2017-10-24

EKSPRESI HATI



EKSPRESI HATI

Terkenang akan masa kecil kami dulu…..
Saya memiliki 4 (empat ) orang adik, dan kami dibesarkan di tengah keluarga yang penghasilan orang tua hanya sebagai buruh tani. Bisa kita bayangkan …hidup dipinggiran kota Pematang Siantar, yang penghasilan pas-pasan. Ayah mendidik kami, kelima anaknya, dengan tegas. Ia juga jarang bertemu dengan kami karena bekerja sebagai buruh tani, di lading orang. Namun, setiap kali ia pulang, ke rumah  hati saya malah diliputi ketakutan. Saya merasa tidak disayangi olehnya. Saya merasa harus tegar bila bersama ayah, mandiri, dan tidak boleh menangis , dan hal inilah yang selalu ditanamkannya pada saya, terutama saya anak paling tua di keluarga kami. Ayah ku mendidik saya dengan keras, dan beda dengan saudara saya yang lain, katanya sebagai anak paling tua, sebagai penanggung jawab keluarga.Kadang-kadang saja saya menangis ketika terjadi kesalahpahaman. Di sisi lain, saya tidak ingin terlihat lemah di mata adik-adik dan keluarga lain. Saya pun menjadi pribadi yang sulit mengungkapkan perasaan.
Pada desmber 1999, Ayahku dipanggil Tuhan, dan saya baru lebih kurang 4 bulan berkeluarga, harus menyamakan persepsi dan memberi pemahaman buat keluarga baru ku. Tapi hal ini bicara lain… disamping keluargaku sendiri….otomatis adik-adikku juga menjadi tanggungjawab ku. Bisa  dibayangkan 3 orang mahasiswa harus dibantu…karena penghasilan ibu juga tdk sepenuhnya cukup. Aku harus tegar dan harus kuat…tapi dalam kesendirian dan doaku…aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sendiri di kehidupan ini dan berada ditengah dua kubu yang susah dipertemukan, karena berbeda sudut pandang.
Mungkin inilah yang menjadi rencana Tuhan………
Berapa banyak di antara kita yang dididik untuk tidak boleh menangis? Bahwa kita harus kuat terus-menerus? Adakah yang merasa sulit mengungkapkan perasaannya? Apakah hal ini wajar? Penelitian seorang profesor di New York menyebutkan bahwa anak laki-laki yang dididik untuk tidak boleh menangis, pada saat dewasa akan kesulitan mengungkapkan perasaannya.

Firman Tuhan hari ini menunjukkan Yesus pun menangis (ay. 35) ketika Lazarus meninggal. Yesus, Pribadi yang sempurna itu, mengekspresikan perasaan-Nya di depan banyak orang (ay. 33). Tidak ada larangan untuk menangis. Bapalah yang akan menampung setiap tetes air mata kita. Dia peduli.

Menangis ketika sedih dan tertawa bila bahagia adalah ungkapan perasaan yang wajar. Tuhan tidak menentang hal itu. Dia ingin mengenal dan mendengar setiap isi hati kita. Belajar mengungkapkan perasaan secara wajar sama dengan jujur terhadap diri sendiri. Hal itu juga menyehatkan jiwa dan memampukan kita berempati terhadap keadaan orang lain  (Yohanes 11:32-36)


TUHAN MENGUNDANG KITA MENJADI PRIBADI YANG JUJUR DAN BERANI MENGUNGKAPKAN PERASAAN KITA DENGAN SEWAJARNYA.

2017-10-11

MATANG DI POHON



MATANG DI POHON

Terkenang akau akan masa kecil dan remajaku…..
Ketika itu,aku dan ibuku berjualan pisang di pasar Parluasan di kota Pematang Siantar.
Setiap hari kami pergi ke pasar pagi pukul 04.00 WIB, agar tidak kesiangan. Sebab jika dagangan belum terjual hingga pukul 07.30 WIB, harus dibawa pulang, karena polisi pamong praja sudah dating untuk beraksi. Ketika itu, saya tidak tau bahwa kami berjualan di pasar pagi dan pinggiran jalan itu salah. Ibu ku juga belum tentu tau itu salah. Yang kami tau…..bawa barang hasil dari lading…. jual di sana dan hasilnya cukup untuk biaya makan dan sekolah kami untuk hari itu juga. Begitulah setiap hari….tanpa dapat menyimpan dan menabung. Rasa syukur dan harapan ke depan yang membuat kami bertahan. Yang menarik ketika itu, ketika ibu saya menjual buah-buahan, terutama pisang. Pisang itu ada dua jenis, yaitu :  matang di pohon atau karbitan. Menurut Ibu, buah yang matang di pohon dan baru dipetik rasanya lebih enak daripada buah yang setengah matang, lalu dipetik dan diperam alias karbitan. Pisang yang dipanen dengan kondisi belum matang lalu memeramnya/dikarbit agar cepat matang dengan tujuan dapat menjualnya dengan lebih cepat.

Dalam hidup kita juga mengalami banyak proses yang bertujuan "mematangkan" kita. Dan, setiap proses membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Ada yang sebentar, ada yang lama. Namun, tiap-tiap proses itu perlu dijalani sampai tuntas bila kita ingin hidup lebih baik. Masalahnya, kita tidak tahu berapa lama proses ini berlangsung karena hanya Tuhan sendiri yang mengetahuinya. Hal ini membuat kita kadang-kadang merasa ingin mempercepat proses yang kita jalani. Buah yang matang diperam masih dapat dinikmati, tetapi proses kehidupan yang dipercepat kemungkinan besar justru akan merugikan kita.

Yang namanya proses memang tidak enak apalagi kalau kita tidak tahu kapan berakhirnya. Namun, proses seperti ini justru akan mendatangkan kebaikan. Pilihannya hanya dua: apakah kita akan mengikuti prosesnya sampai selesai, "matang di pohon, " atau kita akan memilih untuk mengambil jalan pintas, berusaha mempercepat proses yang kita alami, "matang dengan diperam"? Pilihan ada di tangan kita. (Pengkhotbah 3:1-15)