Meraih Sukacita.
Karena
tekanan ekonomi dan biaya kebutuhan pendidikan anak-anak semakin
meningkat,isteriku sering mengeluarkan kata-kata penyesalan. Hal ini
sering muncul saat dia mau membayar kebutuhab anak-anak kami yang sedang
kuliah.Uang yang saya setor setiap bulan tidak mencukupi. Dia selalu
mencatat biaya anak-anak,kemudian dia membandingkan
pendapatanku."Pak,gajimu tidak cukup",Saya stress,pusing mengatur gajimu
yang kecil..Rasanya aku ingin mati saja. Kalimat- kalimat sepeti itu sering
dilontarkan isteriku kepadaku sebagai tanda kekecewaan. Sudahlah ma,
doakan saja agar kiriman kita diberkati Tuhan. Begitulah kata-kata
jawabanku agar dia tabah menghadapi kenyataan hidup yang semakin sulit
ini.
Seringkali aku kesal mendengar cara isteriku berbicara bila
ada masalah.Kadang dia mengeluarkan kata kutukan kepada anaknya seperti
berikut:"Biarlah mereka mampus semua,pusing aku memikirkan mereka".
Emosiku langsung naik dan menyuruhku untuk membentaknya.tetap aku
sadar,itu bukanlah jalan keluar yang terbaik.Aku tahan letupan emosiku
dengan mengatupkan kedua bibirku,agar tidak keluar sepatah kata dari
mulutku.
Aku merenung,apakah sikap begini dapat mengakibatkan stroke,lumpuh mendadak,atau meninggal tiba-tiba?
Aku ingat nasehat yang mengatakan ,jangan simpan marah didalam hati,karena bisa menimbulkan penyakit. Dan kataNya "padamkanlah amarah mu sebelum matahari terbenam", lalu....?..Benarkah demikian?
Dalam
permenungan demikian,sering timbul dalam pikiran saya ,apakah isteriku
ini menyesal menikah dengan saya yang tidak mampu memenuhi hasratnya
dengan materi yang cukup? Atau apakah dia menyesal mempunyai anak-anak
yang banyak membutuhkan biaya pendidikan?
Saya juga sering sakit
hati atas jawaban-jawabannya yang ketus.Semuanya kupendam dalam hati demi
ketuhan rumahtangga.saya tidak mau piring beterbangan menyambut sikapnya
yang tidak hormat kepada suami.tetapi berapa lama aku kuat?
Suatu
ketika saat saya pulang dari kantor,badanku sudah letih bekerja
seharian.Sampai dirumah aku minta disediakan segelas teh manis.Dia malah
menjawabku demikian:"Aku bukan pembantumu,buat sendiri saja minumanmu"
Aku diam,dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.Aku bertanya dalam
hati:"beginikah terus saya alami dalam kehidupan berkeluarga Tuhan?
Rumah menjadi tidak nyaman bagiku karena kurang materi? Tidak ada
sukacita dan kedamaian. Aku masih bekerja, sikapnya tidak menyenangkan
bagiku. Bagaimana bila aku pengangguran? Bisa lebih parah lagi,atau
menganggapku sampah.
Suatu hari saya mengajaknya berdiskusi memecahkan masalah yang kami hadapi.
Dia berkata:"Aku ingin mati saja" Pembicaraan langsung terputus seketika,tidak berlanjut.
Aku
berdoa kepada Tuhan:"Tuhan,Engkau telah menentukan dia sebagai pasangan
hidupku,tetapi saya tidak bersukacita atas perilakunya yang suka emosi
dan mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaanku.Tidak ada
kedamaian bersama dengan dia.Kalau ada rencana iblis untuk menghancurkan
hubungan kami,biarlah rencana itu Tuhan gagalkan dari kami.Saya tahu
Tuhan tidak menginginkan perceraian dan kehancuran rumah runahtangga yang
telah Engkau persatukan.Berikan kami kekuatan untuk memikul salib
keluarga kami.Biarlah kehendakMu yang terjadi. Amin.
Setelah berdoa demikan,saya merasakan ketenangan batin.saya percaya Tuhan pasti ikut campur menyelesaikan persoalan kami.
Waktu
itu hari minggu sore, saya melihat isteri saya ketiduran di sofa, saya
perhatikan telapak kakinya kotor, lalu saya ambil handuk kecil dan saya
celupkan ke air hangat dan memerasnya, lalu saya lap kakinya.Telapak kakinya saya bersihkan dengan handuk basah
hingga bersih. Dia diam saja tidak bereaksi,kubiarkan dia tidur lelap. Aku berbenah diri dan ganti pakaian, untuk pergi ikut kebaktian sore di suatu gereja terdekat.
Pada
saat saya hendak meninggalkan rumah menuju gereja, dia terbangun dan menyapaku
dengan lembut, "papa mau kemana?" Saya mau kegereja ikut kebaktian
sore, sahutku. Aku ikut pa..tunggu ya..aku ganti pakaian dulu, pintanya.
Aku kaget bercampur gembira..angin sorga menyapanya .terima kasih
Tuhan,bisikku dalam hati.
Setelah peristiwa tersebut,kehidupan
keluarga kami berobah. Suasana bahagia pada saat menikah dulu kami raih
kembali.Kami luput dari perpecahan.
Ada saatnya kita jenuh melihat pasangan kita.karena kesulitan hidup yang kita alami.
Solusinya, kita
hanya datang dan mengeluh kepada Tuhan saja. Dia pasti menolong
kesulitan kita.Semoga kesaksian ini berguna bagi pasangan yang sedang
bermasalah.
Raih kembali sukacita yang hilang yang sudah diberikan
Tuhan pada saat pernikahan.jangan biarkan keluarga saudara/i hancur
karena harta dunia. Tuhan Yesus memberkati.
Catatan : Hanya cerita fiktif belaka........
aku
terkesan.....lalu aku tuliskan dan aku muat. Maaf jika ada yang secara
kebetulan mirip atau bahkan sama, tdk ada maksud untuk menyinggung....
hanya luapan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar