaimana kita memilih cara kita memandang hidup ini, adalah hak kita sendiri. Cobalah menikmati kesederhanaan keindahan itu dan menjalani dengan penuh rasa. Nikmati kehidupan ini. Jadilalah aku diriku sandiri, melayani demi namaNya dan kemuliaanNya…….. Syaloom.

Inspirasi ketika aku mengingat 20 bahkan 21 tahun yang lalu…… masa SMA ku yang cemerlang….. Guruku yang baik dan tegas kepadaku, Sehingga aku jadi seperti sekarang ini…
Ku Tulis….di Ruang Belajar Jl.Setia Budi No,75 Pondok Surya Medan
Rabu, 18 Desesmber 2013...................saat ISOMA.

2013-12-11

JANGAN BERHARAP TERLALU BANYAK



Pikirkan kembali semua kenangan favorit Anda selama masa Natal. Apakah yang benar-benar bertahan setelah sekian lama?

Mungkin bukan hadiah yang Anda terima. Saya kira Anda tidak bisa mengingat hadiah yang Anda terima pada umur delapan tahun. Bahkan, saya curiga Anda tidak bisa mengingat dengan jelas lebih dari selusin hadiah yang Anda terima sepanjang masa kanak-kanak Anda. Cobalah menulis hadiah apa saja yang Anda terima tahun lalu! Namun, hal utama pada Natal bukan ditemukan dalam saling memberi hadiah.

Mungkin bukan dalam acara yang di dalamnya Anda berpartisipasi walaupun pengalaman seperti itu mungkin lebih mudah dan jelas untuk dikenang. Keindahan, arti, dan perasaan dari saat-saat istimewa sering kali memudar dengan sangat cepat. Sering kali, kita hanya ingat ke mana kita pergi atau apa yang kita lakukan -- bukan rincian pengalaman itu. Sukar untuk mempertahankan kepekatan perasaan yang pernah dirasakan. Bahkan, reuni keluarga cenderung menjadi samar di dalam kenangan. Bisakah Anda mengingat semua wajah yang Anda temui pada pesta Natal tahun lalu?

Bahkan, mungkin bukan saat-saat hening yang Anda habiskan dalam perenungan. Pengalaman itu dan ilham yang Anda dapatkan sering kali cenderung terjalin sendiri ke dalam keseluruhan kehidupan kita sedemikian rupa sehingga pengalaman itu sendiri sukar dibedakan atau dipisahkan.

Jadi, apa yang tersimpan sangat dalam di dalam kenangan kita sampai tidak bisa dihapuskan oleh waktu?

Saya yakin hubungan antarmanusia dan Tuhan adalah pusat Natal.

1. Itu adalah alasan Tuhan mengirim Putra-Nya sebagai bayi manusia -- supaya kita mempunyai hubungan dengan-Nya.

2. Itu adalah alasan mengapa kita memberi hadiah -- untuk membangun hubungan.

3. Itu adalah alasan mengapa kita merencanakan pesta Natal dan reuni -- untuk memupuk hubungan dan memberi kita kesempatan untuk berbagi saat-saat bahagia dengan orang-orang yang kita sayangi.

Mungkin, kekecewaan yang kita rasakan berasal dari prioritas yang salah. Kita mencari kepuasan dan kebahagiaan pada hadiah, dekorasi, atau pesta, ketika sebenarnya hanyalah hubungan antarmanusia dan Tuhan yang mempunyai kemampuan untuk benar-benar memuaskan dan memperkaya.

Jangan berharap Natal dengan sendirinya memberi apa yang tidak bisa diberikannya. Berharaplah untuk bisa mengulurkan tangan dengan kasih kepada orang lain. Dan, menerima dengan tangan terbuka uluran kasih yang diarahkan pada Anda, termasuk uluran tangan kasih dari Bapa surgawi sendiri.

Ketika semua tamu sudah pulang, kertas kado sudah dibuang, catatan harian sudah disimpan di laci, hiasan dibongkar untuk tahun depan, satu hal tetap ada: Allah memberi kita Anak-Nya -- 2000 tahun yang lalu, dan sekali lagi setiap tahun -- dan hanya hubungan kita dengan-Nya yang benar-benar berarti.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli buku: 52 Simple Ways to Make Christmas Special
Judul buku terjemahan: 52 Cara Sederhana Membuat Natal Menjadi Istimewa
Penulis: Jan Dargatz
Penerjemah: Esther S. Mandjani
Penerbit: Inter Aksara, Batam 1999
Halaman: 171 -- 173

KESEDERHANAAN KINI KIAN SIRNA


Kesederhanaan itu awal kedamaian. Kegemerlapan adalah awal perseteruan. Jauh dari hiruk-pikuk gemerlap kemewahan, kesederhanaan mengawali kedamaian dengan keheningan, kesempatan nan luas untuk merenung, dan doa yang penuh kesadaran dan akal budi secara optimal. Keheningan untuk merenung itu sedemikian penting untuk memperluas kedamaian dan perdamaian. Seperti digagas Johan Galtung, perdamaian akan terwujud jika manusia memadukan hati dan pikirannya untuk berdialog dengan sesamanya. Namun, pemaduan hati dan pikiran, bahkan dialog itu, memerlukan keheningan.

Karena itu, resapan kesederhanaan itu menyehatkan jiwa, menumbuhkembangkan kearifan, merebakkan kejujuran, bahkan mengoptimalkan kinerja, menggiatkan kreativitas serta kemampuan inovatif. Kinerja yang baik dan kreativitas inovasi nan giat itu selalu terhampar di tengah permadani kejujuran dan kearifan atau kebijaksanaan. Mereka tidak akan merangsang iri hati, tidak akan menggelitik nafsu memiliki nan berlebihan, dan tidak akan menggelisahkan. Justru mereka akan mendamaikan. Mengajak orang kepada kebenaran.

Namun, kota-kota dan keluarga-keluarga di kota kini makin gemerlap, kian tidak sederhana. Kesederhanaan kini kian sirna. Semua serba dipoles demi konsumsi yang makin menggebu. Anak-anak dan remaja pun menjadi sasaran mekanisme-mekanisme promosi konsumsi yang digdaya, otoritatif, dan kuat daya pengaruhnya. Orang-orang bersaing, berlomba, secara tidak sepenuhnya sadar, bukan untuk meraih kedamaian melainkan untuk konsumsi diri sendiri. Konsumsi makanan, peranti, aksesori, dan segala kemewahan lain justru menjadi tanda keberadaan yang terakui terhormat, membanggakan. Tanpa konsumsi yang diupayakan semenjulang mungkin, keberadaan diri seperti terhapus, terpinggirkan, terpojok, bahkan sirna. Lalu, ketika kesederhanaan makin sirna, persaingan kian menggila, bahkan sampai tingkat sedemikian irasional. Tak pelak perseteruan pun makin meninggi. Ujungnya, kedamaian kian lepas jauh dari kehidupan insani, kedamaian hanya menjadi mimpi di siang bolong, utopia, atau semacam cita-cita yang banyak diucapkan, tetapi tidak pernah terwujud nyata. Sebegitu tragiskah nasib manusia? Tidak, terutama jika manusia meraih kembali kesederhanaan sebagai nilai yang niscaya dijunjung tinggi dan diwujudnyatakan di bumi.

Yesus lahir dalam kesederhanaan nan asali, amat jauh dari kegemerlapan yang mencolok mata. Kelahiran-Nya dalam perjalanan, mengisyaratkan tanda penting kesederhanaan yang jauh dari keruwetan rasionalisasi manusia yang serba gelisah. Palungan dan lampin pun menandai kesederhanaan yang mendalam.

Gembala-gembala di padang, yang mendapatkan warta kelahiran Yesus dari malaikat pun menandai kesederhanaan yang bermakna. "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus lampin dan terbaring di dalam palungan." (Lukas 2:11-12) Namun, semua kesederhanaan itu sungguh akan mengawali kedamaian: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:14)

Lantas, bisakah kita kini membawa kembali kesederhanaan asali yang telah kian sirna itu? Keruwetan rasionalisasi manusia telah menjebak kehidupan insani dalam nafsu menjulang untuk menang sendiri, berkuasa sendiri, kaya sendiri, menonjol sendiri, hidup sendiri, hebat sendiri, mau-maunya sendiri. Bisa jadi, semua nafsu menjulang itu sedemikian digdaya, sampai-sampai menggiring manusia merayakan Natal hanya untuk menonjol sendiri, menang sendiri, hebat sendiri, kaya sendiri berkuasa sendiri, mau-maunya sendiri. Lalu, Natal dirayakan dengan gemerlap yang sesungguhnya sia-sia belaka. Atau, memang kita sudah tidak lagi peduli pada nilai dan makna? Atau, kita sudah tidak berkuasa lagi menegakkan kesadaran rasional untuk mengontrol daya-daya digdaya yang menggairahkan impuls-impuls untuk menjadi konsumtif dan begitu egosentris?

Sesungguhnya, kesederhanaan Natal mengingatkan kita untuk kembali waras dan rasional sadar, dalam keheningan refleksi dan aksi.

Sumber asli:
Judul majalah: Cahaya Buana, Edisi 92/2002
Penulis: Dr. Limas Sutanto
Penerbit: Komisi Literatur GKT III Malang
Halaman: 3 -- 4 dan 36

PERENCANAAN



Ini bukanlah mengenai apakah kita akan membuat rencana atau tidak. Tidak merencanakan adalah sebuah rencana di dalam rencana itu sendiri, karena perencanaan pada dasarnya tidak lebih dari upaya untuk menentukan sebelumnya apa yang akan atau tidak akan kita lakukan pada menit, jam, hari, bulan, atau tahun-tahun berikutnya. Bagi pemimpin Kristen, perencanaan mempertanyakan, apakah kita akan memengaruhi masa depan secara acak atau dengan tujuan. Karena, kita pasti akan memengaruhinya. Kita memiliki tanggung jawab untuk menentukan akan menjadi apa kita seharusnya atau apa yang seharusnya kita lakukan, dan karena itu haruslah kita merencanakan.

Perencanaan Memiliki Catatan Riwayat yang Buruk

Dalam bukunya yang sangat menarik, "The Human Side of Planning" (diterbitkan oleh Macmillan, 1969), David Ewing menyatakan bahwa pada umumnya, perencanaan memiliki catatan riwayat yang buruk. Dia benar. Ewing berpendapat bahwa kesulitan utama adalah kegagalan dari para perencana untuk mengingat dan memercayai orang-orang untuk siapa mereka membuat rencana. Tetapi, ada sisi yang lainnya. Banyak orang memiliki pemahaman tentang perencanaan yang sempit dan terbatas. Mereka membayangkan rencana sebagai dua tembok tinggi di mana mereka harus berjalan di antaranya. Beberapa orang Kristen memandang bahwa keputusan yang telah ditentukan sebagai tindakan kesombongan dan merupakan penghinaan terhadap Allah.

Perencanaan Dimulai dengan Tujuan

Perencanaan harus didasarkan pada tujuan yang dapat diukur dan dapat dicapai.

Ada dikatakan, "Jika Anda tidak peduli ke mana tujuan Anda, semua jalan akan membawa Anda ke sana." Tidaklah selalu mudah untuk mendefinisikan dengan jelas mau menjadi apa kita atau apa yang ingin kita lakukan, tetapi kegagalan dari sebagian banyak rencana terletak pada dimulainya dari tujuan yang tidak jelas. Komunikasi merupakan hal yang paling sulit, dan jika tujuan kita tidak jelas dan tidak bisa disampaikan, tujuan itu tidak akan menjadi rencana yang jelas dan dapat dikomunikasikan.

Perencanaan adalah Berusaha untuk Menulis Sejarah Masa Depan

Manusia adalah makhluk yang berorientasi pada masa depan. Ia berencana atas dasar apa yang telah dirasakan di masa lalu, namun ia mencoba untuk memproyeksikan pemahaman ini ke masa depan. Kecuali untuk proyek yang paling sederhana dan terdekat, sangat tidak mungkin bahwa prediksi kita tentang masa depan akan 100 persen akurat. Pepatah lama yang berbunyi "Jika sesuatu bisa salah, mungkin itu akan salah" adalah cara lain untuk mengatakan bahwa terdapat begitu banyak kemungkinan bahwa sesuatu selain dari apa yang kita duga dan harapkan, akan terjadi, bahwa kemungkinan hal-hal terjadi sesuai dengan cara kita, sangatlah kecil.

Dari sudut pandang Kristen, sebagian besar hidup adalah kegagalan! "Hampir menyelesaikan sesuatu sama dengan tidak menyelesaikannya sama sekali" 99 persennya adalah dosa (kegagalan). Namun, kita telah belajar bahwa kita hidup di dunia yang tidak sempurna. Yang tak diharapkan dan tak terduga terus membuat kita kehilangan keseimbangan. Perencanaan berupaya untuk menghapus kabut dari jendela masa depan dan mengurangi jumlah dan dampak dari hal-hal yang mengejutkan.

Karena itu, perencanaan adalah upaya untuk berpindah dari "masa sekarang" ke "masa depan", untuk mengubah segala sesuatu dari "apa yang ada sekarang" ke "hal-hal yang seharusnya".

Perencanaan adalah Sebuah Panah

Kalau manusia tidak bisa memastikan masa depan, mengapa berencana? Pada dasarnya, itu adalah untuk meningkatkan kemungkinan bahwa apa yang kita yakini harus terjadi, akan benar-benar terjadi. Tujuan yang telah terpancang di benak kita di masa depan: "untuk mencapai api menara pengintai di atas gunung itu besok siang", "untuk menyediakan dana yang cukup sehingga anak-anak kita bisa kuliah", "untuk memulai pelayanan baru di daerah yang didiami oleh golongan minoritas", "untuk menerapkan sebuah program pelatihan baru bagi organisasi kita". Sebutkan saja! Titik panah perencanaan ibaratnya menyentuh tujuan. Langkah-langkah yang perlu dicapai meregang dari belakang dan mengikuti anak panah ke masa kini untuk membuat sebuah "rencana".

Perencanaan adalah Sebuah Proses

Jika rencana dianggap sebagai hal yang tetap dan tidak berubah, kemungkinan besar keduanya akan gagal. Perencanaan adalah suatu proses. Langkah yang diperlukan direncanakan, menunjuk ke arah tujuan masa depan, tetapi di saat setiap langkah besar diambil, evaluasi ulang, atau umpan balik, merupakan proses yang kita lakukan, pertama adalah menguji kembali masa depan di setiap langkah dan kedua adalah mengukur tingkat kemajuan kita. Jika kita telah menetapkan tujuan untuk memiliki seratus anggota baru di gereja selama dua belas bulan ke depan, sebaiknya kita tidak menunggu sampai bulan kesebelas untuk melihat bagaimana kita melakukannya. Jika kita berencana untuk mengemudi 1.000 mil di wilayah asing, yang terbaik adalah untuk melihat peta jalan sekali-sekali dan mengukur kemajuan. Jika kita merencanakan untuk melatih kelompok untuk sebuah tugas baru dan menempatkan mereka untuk bekerja dalam enam bulan, pos pemeriksaan di sepanjang jalan akan dibutuhkan.

Namun, berulang kali kita gagal untuk mengevaluasi kemajuan. Dan, kadang-kadang, kita bahkan membuat sebuah program evaluasi dan kemudian gagal untuk menggunakannya. Mengapa? Sering kali, itu dikarenakan pengukuran yang mungkin memakan energi sebanyak energi yang dibutuhkan untuk program itu sendiri. Di lain waktu, kita begitu sibuk dengan apa yang kita lakukan sehingga kita lupa (atau tidak mau) untuk bertanya, "Bagaimana keadaan kita?"

Perencanaan Membutuhkan Waktu

Tetapi, setiap menit berharga. Namun, kebanyakan dari kita tidak akan mengambil waktu, kecuali kita secara sadar menyisihkannya. Membuat daftar hal-hal yang harus dikerjakan setiap hari harus menjadi kebiasaan rutin. Membuat tinjauan berdasarkan bulanan, kuartal, dan tahunan pada kalender kita akan membangun proses tersebut menjadi "pekerjaan" rutin yang perlu kita lakukan setiap hari.

Dan, karena perencanaan memerlukan waktu, itu harus dimulai sedini mungkin. Sebagai contoh, di gereja jangan menunggu sampai bulan Oktober untuk mulai merencanakan untuk tahun depan! Proses ini harus dimulai paling lambat di bulan April atau Mei sehingga sebanyak mungkin orang dapat dibawa masuk, dan supaya Anda tidak tergesa-gesa ke masa depan.

Karena itu, proses evaluasi harusnya hanya menjadi bagian dari perencanaan kita pada saat mencapai langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Seseorang harus bertanggung jawab untuk pengukuran, biasanya bukan orang yang bertanggung jawab untuk pencapaian.

Perencanaan adalah Pribadi dan Juga Bersama-Sama

Jangan menjadi tersesat untuk percaya bahwa perencanaan untuk besok hanya berguna bagi kelompok. Penetapan tujuan dan perencanaan harus menjadi gaya hidup pribadi jika ingin benar-benar menjadi efektif. Ada hubungan langsung antara keefektifan seseorang dalam kehidupan pribadinya dan keefektifannya dalam kehidupan organisasinya.

Menerapkan proses perencanaan pada hubungan keluarga dan interpersonal akan mempertajam pemahaman keseluruhan seseorang, di mana dia cocok dan bagaimana ia berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Perencanaan adalah Orang-Orang

Atau, seharusnya begitu! Untuk kembali ke pengamatan Ewing, untuk menghilangkan orang-orang dari persamaan perencanaan berarti mencari bencana. Setiap rencana harus disusun dan dibuat oleh orang yang melakukan pekerjaan itu. Misalnya, tugas dari komite perencanaan seharusnya tidak merencanakan untuk orang lain, melainkan untuk memberi informasi yang mereka butuhkan, yang menjadi dasar rencana mereka ("Akan menjadi seperti apa masyarakat kita dalam sepuluh tahun?"), dan untuk memberikan pelatihan, nasihat, dan koordinasi dalam perencanaan.

Perencanaan Mengomunikasikan Maksud Kita

Seiring dengan populasi dunia yang bertumbuh dan cara kita berkomunikasi satu sama lain yang semakin canggih, peluang untuk bekerja sama pun tumbuh semakin meningkat. Di dunia Barat, jumlah peran berbeda yang kita lakukan sebagai individu (ayah, suami, teman, rohaniwan, anggota klub, sopir, dll.) dan sebagai anggota organisasi (pelayanan, perawatan karyawan, tanggung jawab sosial, batasan hukum, dll.) tumbuh pada tingkat yang fantastis. Jumlah "persimpangan" dengan rencana orang lain pun bertumbuh menyesuaikan. Seolah-olah dunia telah menjadi benar-benar berlapis dengan jalan-jalan, jalan raya, dan jalan raya untuk lalu lintas kendaraan cepat, masing-masing dari mereka mewakili rencana seseorang (atau beberapa organisasi). Jika kita tidak jelas dalam menentukan mau ke mana kita pergi dan bagaimana kita (saat ini) merencanakan untuk sampai ke sana, kita akan menemukan diri kita terus-menerus bertabrakan dengan rencana orang lain.

Dalam sebuah gereja lokal, mungkin kegagalan pemimpin paduan suara untuk mengomunikasikan rencananya tentang festival besar anak-anak pada suatu waktu di sekolah minggu adalah mengharapkan keterlibatan anak-anak yang sama dalam proyek yang baru. Dalam organisasi yang lebih besar, "tabrakan" dapat terjadi karena satu departemen tidak memadai dalam menyampaikan maksudnya untuk menggunakan ruang, waktu, atau tenaga kerja. Dalam konteks yang lebih besar, berulang kali, satu organisasi bergerak ke depan dengan rencana tanpa mengetahui tujuan dari organisasi lain atau memberitahukan rencana mereka sendiri. Hasilnya, tidak hanya tumpang tindih dan duplikasi, tetapi kebingungan besar di antara organisasi-organisasi yang berbeda, yang sedang berusaha untuk mereka layani.

Dengan memberitahukan tujuan kita dan dengan jelas menunjukkan langkah-langkah yang saat ini kita rencanakan untuk dicapai, kita membangun titik persimpangan dengan orang lain yang juga membuat rencana baru dan sedang mengerjakan rencana yang lama.

Langkah-Langkah dalam Perencanaan Merupakan Subtujuan

Setelah semua pendekatan alternatif dianalisis, disisihkan, dan rencana akhir ditentukan, penting untuk diingat bahwa setiap langkah dari rencana sebenarnya adalah tujuan dalam dirinya sendiri. Setiap langkah, oleh karena itu, harus memiliki karakteristik yang sama dengan tujuan akhir proyek: harus dapat dicapai dan terukur. Hal ini juga harus memiliki tanggal dan nama-nama orang yang bertanggung jawab. Terlepas dari apa metode perencanaan yang digunakan (dan ada banyak), kegagalan untuk menetapkan tanggal dan individu yang bertanggung jawab untuk setiap langkah dari rencana akan mengurangi probabilitas keberhasilan.

"Gagal untuk merencanakan, berarti merencanakan untuk gagal." Begitu sederhana. (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dan disunting dari:
Judul buku: The Art of Management for Christian Leaders
Judul bab: Planning -- Part One
Penulis: Ted W. Engstrom & Edward R. Dayton
Penerbit: Word Books, Waco. 1976
Halaman: 45 -- 51


Kita lebih sering gagal karena memecahkan masalah yang salah daripada menemukan solusi yang salah terhadap masalah yang tepat. (Russel L. Ackoff)


 APAKAH ANDA BERSEDIA MENYESUAIKAN RENCANA JANGKA PANJANG ANDA KETIKA ALLAH MENGUBAH KEADAAN?

Pemimpin-pemimpin Kristen yang efektif membuat rencana jangka panjang dan memberi Allah ruang untuk secara aktif mengarahkan atau mengubah rencana-rencana tersebut. (Baca Roma 15:22-29)

Dalam ayat tersebut, Rasul Paulus sedang dalam perjalanan mengambil persembahan kasih dari gereja-gereja di Makedonia untuk gereja di Yerusalem yang sedang mengalami masa-masa sulit. Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Paulus menulis surat kepada orang-orang Kristen di Roma, yang membahas beberapa rencana jangka panjang untuk mengunjungi gereja mereka dalam perjalanannya mengabarkan Injil ke Spanyol.

Rencana jangka panjang umumnya didasarkan pada realitas yang ada sekarang. Banyak elemen dalam kehidupan Paulus bersifat pasti dan merupakan dasar yang baik untuk membuat rencana jangka panjang. Filipi 1:21-24 mengatakan bahwa Paulus tidak mempertanyakan akhir dari masa depannya. Paulus juga tahu bahwa ia bertugas untuk "memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi" (Galatia 1:15-16). Ia tahu bahwa ia berusaha menjangkau daerah-daerah di mana Kristus belum dikenal (Roma 15:17-22). Dan, Paulus tahu bahwa ia harus menyesuaikan pesannya dalam tiap situasi tertentu, sesuai dengan 1 Korintus 9:22.

Meskipun rencana Paulus untuk pergi ke Roma dibangun di atas dasar bagian kehidupan Paulus yang sudah pasti, keluwesan diperlukan karena ia mungkin tidak dapat memperkirakan proses yang digunakan Allah untuk menempatkannya ke Roma. Paulus adalah contoh yang baik dari seorang pemimpin yang efektif, yang membuat rencana jangka panjang untuk masa depan yang belum pasti sambil mengupayakan sebuah strategi yang proaktif untuk menjadi efektif dalam misinya setiap hari.

Pemimpin yang baik membuat rencana jangka panjang dan memiliki sebuah strategi untuk mewujudkan semua rencana itu. Pemimpin Kristen yang menghormati Allah menyimpan rencana-rencana yang fleksibel tersebut untuk berbagai perubahan situasi yang dimasukkan Allah ke dalam aktivitas harian mereka.

Amsal 4:25-27: "Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (t/N. Risanti)