From the aspect of earthly approach :
Some treatment perforced and unjust in life ( Dari sudut
pandang duniawi : Beberapa perlakuan terpaksa dan tidak adil di dalam hidup.)
1. Semenjak menikah, Porman dan Mehas langsung
dibebani secara finansial oleh pihak keluarga, baik keluarga pihak laki-laki
maupun keluarga pihak perempuan. Dalam ke sehariannya, mereka harus menyediakan
makan untuk 8 orang, 3 dari pihak keluarga Porman dan 3 dari pihak keluarga
Mehas. Padahal Porman dan Mehas hanya bekerja sebagai karyawan lepas di sebuah perusaahan
kecil milik keluarga keturunan Cina. Dalam kesehariannya Porman dan Mehas
selalu khawatir, cemas dan takut akan bayangan PHK. Sementara para penumpang
hidup ini seperti tidak mau mengerti akan situasi. Mereka hanya bisa menuntut
dan menggantungkan hidupnya kepada keluarga ini tanpa mau mengerti dan memahami
persoalan ekonomi yang ada. Bahkan ada diantara mereka yang sudah selesai
pendidikannya, tapi seolah-olah menggantungkan diri itu lebih ia nikmati
ketimbang berjuang mencari hidupnya sendiri. Dalam kesehariannya Porman
berpikir dan merenung sehingga ia terkesan akan khotbah yang pernah ia dengar.
Apa boleh buat, ia menuruti permintaan/harapan keluarga mereka. Bagaimana
perasaan Porman? Marah? Menyesal?;Tidak katanya, Buat apa? Itu tidak akan menyelesaikan
persoalan. Dan hal ini tidak akan dapat merubah suatu kejadian ke arah yang
lebih baik. Malah saya harus bersyukur, karena saya dapat membelanjai bukan
dibelanjai. Bukankah kita ini menjadi saluran berkat Tuhan bagi orang lain? Nah kalau kita ini menjadi
saluran berkat, lalu mengapa harus memikirkan hal yang tidak perlu?
Berbahagialah kita masih dipercayakan Allah sebagai saluran berkatnya.
Berbahagialah kita ketika kita masih dipakai oleh Tuhan sebagai saluran
berkatNya kepada orang lain dan keluarga.
2. Suatu malam di sebuah perempatan, Pak Porman
dirampok. Ia tengah menyetir mobil sendirian pulang kantor. Jalan macet. Dua
orang pemuda tanggung mendatanginya. Mereka mengancam dengan kapak dan meminta
paksa uang dalam dompetnya. Apa boleh buat, ia menuruti permintaan mereka.
Bagaimana perasaan Pak Porman ? Marah? Menyesal?;Tidak katanya, Buat apa? Itu
tidak akan mengembalikan uang yang hilang. Malah syukurnya cuma uang di dompet
yang mereka ambil, bukan nyawa saya. Dan syukurnya pula, saya yang dirampok
bukan yang merampok. Semoga saja uang itu bisa berguna buat mereka
3. Hal serupa dialami oleh Paulus. Ketika menulis
surat Filipi, ia tengah dipenjara karena memberitakan Injil. Jauh dari marah
dan menyesali kondisi yang ia alami, Paulus justru melihat pemenjaraan dirinya
ada hikmahnya. Yakni, menyebabkan kemajuan Injil (ayat 12); dan membuat
kebanyakan saudara seimannya semakin berani memberitakan firman Tuhan (ayat
14). Karenanya, ia pun tidak kehilangan sukacita dan rasa syukurnya. Di bagian
akhir suratnya, ia menegaskan kembali pengharapan dan keyakinan imannya (Filipi
4:4-9). Begitulah, di balik setiap kejadian atau keadaan yang kita alami,
termasuk yang tidak menyenangkan sekalipun, selalu ada sisi-sisi baiknya.
Kuncinya, kita tidak terjebak dalam kemarahan dan kekecewaan yang
berkepanjangan. Menjalani apa pun yang terjadi dengan penyerahan diri kepada
Tuhan; juga dengan keyakinan bahwa di balik semua itu pasti ada hikmahnya.
Mungkin hal itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya, kita tidak akan
kehilangan sukacita dan rasa syukur. (Diterjemahkan dari : APPROACH FROM SIDE - GOOD SIDE dan di modifikasi
oleh S4MT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar