2013-12-05

PROBLEMATIK DALAM KELUARGA









Banyak pandangan kita yang salah terhadap berkat Tuhan pada rumah tangga atau pernikahan. Seakan-akan, keluarga yang diberkati Tuhan itu adalah keluarga yang selalu damai, aman dan menyenangkan dan berkelimpahan. Inilah pendapat dari kita yang sebenarnya kurang tepat pada kehidupan ini. Seakan-akan keluarga yang mengalami konflik dan permasalahan adalah kutukan atau hukuman dari yang kuasa. Namun dalam hal ini, saya pribadi juga tidak dapat menarik sebuah kesimpulan, lalu....... Benarkah keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bebas konflik/masalah? Dari pengalaman yang saya alami saya menjawab  Tidak! Dalam kehidupan ini, masalah akan selalu ada. Lalu saya mencoba mendefenisikan  Keluarga yang bahagia ialah keluarga yang hidup sesuai kehendak Allah sehingga dapat mengelola setiap konflik yang muncul dalam keluarga mereka menjadi berkat. Kita harus fahami bahwa, Keluarga dibentuk oleh dua pribadi yang berbeda, dibesarkan pada keluarga yang berbeda, pada tempat, keadaan dan sistem yang berbeda pula sudah tentu memiliki perbedaan. Oleh sebab itu, diharapkan sebelum bertemu dan bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan, seharusnya  masing-masing pribadi telah saling mengenal, mengembangkan selera, kesukaan, kebiasaan, kesenangan, dan ketidaksenangan serta nilai-nilai prinsip kehidupan yang dinutnya. Oleh sebab itu, tidak masuk akal jika kita berpikir bahwa dalam keluarga segala sesuatu harus sama, dilakukan dengan cara dan waktu yang sama, hal itu susah untuk dapat direalisasikan. Kita harus ingat latar belakang penciptaan manusia yang sempurna oleh Tuhan, sehingga kita tidak salah dalam memahami keluarga. Keluarga adalah cita-cita kesempurnaan hidup yang diberikan Tuhan pada manusia ciptaanNya yang paling sempurna.

Masalah dalam Keluarga

Masalah  yang terjadi pada rumah tangga sangat kompleks, mulai dari yang sangat ringan dan  dianggap sepele sampai dengan yang berat dan besar. Beberapa faktor yang memicu munculnya masalah di tengah-tengah  keluarga antara lain berikut ini:
a.       Kehadiran anak pertama yang membuat suami istri harus menata ulang ritme kehidupannya. Jika tidak siap akan memicu konflik dan ketegangan hubungan antara keduanya.
b.      Sang suami harus bekerja dua belas jam sehari, sedangkan sang istri harus tinggal di rumah mengurus anak dan rumah. Dan tidak menutup kemungkinan kedua-duanya bekerja, lalu siapa yang mengasuh anak dsb.
c.       Sikap dan tindakan yang kurang berkenan terhadap keluarga dari pihak istri/suami.
d.      Anak beranjak dewasa dan mulai sering meninggalkan rumah,  siapa yang bertanggung jawab? Dengan argumen dan dalil masing-masing saling menyerang.
e.      Masa pensiun tiba dan keduanya tinggal di rumah.
f.        Yang seorang selalu memencet pasta gigi dari bawah, sedangkan yang lain selalu dari atas.
g.       Saat berbicara, yang seorang senang bercerita panjang lebar, sedangkan yang lain memberikan garis besarnya saja.
h.      Yang seorang perlu kamar yang benar-benar gelap untuk tidur, sedangkan pasangannya tidur dengan lampu menyala.
i.         Yang seorang menganggap bahwa hubungan seksual hanya dapat dilakukan di tempat tidur dan di bawah selimut, sedangkan pasangannya menyukai variasi dan kreatif dalam melakukannya. Ketika yang satu menginginkannya dan pasangannya tidur dengan pulas, atau merasa tidak perlu, sehingga menimbulkan pemikiran yang beraroma negatif dan dapat menimbulkan konflik.
j.        Yang seorang biasa menggantung baju di mana saja dia suka, sedangkan yang lain menata baju dengan gantungan berdasarkan warna dan adanya jarak antar gantungan.
k.       Ketika anak dalam keadaan sakit, yang seorang terlihat begitu gelisah, sedangkan yang lain tampaknya tenang-tenang saja dan dapat tidur dengan pulas.
l.         Bagi suami istri yang sama-sama bekerja, perbedaan pendapatan atau penghasilan sering kali menjadi masalah, terutama jika pendapatan istri lebih besar dari pendapatan suami, umumnya menjadikan sang istri melupakan posisi keistriannya dalam keluarga. Seolah-olah uang bisa mengatur segalanya.

Faktor Pemicu Masalah Keluarga

Mengenai masalah dalam rumah tangga yang telah dituliskan dalam bukuantara lain menurut  Bernard Wiese dan Urban Steinmetz berkata:
"Ketidaksesuaian pendapat dan sudut pandang tak terelakkan dalam suatu pernikahan dan kehidupan keluarga. Kadang kala, masing-masing pribadi dapat menjadi pesaing bagi pasangannya, seperti juga penolong dan pelengkap bagi pasangannya. Setiap pasangan harus menghindari sikap menjauhkan diri yang sering muncul ketika konflik terjadi; dan membenahi hubungan mereka supaya tidak ada lagi sakit hati, keinginan untuk saling membalas, atau saling menuduh. Untuk dapat mencapai hal itu, perbedaan-perbedaan harus didiskusikan secara terbuka sehingga komunikasi yang baik dapat dipulihkan. Reaksi kemarahan memang tak dapat dihindari dalam kehidupan seseorang, tetapi yang paling penting adalah apa yang diperbuat seseorang dengan amarahnya itu."

Sedangkan H. Norman Wright, seorang konselor keluarga dan pernikahan, menyatakan bahwa ada tiga faktor yang berubah pada lembaga pernikahan, yang dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan rumah tangga, yaitu:

1. Berkurangnya keinginan hati saling pengertian di antara pasangan yang menikah.
Masalah utama dalam pernikahan yang terjadi  sebenarnya bukan masalah hubungan seks, uang, dan anak-anak.  Ketiga hal itu rentan dapat menimbulkan masalah, tetapi ada faktor lain yang lebih berpengaruh -- hilangnya/lemahnya komunikasi antara suami dan istri. Norman Wright setuju bahwa hilangnya komunikasi adalah inti masalah di balik meroketnya angka perceraian di masyarakat, termasuk keluarga Kristen.  Rapuhnya pernikahan lebih banyak disebabkan lemahnya komunikasi dan kemampuan dalam mengelola konflik. Komunikasi keluarga yang tersumbat ini menghancurkan kehangatan rumah tangga dan mendinginkan suasana hubungan antar pribadi dalam keluarga.

Keluarga yang kehilangan keterampilan berkomunikasi cenderung mudah mengalami konflik karena tidak adanya saling pengertian, demi terwujudnya pernikahan yang kuat dan bertumbuh. Konflik yang tidak dikelola dan diselesaikan dengan baik pun menjadi seperti api dalam sekam, atau bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu dengan dampak yang tidak terkendali. Karena itu, perlu ada sikap saling mengerti. Walaupun ada perbedaan, cobalah untuk membicarakan dan memahaminya dengan baik.
2. Hilangnya tekad dan keinginan untuk mempertahankan pernikahan.
Seiring dengan perkembangan zaman sekarang ini, banyak orang yang memasuki pernikahan dengan sikap mudah menyerah. Jika tidak cocok, hubungan dapat diakhiri dan mencoba lagi dengan orang lain. Begitu gampangnya mereka melupakan ikrar mereka yang diucapkan didepan jemaat terutama di hadapan Tuhan. Banyak orang yang sangat tidak sabar dengan hidup pernikahan mereka. Mereka tidak ingin berjuang untuk mempertahankan pernikahan, dan memilih "cara cepat" untuk mengakhiri persoalan.
3. Berkembangnya harapan-harapan yang tidak realistis terhadap pernikahan.
Banyak pasangan muda dibutakan oleh harapan-harapan yang tidak realistis ketika memasuki pernikahan. Saya sering mendefenisikan dengan istilah “ pasangan korban sinetron” ,mereka berpikir bahwa pernikahan yang bahagia ditandai dengan cinta romantis yang tidak pernah surut, pasangan dapat memenuhi semua keinginannya, pasangan selalu sejalan dengan pikiran dan kemauannya, ekonomi keluarga stabil bahkan berkelebihan, dsb.. Mereka mencari sesuatu yang "ajaib" dalam pernikahan, tanpa menyadari bahwa keberhasilan pernikahan membutuhkan kerja sama mereka berdua.

Bagaimana Mengatasi Masalah dalam Keluarga?
Salah satu kunci keberhasilan dalam keluarga ialah kemampuan mengatasi setiap permasalahan sehingga setiap anggota keluarga dapat memainkan perannya secara optimal. Kuasailah masalah dan carilah solusi bersama atas masalah tersebut. Ini bukan hal yang mudah, tetapi harus diupayakan. Cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah keluarga dapat memicu terciptanya proses pertumbuhan. Setiap pasangan Kristen seharusnya belajar dari berbagai konflik dan mau memiliki sikap yang lebih dewasa. Rumah memerlukan ketenangan yang hangat dan kehangatan yang tenang. Oleh sebab itu, bicarakan cara mengatasi dan menyelesaikan masalah yang ada, serta pahami dan terapkan prinsip-prinsip berikut ini :
a.       Bertumbuh dalam Kristus. Keinginan ini tidak dapat dibuat-buat dan tidak muncul secara otomatis. Keinginan ini bergantung pada hubungan pribadi yang sehat dengan Kristus dan ditandai dengan adanya kerinduan untuk berdoa dan membaca Alkitab sambil merefleksikannya dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Dampaknya, prinsip-prinsip kebenaran Alkitab dan nilai-nilai kristiani akan tampak dan dijunjung tinggi.
b.      Bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, selalu ingin belajar, mau memberi, bersedia berkorban, dan melayani. Jika setiap pribadi tidak mau mengasihi dan membahagiakan pasangannya, masalah yang ada tidak akan selesai dengan tuntas. Pribadi yang tidak mau menjadi lebih dewasa cenderung egosentris dalam menyelesaikan masalah keluarga.
c.       Berinisiatif dan mulai menyelesaikan masalah keluarga dengan penuh kesadaran. Setiap pribadi harus mempunyai keinginan kuat untuk mempertahankan keutuhan pernikahannya dan berusaha mencari alternatif solusi yang baik untuk semua pihak. Perlakukan orang lain (suami, istri, anak, atau orang tua kita) seperti kita ingin diperlakukan (Matius 7:12). Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, dan hendaklah kita hidup dengan ramah, kasih mesra, saling mengasihi, dan mengampuni sebagai dasar dalam mengatasi masalah keluarga kita (Efesus 4:32). Terkadang, kita perlu menanyakan pada diri sendiri: Apakah saya mencintai pasangan hidup saya seperti Kristus mencintai umat-Nya? Apakah saya sungguh-sungguh mencintai pasangan hidup saya seperti saya mengasihi diri saya sendiri? Jika jawabannya adalah TIDAK, mulailah untuk melakukan perubahan diri, maka pernikahan Anda akan menemukan kembali kehangatannya (Efesus 5:22-31).
d.      Berpikir positif terhadap pasangan. Pandangan positif akan melahirkan pendekatan dan cara-cara yang positif dalam mengatasi permasalahan dalam keluarga. Fokuslah pada kelebihan, bukan kekurangan pasangan Anda.
e.      Berpikir dan mewujudkan kehidupan keluarga yang sukses. Jangan pernah sekalipun memikirkan untuk bercerai sebagai solusi permasalahan keluarga. Tetapkan orientasi hidup pernikahan yang benar.
f.        Ingatlah selalu akan kasih mula-mula yang mendasari pernikahan. Jika Anda mengasihi pasangan yang Tuhan berikan, tidak akan ada keinginan untuk mengecewakan atau menyakiti. Yang ada adalah berbagi suka dan duka.

Dan, yang terpenting ialah menempatkan Tuhan dan firman-Nya sebagai Pemandu kehidupan pribadi dan keluarga. Ingatlah, keluarga kita akan bahagia jika Tuhan menjadi "Tamu" yang tetap di dalamnya. Pasangan yang berhasil membina keharmonisan bukanlah mereka yang memiliki pemikiran, perilaku, dan sikap yang persis sama, tetapi yang mau belajar menerima keberbedaan melalui proses penerimaan, pengertian, dan saling melengkapi. Berikut ini kutipan Kong Fut Tze mengenai keluarga yang harmonis, "Apabila ada harmoni di dalam rumah, akan ada ketenangan di masyarakat. Apabila ada ketenangan di masyarakat, ada ketenteraman di dalam negara. Apabila ada ketenteraman di dalam negara, akan ada kedamaian di dalam dunia."

Catatan
[1] Sebagaimana dikutip oleh H. Norman Wright. Untuk lebih jelasnya, lihat pada H. Norman Wright, Persiapan Pernikahan, (Yogyakarta: Gloria, 2000), hlm. 175.
[2] H. Norman Wright, Komunikasi: Kunci Pernikahan Bahagia, (Yogyakarta: Gloria, 2000), hlm. 14-17.
[3] Pdt. Yusak Susabda PhD, dkk., Konseling Pranikah: Sebuah Panduan untuk Membimbing Pasangan-Pasangan yang Akan Menikah, (Bandung: Mitra Pustaka, 2004), hlm. 92-93.

Diringkas dari: Nama situs: Blesseddayforus's Blog
Alamat URL: http://blessedday4us.wordpress.com/2010/06/02/problematika-dalam-keluarga/
Penulis: Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar