2017-10-11

MATANG DI POHON



MATANG DI POHON

Terkenang akau akan masa kecil dan remajaku…..
Ketika itu,aku dan ibuku berjualan pisang di pasar Parluasan di kota Pematang Siantar.
Setiap hari kami pergi ke pasar pagi pukul 04.00 WIB, agar tidak kesiangan. Sebab jika dagangan belum terjual hingga pukul 07.30 WIB, harus dibawa pulang, karena polisi pamong praja sudah dating untuk beraksi. Ketika itu, saya tidak tau bahwa kami berjualan di pasar pagi dan pinggiran jalan itu salah. Ibu ku juga belum tentu tau itu salah. Yang kami tau…..bawa barang hasil dari lading…. jual di sana dan hasilnya cukup untuk biaya makan dan sekolah kami untuk hari itu juga. Begitulah setiap hari….tanpa dapat menyimpan dan menabung. Rasa syukur dan harapan ke depan yang membuat kami bertahan. Yang menarik ketika itu, ketika ibu saya menjual buah-buahan, terutama pisang. Pisang itu ada dua jenis, yaitu :  matang di pohon atau karbitan. Menurut Ibu, buah yang matang di pohon dan baru dipetik rasanya lebih enak daripada buah yang setengah matang, lalu dipetik dan diperam alias karbitan. Pisang yang dipanen dengan kondisi belum matang lalu memeramnya/dikarbit agar cepat matang dengan tujuan dapat menjualnya dengan lebih cepat.

Dalam hidup kita juga mengalami banyak proses yang bertujuan "mematangkan" kita. Dan, setiap proses membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Ada yang sebentar, ada yang lama. Namun, tiap-tiap proses itu perlu dijalani sampai tuntas bila kita ingin hidup lebih baik. Masalahnya, kita tidak tahu berapa lama proses ini berlangsung karena hanya Tuhan sendiri yang mengetahuinya. Hal ini membuat kita kadang-kadang merasa ingin mempercepat proses yang kita jalani. Buah yang matang diperam masih dapat dinikmati, tetapi proses kehidupan yang dipercepat kemungkinan besar justru akan merugikan kita.

Yang namanya proses memang tidak enak apalagi kalau kita tidak tahu kapan berakhirnya. Namun, proses seperti ini justru akan mendatangkan kebaikan. Pilihannya hanya dua: apakah kita akan mengikuti prosesnya sampai selesai, "matang di pohon, " atau kita akan memilih untuk mengambil jalan pintas, berusaha mempercepat proses yang kita alami, "matang dengan diperam"? Pilihan ada di tangan kita. (Pengkhotbah 3:1-15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar