Banyak pandangan kita yang salah terhadap berkat Tuhan
pada rumah tangga atau pernikahan. Seakan-akan, keluarga yang diberkati Tuhan
itu adalah keluarga yang selalu damai, aman dan menyenangkan dan berkelimpahan.
Inilah pendapat dari kita yang sebenarnya kurang tepat pada kehidupan ini.
Seakan-akan keluarga yang mengalami konflik dan permasalahan adalah kutukan
atau hukuman dari yang kuasa. Namun dalam hal ini, saya pribadi juga tidak
dapat menarik sebuah kesimpulan, lalu....... Benarkah keluarga yang bahagia
adalah keluarga yang bebas konflik/masalah? Dari pengalaman yang saya alami
saya menjawab Tidak! Dalam kehidupan
ini, masalah akan selalu ada. Lalu saya mencoba mendefenisikan Keluarga yang bahagia ialah keluarga yang
hidup sesuai kehendak Allah sehingga dapat mengelola setiap konflik yang muncul
dalam keluarga mereka menjadi berkat. Kita harus fahami bahwa, Keluarga
dibentuk oleh dua pribadi yang berbeda, dibesarkan pada keluarga yang berbeda,
pada tempat, keadaan dan sistem yang berbeda pula sudah tentu memiliki
perbedaan. Oleh sebab itu, diharapkan sebelum bertemu dan bersatu dalam sebuah
ikatan pernikahan, seharusnya masing-masing pribadi telah saling mengenal, mengembangkan
selera, kesukaan, kebiasaan, kesenangan, dan ketidaksenangan serta nilai-nilai
prinsip kehidupan yang dinutnya. Oleh sebab itu, tidak masuk akal jika kita
berpikir bahwa dalam keluarga segala sesuatu harus sama, dilakukan dengan cara
dan waktu yang sama, hal itu susah untuk dapat direalisasikan. Kita harus ingat
latar belakang penciptaan manusia yang sempurna oleh Tuhan, sehingga kita tidak
salah dalam memahami keluarga. Keluarga adalah cita-cita kesempurnaan hidup
yang diberikan Tuhan pada manusia ciptaanNya yang paling sempurna.
Masalah dalam Keluarga
Masalah yang terjadi pada rumah tangga sangat kompleks, mulai dari yang sangat ringan dan dianggap sepele sampai dengan yang berat dan besar. Beberapa faktor yang memicu munculnya masalah di tengah-tengah keluarga antara lain berikut ini:
Masalah dalam Keluarga
Masalah yang terjadi pada rumah tangga sangat kompleks, mulai dari yang sangat ringan dan dianggap sepele sampai dengan yang berat dan besar. Beberapa faktor yang memicu munculnya masalah di tengah-tengah keluarga antara lain berikut ini:
a.
Kehadiran anak pertama yang membuat suami istri
harus menata ulang ritme kehidupannya. Jika tidak siap akan memicu konflik dan
ketegangan hubungan antara keduanya.
b.
Sang suami harus bekerja dua belas jam sehari,
sedangkan sang istri harus tinggal di rumah mengurus anak dan rumah. Dan tidak
menutup kemungkinan kedua-duanya bekerja, lalu siapa yang mengasuh anak dsb.
c.
Sikap dan tindakan yang kurang berkenan terhadap
keluarga dari pihak istri/suami.
d.
Anak beranjak dewasa dan mulai sering
meninggalkan rumah, siapa yang
bertanggung jawab? Dengan argumen dan dalil masing-masing saling menyerang.
e.
Masa pensiun tiba dan keduanya tinggal di rumah.
f.
Yang seorang selalu memencet pasta gigi dari
bawah, sedangkan yang lain selalu dari atas.
g.
Saat berbicara, yang seorang senang bercerita
panjang lebar, sedangkan yang lain memberikan garis besarnya saja.
h.
Yang seorang perlu kamar yang benar-benar gelap
untuk tidur, sedangkan pasangannya tidur dengan lampu menyala.
i.
Yang seorang menganggap bahwa hubungan seksual
hanya dapat dilakukan di tempat tidur dan di bawah selimut, sedangkan
pasangannya menyukai variasi dan kreatif dalam melakukannya. Ketika yang satu
menginginkannya dan pasangannya tidur dengan pulas, atau merasa tidak perlu,
sehingga menimbulkan pemikiran yang beraroma negatif dan dapat menimbulkan
konflik.
j.
Yang seorang biasa menggantung baju di mana saja
dia suka, sedangkan yang lain menata baju dengan gantungan berdasarkan warna
dan adanya jarak antar gantungan.
k.
Ketika anak dalam keadaan sakit, yang seorang
terlihat begitu gelisah, sedangkan yang lain tampaknya tenang-tenang saja dan
dapat tidur dengan pulas.
l.
Bagi suami istri yang sama-sama bekerja,
perbedaan pendapatan atau penghasilan sering kali menjadi masalah, terutama
jika pendapatan istri lebih besar dari pendapatan suami, umumnya menjadikan
sang istri melupakan posisi keistriannya dalam keluarga. Seolah-olah uang bisa
mengatur segalanya.
Faktor Pemicu Masalah Keluarga
Mengenai masalah dalam rumah tangga yang telah dituliskan dalam bukuantara lain menurut Bernard Wiese dan Urban Steinmetz berkata:
Mengenai masalah dalam rumah tangga yang telah dituliskan dalam bukuantara lain menurut Bernard Wiese dan Urban Steinmetz berkata:
"Ketidaksesuaian pendapat dan sudut pandang tak terelakkan dalam
suatu pernikahan dan kehidupan keluarga. Kadang kala, masing-masing pribadi
dapat menjadi pesaing bagi pasangannya, seperti juga penolong dan pelengkap
bagi pasangannya. Setiap pasangan harus menghindari sikap menjauhkan diri yang
sering muncul ketika konflik terjadi; dan membenahi hubungan mereka supaya
tidak ada lagi sakit hati, keinginan untuk saling membalas, atau saling
menuduh. Untuk dapat mencapai hal itu, perbedaan-perbedaan harus didiskusikan
secara terbuka sehingga komunikasi yang baik dapat dipulihkan. Reaksi kemarahan
memang tak dapat dihindari dalam kehidupan seseorang, tetapi yang paling
penting adalah apa yang diperbuat seseorang dengan amarahnya itu."
Sedangkan H. Norman Wright, seorang konselor keluarga dan pernikahan, menyatakan bahwa ada tiga faktor yang berubah pada lembaga pernikahan, yang dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan rumah tangga, yaitu:
1. Berkurangnya keinginan hati saling pengertian di antara pasangan yang menikah.
Masalah utama dalam pernikahan yang terjadi sebenarnya bukan masalah hubungan seks, uang, dan anak-anak. Ketiga hal itu rentan dapat menimbulkan masalah, tetapi ada faktor lain yang lebih berpengaruh -- hilangnya/lemahnya komunikasi antara suami dan istri. Norman Wright setuju bahwa hilangnya komunikasi adalah inti masalah di balik meroketnya angka perceraian di masyarakat, termasuk keluarga Kristen. Rapuhnya pernikahan lebih banyak disebabkan lemahnya komunikasi dan kemampuan dalam mengelola konflik. Komunikasi keluarga yang tersumbat ini menghancurkan kehangatan rumah tangga dan mendinginkan suasana hubungan antar pribadi dalam keluarga.
Keluarga yang kehilangan keterampilan berkomunikasi cenderung mudah mengalami konflik karena tidak adanya saling pengertian, demi terwujudnya pernikahan yang kuat dan bertumbuh. Konflik yang tidak dikelola dan diselesaikan dengan baik pun menjadi seperti api dalam sekam, atau bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu dengan dampak yang tidak terkendali. Karena itu, perlu ada sikap saling mengerti. Walaupun ada perbedaan, cobalah untuk membicarakan dan memahaminya dengan baik.
2. Hilangnya tekad dan keinginan untuk mempertahankan pernikahan.
Seiring dengan perkembangan zaman sekarang ini, banyak orang yang memasuki pernikahan dengan sikap mudah menyerah. Jika tidak cocok, hubungan dapat diakhiri dan mencoba lagi dengan orang lain. Begitu gampangnya mereka melupakan ikrar mereka yang diucapkan didepan jemaat terutama di hadapan Tuhan. Banyak orang yang sangat tidak sabar dengan hidup pernikahan mereka. Mereka tidak ingin berjuang untuk mempertahankan pernikahan, dan memilih "cara cepat" untuk mengakhiri persoalan.
3. Berkembangnya harapan-harapan yang tidak realistis terhadap pernikahan.
Banyak pasangan muda dibutakan oleh harapan-harapan yang tidak realistis ketika memasuki pernikahan. Saya sering mendefenisikan dengan istilah “ pasangan korban sinetron” ,mereka berpikir bahwa pernikahan yang bahagia ditandai dengan cinta romantis yang tidak pernah surut, pasangan dapat memenuhi semua keinginannya, pasangan selalu sejalan dengan pikiran dan kemauannya, ekonomi keluarga stabil bahkan berkelebihan, dsb.. Mereka mencari sesuatu yang "ajaib" dalam pernikahan, tanpa menyadari bahwa keberhasilan pernikahan membutuhkan kerja sama mereka berdua.
Bagaimana Mengatasi Masalah dalam Keluarga?
Salah satu kunci keberhasilan dalam keluarga ialah kemampuan mengatasi setiap permasalahan sehingga setiap anggota keluarga dapat memainkan perannya secara optimal. Kuasailah masalah dan carilah solusi bersama atas masalah tersebut. Ini bukan hal yang mudah, tetapi harus diupayakan. Cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah keluarga dapat memicu terciptanya proses pertumbuhan. Setiap pasangan Kristen seharusnya belajar dari berbagai konflik dan mau memiliki sikap yang lebih dewasa. Rumah memerlukan ketenangan yang hangat dan kehangatan yang tenang. Oleh sebab itu, bicarakan cara mengatasi dan menyelesaikan masalah yang ada, serta pahami dan terapkan prinsip-prinsip berikut ini :
Sedangkan H. Norman Wright, seorang konselor keluarga dan pernikahan, menyatakan bahwa ada tiga faktor yang berubah pada lembaga pernikahan, yang dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan rumah tangga, yaitu:
1. Berkurangnya keinginan hati saling pengertian di antara pasangan yang menikah.
Masalah utama dalam pernikahan yang terjadi sebenarnya bukan masalah hubungan seks, uang, dan anak-anak. Ketiga hal itu rentan dapat menimbulkan masalah, tetapi ada faktor lain yang lebih berpengaruh -- hilangnya/lemahnya komunikasi antara suami dan istri. Norman Wright setuju bahwa hilangnya komunikasi adalah inti masalah di balik meroketnya angka perceraian di masyarakat, termasuk keluarga Kristen. Rapuhnya pernikahan lebih banyak disebabkan lemahnya komunikasi dan kemampuan dalam mengelola konflik. Komunikasi keluarga yang tersumbat ini menghancurkan kehangatan rumah tangga dan mendinginkan suasana hubungan antar pribadi dalam keluarga.
Keluarga yang kehilangan keterampilan berkomunikasi cenderung mudah mengalami konflik karena tidak adanya saling pengertian, demi terwujudnya pernikahan yang kuat dan bertumbuh. Konflik yang tidak dikelola dan diselesaikan dengan baik pun menjadi seperti api dalam sekam, atau bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu dengan dampak yang tidak terkendali. Karena itu, perlu ada sikap saling mengerti. Walaupun ada perbedaan, cobalah untuk membicarakan dan memahaminya dengan baik.
2. Hilangnya tekad dan keinginan untuk mempertahankan pernikahan.
Seiring dengan perkembangan zaman sekarang ini, banyak orang yang memasuki pernikahan dengan sikap mudah menyerah. Jika tidak cocok, hubungan dapat diakhiri dan mencoba lagi dengan orang lain. Begitu gampangnya mereka melupakan ikrar mereka yang diucapkan didepan jemaat terutama di hadapan Tuhan. Banyak orang yang sangat tidak sabar dengan hidup pernikahan mereka. Mereka tidak ingin berjuang untuk mempertahankan pernikahan, dan memilih "cara cepat" untuk mengakhiri persoalan.
3. Berkembangnya harapan-harapan yang tidak realistis terhadap pernikahan.
Banyak pasangan muda dibutakan oleh harapan-harapan yang tidak realistis ketika memasuki pernikahan. Saya sering mendefenisikan dengan istilah “ pasangan korban sinetron” ,mereka berpikir bahwa pernikahan yang bahagia ditandai dengan cinta romantis yang tidak pernah surut, pasangan dapat memenuhi semua keinginannya, pasangan selalu sejalan dengan pikiran dan kemauannya, ekonomi keluarga stabil bahkan berkelebihan, dsb.. Mereka mencari sesuatu yang "ajaib" dalam pernikahan, tanpa menyadari bahwa keberhasilan pernikahan membutuhkan kerja sama mereka berdua.
Bagaimana Mengatasi Masalah dalam Keluarga?
Salah satu kunci keberhasilan dalam keluarga ialah kemampuan mengatasi setiap permasalahan sehingga setiap anggota keluarga dapat memainkan perannya secara optimal. Kuasailah masalah dan carilah solusi bersama atas masalah tersebut. Ini bukan hal yang mudah, tetapi harus diupayakan. Cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah keluarga dapat memicu terciptanya proses pertumbuhan. Setiap pasangan Kristen seharusnya belajar dari berbagai konflik dan mau memiliki sikap yang lebih dewasa. Rumah memerlukan ketenangan yang hangat dan kehangatan yang tenang. Oleh sebab itu, bicarakan cara mengatasi dan menyelesaikan masalah yang ada, serta pahami dan terapkan prinsip-prinsip berikut ini :
a.
Bertumbuh dalam Kristus. Keinginan ini tidak
dapat dibuat-buat dan tidak muncul secara otomatis. Keinginan ini bergantung
pada hubungan pribadi yang sehat dengan Kristus dan ditandai dengan adanya
kerinduan untuk berdoa dan membaca Alkitab sambil merefleksikannya dalam
kehidupan pribadi dan keluarga. Dampaknya, prinsip-prinsip kebenaran Alkitab
dan nilai-nilai kristiani akan tampak dan dijunjung tinggi.
b.
Bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa,
selalu ingin belajar, mau memberi, bersedia berkorban, dan melayani. Jika
setiap pribadi tidak mau mengasihi dan membahagiakan pasangannya, masalah yang
ada tidak akan selesai dengan tuntas. Pribadi yang tidak mau menjadi lebih
dewasa cenderung egosentris dalam menyelesaikan masalah keluarga.
c.
Berinisiatif dan mulai menyelesaikan masalah
keluarga dengan penuh kesadaran. Setiap pribadi harus mempunyai keinginan kuat
untuk mempertahankan keutuhan pernikahannya dan berusaha mencari alternatif
solusi yang baik untuk semua pihak. Perlakukan orang lain (suami, istri, anak,
atau orang tua kita) seperti kita ingin diperlakukan (Matius 7:12). Perubahan
harus dimulai dari diri sendiri, dan hendaklah kita hidup dengan ramah, kasih
mesra, saling mengasihi, dan mengampuni sebagai dasar dalam mengatasi masalah
keluarga kita (Efesus 4:32). Terkadang, kita perlu menanyakan pada diri
sendiri: Apakah saya mencintai pasangan hidup saya seperti Kristus mencintai
umat-Nya? Apakah saya sungguh-sungguh mencintai pasangan hidup saya seperti
saya mengasihi diri saya sendiri? Jika jawabannya adalah TIDAK, mulailah untuk
melakukan perubahan diri, maka pernikahan Anda akan menemukan kembali
kehangatannya (Efesus 5:22-31).
d.
Berpikir positif terhadap pasangan. Pandangan
positif akan melahirkan pendekatan dan cara-cara yang positif dalam mengatasi
permasalahan dalam keluarga. Fokuslah pada kelebihan, bukan kekurangan pasangan
Anda.
e.
Berpikir dan mewujudkan kehidupan keluarga yang
sukses. Jangan pernah sekalipun memikirkan untuk bercerai sebagai solusi
permasalahan keluarga. Tetapkan orientasi hidup pernikahan yang benar.
f.
Ingatlah selalu akan kasih mula-mula yang mendasari
pernikahan. Jika Anda mengasihi pasangan yang Tuhan berikan, tidak akan ada
keinginan untuk mengecewakan atau menyakiti. Yang ada adalah berbagi suka dan
duka.
Dan, yang terpenting ialah menempatkan Tuhan dan firman-Nya sebagai Pemandu kehidupan pribadi dan keluarga. Ingatlah, keluarga kita akan bahagia jika Tuhan menjadi "Tamu" yang tetap di dalamnya. Pasangan yang berhasil membina keharmonisan bukanlah mereka yang memiliki pemikiran, perilaku, dan sikap yang persis sama, tetapi yang mau belajar menerima keberbedaan melalui proses penerimaan, pengertian, dan saling melengkapi. Berikut ini kutipan Kong Fut Tze mengenai keluarga yang harmonis, "Apabila ada harmoni di dalam rumah, akan ada ketenangan di masyarakat. Apabila ada ketenangan di masyarakat, ada ketenteraman di dalam negara. Apabila ada ketenteraman di dalam negara, akan ada kedamaian di dalam dunia."
Catatan
[1] Sebagaimana dikutip oleh H. Norman Wright. Untuk lebih jelasnya, lihat pada H. Norman Wright, Persiapan Pernikahan, (Yogyakarta: Gloria, 2000), hlm. 175.
[2] H. Norman Wright, Komunikasi: Kunci Pernikahan Bahagia, (Yogyakarta: Gloria, 2000), hlm. 14-17.
[3] Pdt. Yusak Susabda PhD, dkk., Konseling Pranikah: Sebuah Panduan untuk Membimbing Pasangan-Pasangan yang Akan Menikah, (Bandung: Mitra Pustaka, 2004), hlm. 92-93.
Diringkas dari: Nama situs: Blesseddayforus's Blog
Alamat URL: http://blessedday4us.wordpress.com/2010/06/02/problematika-dalam-keluarga/
Penulis: Pdt. Jotje Hanri Karuh
Dan, yang terpenting ialah menempatkan Tuhan dan firman-Nya sebagai Pemandu kehidupan pribadi dan keluarga. Ingatlah, keluarga kita akan bahagia jika Tuhan menjadi "Tamu" yang tetap di dalamnya. Pasangan yang berhasil membina keharmonisan bukanlah mereka yang memiliki pemikiran, perilaku, dan sikap yang persis sama, tetapi yang mau belajar menerima keberbedaan melalui proses penerimaan, pengertian, dan saling melengkapi. Berikut ini kutipan Kong Fut Tze mengenai keluarga yang harmonis, "Apabila ada harmoni di dalam rumah, akan ada ketenangan di masyarakat. Apabila ada ketenangan di masyarakat, ada ketenteraman di dalam negara. Apabila ada ketenteraman di dalam negara, akan ada kedamaian di dalam dunia."
Catatan
[1] Sebagaimana dikutip oleh H. Norman Wright. Untuk lebih jelasnya, lihat pada H. Norman Wright, Persiapan Pernikahan, (Yogyakarta: Gloria, 2000), hlm. 175.
[2] H. Norman Wright, Komunikasi: Kunci Pernikahan Bahagia, (Yogyakarta: Gloria, 2000), hlm. 14-17.
[3] Pdt. Yusak Susabda PhD, dkk., Konseling Pranikah: Sebuah Panduan untuk Membimbing Pasangan-Pasangan yang Akan Menikah, (Bandung: Mitra Pustaka, 2004), hlm. 92-93.
Diringkas dari: Nama situs: Blesseddayforus's Blog
Alamat URL: http://blessedday4us.wordpress.com/2010/06/02/problematika-dalam-keluarga/
Penulis: Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar