EKSPRESI HATI
Terkenang akan masa kecil kami dulu…..
Saya memiliki 4 (empat ) orang adik, dan kami dibesarkan di
tengah keluarga yang penghasilan orang tua hanya sebagai buruh tani. Bisa kita
bayangkan …hidup dipinggiran kota Pematang Siantar, yang penghasilan pas-pasan.
Ayah mendidik kami, kelima anaknya, dengan tegas. Ia juga jarang bertemu dengan
kami karena bekerja sebagai buruh tani, di lading orang. Namun, setiap kali ia
pulang, ke rumah hati saya malah
diliputi ketakutan. Saya merasa tidak disayangi olehnya. Saya merasa harus
tegar bila bersama ayah, mandiri, dan tidak boleh menangis , dan hal inilah
yang selalu ditanamkannya pada saya, terutama saya anak paling tua di keluarga
kami. Ayah ku mendidik saya dengan keras, dan beda dengan saudara saya yang
lain, katanya sebagai anak paling tua, sebagai penanggung jawab keluarga.Kadang-kadang
saja saya menangis ketika terjadi kesalahpahaman. Di sisi lain, saya tidak
ingin terlihat lemah di mata adik-adik dan keluarga lain. Saya pun menjadi
pribadi yang sulit mengungkapkan perasaan.
Pada desmber 1999, Ayahku dipanggil Tuhan, dan saya baru
lebih kurang 4 bulan berkeluarga, harus menyamakan persepsi dan memberi
pemahaman buat keluarga baru ku. Tapi hal ini bicara lain… disamping keluargaku
sendiri….otomatis adik-adikku juga menjadi tanggungjawab ku. Bisa dibayangkan 3 orang mahasiswa harus dibantu…karena
penghasilan ibu juga tdk sepenuhnya cukup. Aku harus tegar dan harus kuat…tapi
dalam kesendirian dan doaku…aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sendiri di
kehidupan ini dan berada ditengah dua kubu yang susah dipertemukan, karena
berbeda sudut pandang.
Mungkin inilah yang menjadi rencana Tuhan………
Berapa banyak di antara kita yang dididik untuk tidak boleh
menangis? Bahwa kita harus kuat terus-menerus? Adakah yang merasa sulit
mengungkapkan perasaannya? Apakah hal ini wajar? Penelitian seorang profesor di
New York menyebutkan bahwa anak laki-laki yang dididik untuk tidak boleh
menangis, pada saat dewasa akan kesulitan mengungkapkan perasaannya.
Firman Tuhan hari ini menunjukkan Yesus pun menangis (ay.
35) ketika Lazarus meninggal. Yesus, Pribadi yang sempurna itu, mengekspresikan
perasaan-Nya di depan banyak orang (ay. 33). Tidak ada larangan untuk menangis.
Bapalah yang akan menampung setiap tetes air mata kita. Dia peduli.
Menangis ketika sedih dan tertawa bila bahagia adalah
ungkapan perasaan yang wajar. Tuhan tidak menentang hal itu. Dia ingin mengenal
dan mendengar setiap isi hati kita. Belajar mengungkapkan perasaan secara wajar
sama dengan jujur terhadap diri sendiri. Hal itu juga menyehatkan jiwa dan
memampukan kita berempati terhadap keadaan orang lain (Yohanes 11:32-36)
TUHAN MENGUNDANG KITA MENJADI PRIBADI YANG JUJUR DAN BERANI
MENGUNGKAPKAN PERASAAN KITA DENGAN SEWAJARNYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar