Perempuan sebagai isteri yang dibentuk Allah dari tulang rusuk
laki-laki semata-mata dilakukan karena kebutuhan laki-laki. Oleh
sebab itu saat Allah selesai menciptakan perempuan itu sebagai penolong Adam,
Allah kemudian membawanya kepada Adam. Arti kata “dibawa” disini dapat saya tafsirkan dengan makna ”bernilai lulus atau sah”,dengan campur tanganNya. Allah
tidak mengkondisikan atau memaksa Adam untuk menerima secara pasif. Tetapi Adam
diberi hak untuk menilai calon isterinya secara jujur dan terbuka, agar
dikemudian hari Adam tidak menyesal atau menyalahkan Allah karena pasangannya
tersebut. Jika saya terjemahkan pada kondisi sekarang, ini dapat saya artikan “
saat berpacaran” . Kita perlu jujur saat berpacaran dan mempertanyakan
kepada Allah, apakah ini merupakan perempuan yang Ia bawa untuk kita. Setelah
mengerti dan meyakini bahwa itu adalah pemberian Allah buat kita, kemudian
secara jujur dan terbuka kita dapat melakukan seperti Adam yang memberikan
pengakuan terhadap pasangannya/istrinya dengan ungkapan: “…inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku…Kej.2:23.
Inilah pengakuan jujur dan terbuka dari pernikahan pertama yang direncanakan
dalam kehendak Allah, dimana Allah sendiri yang menjadi saksi mereka dan alam semesta di Taman Eden. Karena itu prinsip
pernikahan yang menjadi satu daging hanya mungkin dapat terjadi ketika suami
sungguh-sungguh secara tulus, jujur dan terbuka mau memberikan pengakuan bahwa
posisinya sejajar dengan isterinya. Pengakuan itu bukan hanya diucapkan di
gereja dalam upacara pernikahan, tetapi juga di depan lingkungan keluarganya
sendiri, keluarga isterinya, di depan anak-anaknya, dan masyarakat. Bahkan
pengakuan tersebut tidak hanya secara verbal atau ucapan belaka tetapi harus
ditunjukkan lewat keterlibatan isteri dalam menentukan masa depan keluarga
mereka berdua. Karena itu seorang suami yang memberikan pengakuan yang jujur
dan terbuka terhadap isterinya akan melibatkan secara utuh keberedaan
isterinya, dan menghormati peran isterinya dalam hal sekecil apapun dalam
keluarga mereka. Misalnya sebagaimana suami telah letih sehari penuh bekerja di
kantor atau di luar rumah maka ketika tiba di rumah ia juga harus menghargai
jerih lelah isterinya yang telah mengurus anak-anak di rumah, mempersiapkan
makanan, merapihkan rumah. Dalam konteks ini perlu dipahami bahwa konsep
bekerja atau berkarya dalam pengertian Alkitab adalah melakukan sesuatu. Bahkan
Alkitab tidak mengatakan bahwa bekerja atau berkarya baru dianggap bernilai
ketika diukur dengan uang. Sebab dimata Tuhan nilai suatu pekerjaan atau karya
bukanlah soal apa yang dapat kita kerjakan tetapi bagaimana kita mengerjakan
segala sesuatu tersebut. Budaya dan adat istiadat seringkali mengabaikan nilai
pekerjaan isteri di rumah, melahirkan, dan merawat anak. Seringkali pekerjaan
dinilai hanya berdasarkan materi. Suami yang bekerja di kantor mendapatkan
banyak uang, sedangkan isteri yang mengurus rumah tangga
tidak mendapatkan uang sama sekali. Inilah salah satu paradigma yang salah
melihat suatu karya yang dilakukan suami dan isteri. Bukankah di dalam Kartu
Tanda Penduduk dicantumkan salah satu pekerjaan ialah : ibu rumah tangga ? Tapi yang menjadi pertanyaan, jika itu merupakan salah satu pekerjaan mengapa isteri tidak
mendapatkan upah dari hasil pekerjaannya itu? Sebenarnya upah yang diberikan
oleh perusahaan tempat dimana suami bekerja juga sudah memasukkan tunjangan
hidup keluarga . Karena itu gaji yang diterima oleh suami sebenarnya adalah hak
bersama antara suami dan istri. Jika para suami mau jujur dan memahami Alkitab
dengan benar, maka seharusnya kita sadar bahwa sesungguhnya apa yang dikerjakan
oleh istri di rumah sebenarnya lebih berat dengan apa yang dikerjakan suaminya
di kantor. Sebagai bukti dalam hal ini, cobalah para suami satu hari penuh
mengurus semua urusan di rumah mulai dari memasak, mengurus anak-anak,
merapikan rumah dan lain-lain. Setelah itu bandingkan dengan melakukan di
kantor. Mana yang lebih berat dari kedua pekerjaan tersebut? Saya pernah selama
satu minggu ditinggalkan oleh istri karena ada pekerjaan di luar kota. Baru dua jam ditinggalkan
rasanya sudah tidak mampu mengurus rumah dan anak-anak, sehingga saya kemudian
menelpon ibu saya untuk segera datang untuk membantu saya, dan saya telepon
istri saya supaya ketika pekerjaan selesai segera pulang. Kita dapat
membayangkan bagaimana istri harus setiap hari melihat pemandangan yang sama di
dapur dan berhubungan dengan benda yang mati yang tidak dapat diajak
berkomunikasi. Sementara kita para suami di luar masih dapat menikmati variasi
dari lingkungan pekerjaan atau pelayanan. Namun demikian bukan berarti apa yang
dikerjakan oleh istri lebih berharga dengan yang dikerjakan suami di kantor.
Yang ingin saya sampaikan ialah, jika suami bekerja di kantor mendapatkan upah
secara materi maka hargailah istri yang seharian bekerja
di rumah namun tidak mendapatkan upah sama sekali karena ia melakukannya
demi rasa cintanya kepada suami dan keluarganya. Istri akan sangat merasa
tersanjung jika sepulangnya dari kantor, suami dapat memberikan perhatian dan
penghargaan yang tulus dan jujur terhadap apa yang dikerjakan istri sepanjang
hari di rumah. Karena itu tidaklah berlebihan jika Alkitab memberikan fungsi
kepada istri sebagai penolong yang sepadan. Secara prinsip pengertian penolong
adalah selalu lebih kuat daripada yang ditolong. Karena itu alangkah fatalnya
para suami jika istrinya sebagai penolong tidak mendapatkan pengakuan dari
suaminya. Padahal dimanapun di dunia ini berlaku prinsip bahwa orang yang lebih
kuat akan cenderung lebih mendapatkan penghargaan. Karena itu setiap suami
haruslah memberikan pengakuan yang tulus, jujur dan terbuka dalam segala hal
kepada isterinya. Misalnya suami harus melibatkan istri dalam pengelolaan
keuangan mereka. Atau suami tidak boleh menggunakan gajinya semena-mena tanpa
sepengatuhuan istrinya. Begitu juga dalam hal yang lain suami harus melibatkan
isterinya dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan pernikahan
mereka. Jika setiap suami memberikan pengakuan kepada istrinya dengan implementasi
yang jelas, maka istri akan rela dan penuh sukacita menghormati suaminya,
bahkan dia dapat menjalankan fungsinya secara optimal sebagai penolong. Pada
umumnya ketidak harmonisan pernikahan tersebut banyak ditimbulkan oleh perilaku
suami yang tidak memberikan pengakuan yang jujur, tulus dan terbuka terhadap
keberadaan istrinya secara konkrit. Hal inilah sebagai awal pemicu bagi
akumulasi persoalan-persoalan yang muncul dalam kehidupan pernikahan Kristen Salah
satu dosa yang terbesar dari banyak kehidupan pernikahan Kristen ialah tidak
adanya atau kurangnya pengakuan terhadap keberadaan istrinya dalam kehidupan
pernikahan. Karena itu tidak heran ketika Adam jatuh ke dalam dosa maka ia
kemudian menyalahkan Tuhan yang memberikan wanita itu sebagai isterinya,
setelah sebelumnya memberikan pengakuan kepada istrinya dengan ungkapan:”
Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” Pemahaman yang benar
tentang ikatan pernikahan kudus tersebut dimana harus lahir dan berpusat kepada
hati yang jujur dan saling mengakui kesetaraan. Dengan pengakuan yang demikian
maka kehidupan pernikahan Kristen akan mengalami suatu proses pertumbuhan
saling mengenal yang sehat.
2013-07-24
Makna Cinta Kasih
Makna
Cinta Kasih
Kenyataan hidup berkata,
Cinta
kasih dan keajaiban memiliki persamaan besar.
Keduanya
memperkaya jiwa dan mencerahkan hati
Membangkitkan semangat, gairah pada jiwa maupun raga
Begitulah
cinta kasih, terlihat dan terasa
ketika
ia terurai menjadi
sebuah perbuatan.
Ukuran
integritas cinta kasih adalah
ketika
ia bersemi dalam hati… terpatri di dada, lalu
terkembang
dalam kata… terpancar pada rona
terurai
dalam perbuatan dan hidup.
Cinta kasih
terasa
kadang kala merupakan sebuah keajaiban.
Namun
tak jarang keajaiban
kadang kala justru hanya sebuah ilusi
“Ketika
kekuatan akan cinta kasih melebihi
kecintaan akan kekuasaan,
Maka
kehidupan nyata
dunia kita pun menemukan kedamaian,
Cinta
kasih adalah
tamu hati kita
yang
kadang kala
datang tanpa undangan,
namun
kepergiannya juga tidak pernah
diharapkan.
Dan
sesungguhnya hati, relung hati yang hampa
Tak jarang akan merasa memiliki cinta kasih
ada
Sesaat ketika
cinta itu telah pergi meninggalkannya
Mengingat
cinta kasih, pautan hati dimasa lalu Terkadang membawa rasa bahagia semu, namun berujung
hanya menambah kita menderita, kepedihan hati, dan perasaan bersalah,
dan akan berhenti hingga kita mampu dan menang berhenti mengingat masa lalu
menjadikannya harta pusaka, warisan pengalaman berharga,
bagi mereka yang memerlukannya,
hingga kita menerima dan menemukan cinta kita sejati dan nyata.
“Ketahuilah,
pahamilah hai hati yang terpaut akan masa lalu
hal-hal
terindah di dunia ini, hal terbaik menurut raga
terkadang tak dapat terlihat dalam
pandangan mata
atau
teraba dengan sentuhan tangan dan indera;
mereka
semuanya
hanya bisa terasakan dengan hati nurani yang tulus.
Jauh dari ketamakan dunia, jauh dari lobanya kemewahan
Jauh dari kesenjangan yang mereka kejar, tampilkan dan
pamerkan
Jauh dari kemolekan polesan para seniman dan gemerlapnya
pesta
Tapi selayaknya, cinta kasih bicara nurani dan asa.
Rasa dan tenggangnya akan mereka yang teraniaya
Oleh kejamnya kota dan fantasinya
Jika
rumput dapat tumbuh melalui semen, batu dan kerabatnya
Cinta kasih
pun
dapat ditemukan pada setiap
saat dalam hidup kita
Kita
tidak dapat memperoleh pikiran yang damai
kecuali
kita dapat berhubungan dengan
Sumber kedamaian
Sumber kedamaian
Dia
yang ada di dalam diri kita.
Damai yang kita miliki dalam diri kita,
cinta kasih milik kita
Kesengsaraan muncul dan menjelma ketika berdusta
dan jika kita mencarinya di luar diri kita,
Sesungguhnya satu dusta melahirkan banyak dusta baru,
Ia akan berkembang sesuai dengan keinginan kita
menutupinya.
Cinta kasih yang melahirkan damai dan bahagia.........
Sesungguhnya kita tidak akan pernah menemukannya.
Kecewa,……
kecewa dan menderita.
Buang
rasa itu, temui sumber bahagia kita,
Selalu
setia dalam janjiNya
Dia
hanya sejauh Doa,
Dia
diam di dalam hati kita,
Asal
saja kita mau menerimaNya.
Bahagia….
Senang dan sentosa bersamaNya.
Selama
di dunia dan ketika di alam baka.
Bukankah kehidupan dunia ini terlalu singkat
Jika dibandingkan dengan kehidupan kelak di sana
Cinta Kasih adalah jembatannya
Yang dapat menyelaraskan keduanya.
Keduanya akan menjadi milik anda dan saya, hanya karena
anugerahNya.
Bojongsari Depok,
25 Juli 2013
St. Sarmulia Sinaga,S.T.,M.T.
2013-07-15
Alat Canggih dan Akibatnya
Suatu hari Minggu, Ny.Rhyiap mamanya Dassya pagi-pagi jam 6 sudah berteriak kesal. Anaknya Dassya telat bangun. "Ayo Dassya, sudah jam 6...cepetan kita masuk gereja jam 7!". Mendengar teriakan Sang Ibu, dengan wajah kuyu Dassya ke kamar mandi. Hanya dalam 15 menit dia siap berangkat. Tapi..... Mamanya terperangah lihat baju anak putrinya yang memang masuk usia pubertas. Minim. Mamanya yang terbilang berkeyakinan fundamentalis dan memegang ketat sopan santun berteriak spontan: "aih baya Dassya, kamu mau ke kolam renang atau ke gereja.. Ganti sana!!!". Dassya dg wajah kesal, masuk kamar dan segera ganti baju yg lebih sopan. Dalam 10 menit selesai, sambil menyambar BlackBerry (BB) -nya Dassya masuk ke mobil. Karena gereja hanya berjarak 10 menit dg mobil, mereka tiba sebelum jam kebaktian. Ny.Rhyiap melihat Dassya tidak membawa Alkitab. Tapi dia biarkan saja, karena pikirnya Alkitab Elektronik toh ada di BBnya Dassya. Mulai kotbah, Dassya awalnya baca Alkitab. Biasanya membaca dengan cara bergantian, Pendeta dulu baru jemaat, demikian seterusnya. Namun setelah itu mata Dassya melirik BBM nya, dan…. wah ada 7 tanda BBM. Dia mulai buka...eh...kemudian ada tanda SMS masuk, krn lampu merah menyala. Kali ini SMSnya 17. Dia penasaran, siapa nih pagi-pagi udah heboh sms-in dia. Rupanya teman-teman SMA-nya yang mau ajak Dassya ulang tahun Thyrgash salah satu cowok yang paling ganteng dan pintar di sekolah mereka. Baru selesai baca sms teman-temannya, ternyata inbox emailnya ada 13....uh...siapa nih... Dassya terus memperhatikan BB-nya. Sementara mamanya melirik sang putri dan bangga, mengira si anak membaca terus ayat bacaan Alkitab. (Sebab jika mamanya melirik, si Dassya langsung ubah ke Bible). Setelah usai baca bbm, sms dan email, kotbahpun selesai. Jadi sepanjang kotbah Dassya hanya memperhatikan BBnya, hatinya jauh dari ibadah dan sama sekali tidak perhatikan kotbah. Sang ibu juga terlalu lugu dan percaya .Semoga pengalaman Ny.Rhyiap tidak menimpa kita. Sarana teknologi komunikasi, apapun itu, sangat baik dan sangat membantu jika digunakan dengan baik dan tepat guna. Namun jika sarana itu membuat kita kehilangan tujuan-tujuan hidup kita, maka itu menjadi bahaya besar. Jangan pula kita menjadi teladan buruk bagi anak-anak dalam menggunakan sarana komunikasi yang makin beragam di rumah kita.
Mari kita ingat : Apa saja yang membuat kita menjadi jauh dari Tuhan itu sudah menjadi BERHALA bagi kita……
Suatu hari Minggu, Ny.Rhyiap mamanya Dassya pagi-pagi jam 6 sudah berteriak kesal. Anaknya Dassya telat bangun. "Ayo Dassya, sudah jam 6...cepetan kita masuk gereja jam 7!". Mendengar teriakan Sang Ibu, dengan wajah kuyu Dassya ke kamar mandi. Hanya dalam 15 menit dia siap berangkat. Tapi..... Mamanya terperangah lihat baju anak putrinya yang memang masuk usia pubertas. Minim. Mamanya yang terbilang berkeyakinan fundamentalis dan memegang ketat sopan santun berteriak spontan: "aih baya Dassya, kamu mau ke kolam renang atau ke gereja.. Ganti sana!!!". Dassya dg wajah kesal, masuk kamar dan segera ganti baju yg lebih sopan. Dalam 10 menit selesai, sambil menyambar BlackBerry (BB) -nya Dassya masuk ke mobil. Karena gereja hanya berjarak 10 menit dg mobil, mereka tiba sebelum jam kebaktian. Ny.Rhyiap melihat Dassya tidak membawa Alkitab. Tapi dia biarkan saja, karena pikirnya Alkitab Elektronik toh ada di BBnya Dassya. Mulai kotbah, Dassya awalnya baca Alkitab. Biasanya membaca dengan cara bergantian, Pendeta dulu baru jemaat, demikian seterusnya. Namun setelah itu mata Dassya melirik BBM nya, dan…. wah ada 7 tanda BBM. Dia mulai buka...eh...kemudian ada tanda SMS masuk, krn lampu merah menyala. Kali ini SMSnya 17. Dia penasaran, siapa nih pagi-pagi udah heboh sms-in dia. Rupanya teman-teman SMA-nya yang mau ajak Dassya ulang tahun Thyrgash salah satu cowok yang paling ganteng dan pintar di sekolah mereka. Baru selesai baca sms teman-temannya, ternyata inbox emailnya ada 13....uh...siapa nih... Dassya terus memperhatikan BB-nya. Sementara mamanya melirik sang putri dan bangga, mengira si anak membaca terus ayat bacaan Alkitab. (Sebab jika mamanya melirik, si Dassya langsung ubah ke Bible). Setelah usai baca bbm, sms dan email, kotbahpun selesai. Jadi sepanjang kotbah Dassya hanya memperhatikan BBnya, hatinya jauh dari ibadah dan sama sekali tidak perhatikan kotbah. Sang ibu juga terlalu lugu dan percaya .Semoga pengalaman Ny.Rhyiap tidak menimpa kita. Sarana teknologi komunikasi, apapun itu, sangat baik dan sangat membantu jika digunakan dengan baik dan tepat guna. Namun jika sarana itu membuat kita kehilangan tujuan-tujuan hidup kita, maka itu menjadi bahaya besar. Jangan pula kita menjadi teladan buruk bagi anak-anak dalam menggunakan sarana komunikasi yang makin beragam di rumah kita.
Mari kita ingat : Apa saja yang membuat kita menjadi jauh dari Tuhan itu sudah menjadi BERHALA bagi kita……
Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Dikisahkan di sebuah desa kecil, ada seorang tukang sepatu. Meskipun kehidupannya sangat sederhana, tetapi dia tampak santai dan bahagia. Hobinya, menyanyi. Mulai dari pagi saat mandi, siang hari waktu bekerja, maupun malam hari, tak henti-hentinya dia menyanyi dengan riang gembira. Sementara, tak jauh dari rumahnya, tinggal seorang tuan tanah yang kaya. Akan tetapi meskipun dia memiliki banyak harta, hidupnya tidak bahagia. Yah, dia selalu merasa ketakutan orang mencuri hartanya. Karena ketakutannya itu, saat malam hari dia sering tidak bisa tertidur lelap. Tiap pagi, saat mendengar nyanyian si tukang sepatu, sang tuan tanah menjadi iri dan sedikit jengkel. “Mengapa tukang sepatu bisa sebahagia itu, sedangkan aku mau tidur pun sulit. Alangkah baiknya kalau tidur bisa seperti makanan dan minuman, bisa dibeli dengan uang, maka aku akan membayar berapapun untuk dapat tidur dengan nyenyak.” Pada suatu hari, tuan tanah mengundang si tukang sepatu ke rumahnya. “Pak, berapa pendapatanmu dalam sebulan?” tanyanya. Tukang sepatu sambil tersenyum menjawab, ”Sebulan? Keseharian saja pendapatanku tidak menentu, kadang ada, kadang tidak. Setiap hari asal bisa makan sesuap nasi saja, aku sudah bersyukur.” Dengan penasaran si tuan tanah lanjut bertanya, ”Lho, bagaimana kamu bisa sebahagia itu?” “Asalkan setiap hari aku bisa makan, aku sudah puas. Aku tidak banyak berpikir, maka aku tidak perlu merasa susah,” jawab tukang sepatu. “Aku sangat iri kepadamu dan menghormatimu. Ini, aku hadiahi satu keping uang emas. Simpanlah baik-baik, mungkin kelak engkau memerlukannya,” kata tuan tanah seraya mengangsurkan uangnya kepada si tukang sepatu. Wah, seumur hidup belum pernah si tukang sepatu melihat uang emas. Bahkan, meskipun sudah bekerja sangat keras, takkan bisa ia menabung uang sebanyak itu. Maka, dia pun sangat berterima kasih, dan dengan gembira pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, ia menyimpan uang itu di tempat yang teraman menurut dirinya. Dan sejak saat itu, keceriaannya mendadak lenyap. Dia tidak pernah menyanyi lagi, selalu merasa ketakutan bila orang akan mencuri uangnya. Dia juga selalu mencurigai orang yang mendekatinya dan berpikir, jangan-jangan orang itu mau mengambil hartanya. Maka, dia pun tidak lagi bisa tidur dengan nyenyak. Setelah beberapa lama, stresnya mulai menjadi-jadi. Keceriaannya yang dulu hilang sama sekali. Akhirnya, karena tidak tahan lagi, dia berlari ke rumah tetangganya, ”Pak, tolong kembalikan nyanyian dan kebahagiaanku. Ambillah kembali uangmu ini.”Setelah mengembalikan uang emas itu, si tukang sepatu pun bisa kembali terlepas dari semua beban. Maka, ia pun kembali bisa menyanyi dengan riang gembira dan tidur lelap di malam hari.
Matius 6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya…….s4mt
Dikisahkan di sebuah desa kecil, ada seorang tukang sepatu. Meskipun kehidupannya sangat sederhana, tetapi dia tampak santai dan bahagia. Hobinya, menyanyi. Mulai dari pagi saat mandi, siang hari waktu bekerja, maupun malam hari, tak henti-hentinya dia menyanyi dengan riang gembira. Sementara, tak jauh dari rumahnya, tinggal seorang tuan tanah yang kaya. Akan tetapi meskipun dia memiliki banyak harta, hidupnya tidak bahagia. Yah, dia selalu merasa ketakutan orang mencuri hartanya. Karena ketakutannya itu, saat malam hari dia sering tidak bisa tertidur lelap. Tiap pagi, saat mendengar nyanyian si tukang sepatu, sang tuan tanah menjadi iri dan sedikit jengkel. “Mengapa tukang sepatu bisa sebahagia itu, sedangkan aku mau tidur pun sulit. Alangkah baiknya kalau tidur bisa seperti makanan dan minuman, bisa dibeli dengan uang, maka aku akan membayar berapapun untuk dapat tidur dengan nyenyak.” Pada suatu hari, tuan tanah mengundang si tukang sepatu ke rumahnya. “Pak, berapa pendapatanmu dalam sebulan?” tanyanya. Tukang sepatu sambil tersenyum menjawab, ”Sebulan? Keseharian saja pendapatanku tidak menentu, kadang ada, kadang tidak. Setiap hari asal bisa makan sesuap nasi saja, aku sudah bersyukur.” Dengan penasaran si tuan tanah lanjut bertanya, ”Lho, bagaimana kamu bisa sebahagia itu?” “Asalkan setiap hari aku bisa makan, aku sudah puas. Aku tidak banyak berpikir, maka aku tidak perlu merasa susah,” jawab tukang sepatu. “Aku sangat iri kepadamu dan menghormatimu. Ini, aku hadiahi satu keping uang emas. Simpanlah baik-baik, mungkin kelak engkau memerlukannya,” kata tuan tanah seraya mengangsurkan uangnya kepada si tukang sepatu. Wah, seumur hidup belum pernah si tukang sepatu melihat uang emas. Bahkan, meskipun sudah bekerja sangat keras, takkan bisa ia menabung uang sebanyak itu. Maka, dia pun sangat berterima kasih, dan dengan gembira pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, ia menyimpan uang itu di tempat yang teraman menurut dirinya. Dan sejak saat itu, keceriaannya mendadak lenyap. Dia tidak pernah menyanyi lagi, selalu merasa ketakutan bila orang akan mencuri uangnya. Dia juga selalu mencurigai orang yang mendekatinya dan berpikir, jangan-jangan orang itu mau mengambil hartanya. Maka, dia pun tidak lagi bisa tidur dengan nyenyak. Setelah beberapa lama, stresnya mulai menjadi-jadi. Keceriaannya yang dulu hilang sama sekali. Akhirnya, karena tidak tahan lagi, dia berlari ke rumah tetangganya, ”Pak, tolong kembalikan nyanyian dan kebahagiaanku. Ambillah kembali uangmu ini.”Setelah mengembalikan uang emas itu, si tukang sepatu pun bisa kembali terlepas dari semua beban. Maka, ia pun kembali bisa menyanyi dengan riang gembira dan tidur lelap di malam hari.
Matius 6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya…….s4mt
BUKAN KALAH DAN MENANG YANG PENTING
Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat. Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24? "Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi". Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan". Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?" Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?" Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu". Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh." Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya.Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya. Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?" Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh". Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?" Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar-benar malu." Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya. Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang. Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti) Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti) Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (suami tidak betah di rumah) Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).
Meraih Sukacita.
Meraih Sukacita.
Karena tekanan ekonomi dan biaya kebutuhan pendidikan anak-anak semakin meningkat,isteriku sering mengeluarkan kata-kata penyesalan. Hal ini sering muncul saat dia mau membayar kebutuhab anak-anak kami yang sedang kuliah.Uang yang saya setor setiap bulan tidak mencukupi. Dia selalu mencatat biaya anak-anak,kemudian dia membandingkan pendapatanku."Pak,gajimu tidak cukup",Saya stress,pusing mengatur gajimu yang kecil..Rasanya aku ingin mati saja. Kalimat- kalimat sepeti itu sering dilontarkan isteriku kepadaku sebagai tanda kekecewaan. Sudahlah ma, doakan saja agar kiriman kita diberkati Tuhan. Begitulah kata-kata jawabanku agar dia tabah menghadapi kenyataan hidup yang semakin sulit ini.
Seringkali aku kesal mendengar cara isteriku berbicara bila ada masalah.Kadang dia mengeluarkan kata kutukan kepada anaknya seperti berikut:"Biarlah mereka mampus semua,pusing aku memikirkan mereka". Emosiku langsung naik dan menyuruhku untuk membentaknya.tetap aku sadar,itu bukanlah jalan keluar yang terbaik.Aku tahan letupan emosiku dengan mengatupkan kedua bibirku,agar tidak keluar sepatah kata dari mulutku.
Aku merenung,apakah sikap begini dapat mengakibatkan stroke,lumpuh mendadak,atau meninggal tiba-tiba?
Aku ingat nasehat yang mengatakan ,jangan simpan marah didalam hati,karena bisa menimbulkan penyakit. Dan kataNya "padamkanlah amarah mu sebelum matahari terbenam", lalu....?..Benarkah demikian?
Dalam permenungan demikian,sering timbul dalam pikiran saya ,apakah isteriku ini menyesal menikah dengan saya yang tidak mampu memenuhi hasratnya dengan materi yang cukup? Atau apakah dia menyesal mempunyai anak-anak yang banyak membutuhkan biaya pendidikan?
Saya juga sering sakit hati atas jawaban-jawabannya yang ketus.Semuanya kupendam dalam hati demi ketuhan rumahtangga.saya tidak mau piring beterbangan menyambut sikapnya yang tidak hormat kepada suami.tetapi berapa lama aku kuat?
Suatu ketika saat saya pulang dari kantor,badanku sudah letih bekerja seharian.Sampai dirumah aku minta disediakan segelas teh manis.Dia malah menjawabku demikian:"Aku bukan pembantumu,buat sendiri saja minumanmu" Aku diam,dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.Aku bertanya dalam hati:"beginikah terus saya alami dalam kehidupan berkeluarga Tuhan? Rumah menjadi tidak nyaman bagiku karena kurang materi? Tidak ada sukacita dan kedamaian. Aku masih bekerja, sikapnya tidak menyenangkan bagiku. Bagaimana bila aku pengangguran? Bisa lebih parah lagi,atau menganggapku sampah.
Suatu hari saya mengajaknya berdiskusi memecahkan masalah yang kami hadapi.
Dia berkata:"Aku ingin mati saja" Pembicaraan langsung terputus seketika,tidak berlanjut.
Aku berdoa kepada Tuhan:"Tuhan,Engkau telah menentukan dia sebagai pasangan hidupku,tetapi saya tidak bersukacita atas perilakunya yang suka emosi dan mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaanku.Tidak ada kedamaian bersama dengan dia.Kalau ada rencana iblis untuk menghancurkan hubungan kami,biarlah rencana itu Tuhan gagalkan dari kami.Saya tahu Tuhan tidak menginginkan perceraian dan kehancuran rumah runahtangga yang telah Engkau persatukan.Berikan kami kekuatan untuk memikul salib keluarga kami.Biarlah kehendakMu yang terjadi. Amin.
Setelah berdoa demikan,saya merasakan ketenangan batin.saya percaya Tuhan pasti ikut campur menyelesaikan persoalan kami.
Waktu itu hari minggu sore, saya melihat isteri saya ketiduran di sofa, saya perhatikan telapak kakinya kotor, lalu saya ambil handuk kecil dan saya celupkan ke air hangat dan memerasnya, lalu saya lap kakinya.Telapak kakinya saya bersihkan dengan handuk basah hingga bersih. Dia diam saja tidak bereaksi,kubiarkan dia tidur lelap. Aku berbenah diri dan ganti pakaian, untuk pergi ikut kebaktian sore di suatu gereja terdekat.
Pada saat saya hendak meninggalkan rumah menuju gereja, dia terbangun dan menyapaku dengan lembut, "papa mau kemana?" Saya mau kegereja ikut kebaktian sore, sahutku. Aku ikut pa..tunggu ya..aku ganti pakaian dulu, pintanya. Aku kaget bercampur gembira..angin sorga menyapanya .terima kasih Tuhan,bisikku dalam hati.
Setelah peristiwa tersebut,kehidupan keluarga kami berobah. Suasana bahagia pada saat menikah dulu kami raih kembali.Kami luput dari perpecahan.
Ada saatnya kita jenuh melihat pasangan kita.karena kesulitan hidup yang kita alami.
Solusinya, kita hanya datang dan mengeluh kepada Tuhan saja. Dia pasti menolong kesulitan kita.Semoga kesaksian ini berguna bagi pasangan yang sedang bermasalah.
Raih kembali sukacita yang hilang yang sudah diberikan Tuhan pada saat pernikahan.jangan biarkan keluarga saudara/i hancur karena harta dunia. Tuhan Yesus memberkati.
Catatan : Hanya cerita fiktif belaka........
aku terkesan.....lalu aku tuliskan dan aku muat. Maaf jika ada yang secara kebetulan mirip atau bahkan sama, tdk ada maksud untuk menyinggung.... hanya luapan hati.
Karena tekanan ekonomi dan biaya kebutuhan pendidikan anak-anak semakin meningkat,isteriku sering mengeluarkan kata-kata penyesalan. Hal ini sering muncul saat dia mau membayar kebutuhab anak-anak kami yang sedang kuliah.Uang yang saya setor setiap bulan tidak mencukupi. Dia selalu mencatat biaya anak-anak,kemudian dia membandingkan pendapatanku."Pak,gajimu tidak cukup",Saya stress,pusing mengatur gajimu yang kecil..Rasanya aku ingin mati saja. Kalimat- kalimat sepeti itu sering dilontarkan isteriku kepadaku sebagai tanda kekecewaan. Sudahlah ma, doakan saja agar kiriman kita diberkati Tuhan. Begitulah kata-kata jawabanku agar dia tabah menghadapi kenyataan hidup yang semakin sulit ini.
Seringkali aku kesal mendengar cara isteriku berbicara bila ada masalah.Kadang dia mengeluarkan kata kutukan kepada anaknya seperti berikut:"Biarlah mereka mampus semua,pusing aku memikirkan mereka". Emosiku langsung naik dan menyuruhku untuk membentaknya.tetap aku sadar,itu bukanlah jalan keluar yang terbaik.Aku tahan letupan emosiku dengan mengatupkan kedua bibirku,agar tidak keluar sepatah kata dari mulutku.
Aku merenung,apakah sikap begini dapat mengakibatkan stroke,lumpuh mendadak,atau meninggal tiba-tiba?
Aku ingat nasehat yang mengatakan ,jangan simpan marah didalam hati,karena bisa menimbulkan penyakit. Dan kataNya "padamkanlah amarah mu sebelum matahari terbenam", lalu....?..Benarkah demikian?
Dalam permenungan demikian,sering timbul dalam pikiran saya ,apakah isteriku ini menyesal menikah dengan saya yang tidak mampu memenuhi hasratnya dengan materi yang cukup? Atau apakah dia menyesal mempunyai anak-anak yang banyak membutuhkan biaya pendidikan?
Saya juga sering sakit hati atas jawaban-jawabannya yang ketus.Semuanya kupendam dalam hati demi ketuhan rumahtangga.saya tidak mau piring beterbangan menyambut sikapnya yang tidak hormat kepada suami.tetapi berapa lama aku kuat?
Suatu ketika saat saya pulang dari kantor,badanku sudah letih bekerja seharian.Sampai dirumah aku minta disediakan segelas teh manis.Dia malah menjawabku demikian:"Aku bukan pembantumu,buat sendiri saja minumanmu" Aku diam,dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.Aku bertanya dalam hati:"beginikah terus saya alami dalam kehidupan berkeluarga Tuhan? Rumah menjadi tidak nyaman bagiku karena kurang materi? Tidak ada sukacita dan kedamaian. Aku masih bekerja, sikapnya tidak menyenangkan bagiku. Bagaimana bila aku pengangguran? Bisa lebih parah lagi,atau menganggapku sampah.
Suatu hari saya mengajaknya berdiskusi memecahkan masalah yang kami hadapi.
Dia berkata:"Aku ingin mati saja" Pembicaraan langsung terputus seketika,tidak berlanjut.
Aku berdoa kepada Tuhan:"Tuhan,Engkau telah menentukan dia sebagai pasangan hidupku,tetapi saya tidak bersukacita atas perilakunya yang suka emosi dan mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaanku.Tidak ada kedamaian bersama dengan dia.Kalau ada rencana iblis untuk menghancurkan hubungan kami,biarlah rencana itu Tuhan gagalkan dari kami.Saya tahu Tuhan tidak menginginkan perceraian dan kehancuran rumah runahtangga yang telah Engkau persatukan.Berikan kami kekuatan untuk memikul salib keluarga kami.Biarlah kehendakMu yang terjadi. Amin.
Setelah berdoa demikan,saya merasakan ketenangan batin.saya percaya Tuhan pasti ikut campur menyelesaikan persoalan kami.
Waktu itu hari minggu sore, saya melihat isteri saya ketiduran di sofa, saya perhatikan telapak kakinya kotor, lalu saya ambil handuk kecil dan saya celupkan ke air hangat dan memerasnya, lalu saya lap kakinya.Telapak kakinya saya bersihkan dengan handuk basah hingga bersih. Dia diam saja tidak bereaksi,kubiarkan dia tidur lelap. Aku berbenah diri dan ganti pakaian, untuk pergi ikut kebaktian sore di suatu gereja terdekat.
Pada saat saya hendak meninggalkan rumah menuju gereja, dia terbangun dan menyapaku dengan lembut, "papa mau kemana?" Saya mau kegereja ikut kebaktian sore, sahutku. Aku ikut pa..tunggu ya..aku ganti pakaian dulu, pintanya. Aku kaget bercampur gembira..angin sorga menyapanya .terima kasih Tuhan,bisikku dalam hati.
Setelah peristiwa tersebut,kehidupan keluarga kami berobah. Suasana bahagia pada saat menikah dulu kami raih kembali.Kami luput dari perpecahan.
Ada saatnya kita jenuh melihat pasangan kita.karena kesulitan hidup yang kita alami.
Solusinya, kita hanya datang dan mengeluh kepada Tuhan saja. Dia pasti menolong kesulitan kita.Semoga kesaksian ini berguna bagi pasangan yang sedang bermasalah.
Raih kembali sukacita yang hilang yang sudah diberikan Tuhan pada saat pernikahan.jangan biarkan keluarga saudara/i hancur karena harta dunia. Tuhan Yesus memberkati.
Catatan : Hanya cerita fiktif belaka........
aku terkesan.....lalu aku tuliskan dan aku muat. Maaf jika ada yang secara kebetulan mirip atau bahkan sama, tdk ada maksud untuk menyinggung.... hanya luapan hati.
KUPU KUPU KU YANG SETIA
Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang pria dan wanita yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja.
Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-manggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun. Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat.
Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari. Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan wanita yang setia dan teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kepada wanita itu sebuah pengecualian kepada dirinya.
Tuhan bertanya kepadanya, "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?".
Si wanita tanpa ragu sedikitpun menjawab, "Ya".
Tuhan berkata, "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?".
Si wanita terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti menjawab "saya bersedia!".
Hari telah terang. Si wanita telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorang dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu. Dengan di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang wanita pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang wanita telah pergi kemana.
Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang wanita yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam.
Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya.
Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan.
Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama ditinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorg wanita cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa. Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang di bicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala. Sang kupu-kupu sangat sedih.
Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorg wanita lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.
Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan wanita itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu.
Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini. Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.
Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan wanita itu. Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan.
Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan, "Saya bersedia menikah dengannya!". Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu.
Dengan pedih hati Tuhan menarik napas, "Apakah kamu menyesal?".
Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya, "Tidak".
Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan, "Besok kamu sudah dpt kembali mjd dirimu sendiri". Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup".
ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN SUATU KENYATAAN. ADA BEBERAPA PERTEMUAN YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA. MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI, NAMUN MEMILIKI SESEORANG MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA
catatan : Hanya sebuah illustrasi penulis, tidak bermaksud masuk ke ranah keyakinan tertentu.
Jangan Pernah Berkata Benci
Jangan Pernah Berkata Benci
Bagai kan malam tak berbintang,
tanpa mu di sisi slalu,
bagai kan bunga
tak tersirami,
ku kan layu
lunglai tak berseri........
jangan pernah berkata benci..., pada ku
jangan pernah berkata......., kau akan tinggalkan ku......
sayangiii daku.....
slama-lamanya
setia ku smakin nyata
semoga cinta
antara kita
tiada satu
penghalang menimpa....
jangan pernah berkata benci..., pada ku
jangan pernah berkata......., kau akan tinggalkan ku......
semoga cinta
antara kita
tiada satu
penghalang menimpa....
jangan pernah berkata benci..., pada ku
jangan pernah berkata......., kau akan tinggalkan ku......
penutupan Diklat Implementasi Kurikulum 2013, kelas Kepala Sekolah di Jaya Pura
Relat Indah Hotel, 14 Juli 2013.......ulang tahun Pernikahan ku yang ke-14
Langganan:
Postingan (Atom)






