Pelajaran 1:
Pemimpin harus menghadapi kenyataan.
Kenyataan bermula dari orang yang bertanggung jawab. Para pemimpin perlu
melihat diri mereka sendiri dalam cermin dan mengenali peran mereka
dalam menciptakan berbagai masalah. Kemudian, mereka harus mengumpulkan
tim dan mencapai kata sepakat tentang akar masalahnya. Pengakuan luas
terhadap kenyataan merupakan langkah penting sebelum masalah dapat
diselesaikan. Mencoba mencari perbaikan-perbaikan jangka pendek yang
sesuai dengan gejala krisis hanya akan memastikan bahwa organisasi
tersebut akan kembali pada keadaannya semula.
Untuk memahami alasan sebenarnya dari sebuah krisis,
setiap orang yang berada dalam tim kepemimpinan harus bersedia
menceritakan seluruh kebenarannya. Pemimpin tidak dapat menyelesaikan
masalah jika mereka tidak mengakui keberadaan mereka.
Pelajaran 2:
Tak peduli seburuk apa pun keadaannya,
keadaan itu akan bertambah buruk. Diperhadapkan pada berbagai berita
buruk, banyak pemimpin tidak dapat percaya bahwa hal-hal ternyata begitu
suram. Akibatnya, mereka berusaha meyakinkan sang pembawa berita buruk
bahwa hal-hal tidak seburuk itu dan reaksi yang cepat akan dapat
mengusir masalah.
Hal ini mengakibatkan para pemimpin meleset dari
sasaran dalam hal tindakan-tindakan korektif. Akibatnya, mereka akan
mengambil serangkaian langkah, yang tidak satu pun di antaranya cukup
kuat untuk memperbaiki lingkaran sasaran yang menurun. Jauh lebih baik
jika para pemimpin mengantisipasi keadaan terburuk dan keluar dari
keadaan tersebut. Jika mereka menyusun ulang basis biaya untuk masalah
terburuk, mereka dapat menjaga organisasi tetap sehat saat perubahan
haluan terjadi dan mengambil manfaat dari kesempatan yang ada.
Pelajaran 3:
Bangunlah gunung uang tunai dan capailah
bukit tertingginya. Pada masa-masa menyenangkan, para pemimpin lebih
khawatir akan keuntungan per saham dan pertumbuhan pendapatan daripada
tentang neraca mereka. Dalam sebuah krisis, uang tunai adalah raja.
Lupakan tentang keuntungan per saham dan semua perhitungan pasar saham.
Pertanyaannya adalah "Apakah organisasi Anda memiliki uang tunai yang
cukup untuk bertahan dalam keadaan yang paling mengerikan?"
Pelajaran 4:
Lepaskan dunia dari bahu Anda. Pada masa
krisis, banyak pemimpin bertindak seperti Atlas, memanggul bola dunia
di bahunya. Mereka menyendiri dan berpikir bahwa mereka dapat
menyelesaikan masalah yang ada seorang diri. Kenyataannya, pemimpin
membutuhkan bantuan anggota timnya untuk merancang solusi dan
mengimplementasikannya. Hal ini berarti membawa tim Anda menuju rasa
percaya diri mereka, meminta bantuan dan ide-ide mereka, serta
mendapatkan komitmen mereka terhadap berbagai tindakan korektif yang
menyakitkan.
Pelajaran 5:
Sebelum meminta orang lain untuk
berkorban, ajukan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Jika memang harus
ada sesuatu yang dikorbankan, pemimpin harus melangkah maju dan
memberikan pengorbanan yang paling besar. Semua orang mengawasi apa yang
akan dilakukan sang pemimpin. Apakah pemimpin akan tetap teguh pada
nilai-nilai mereka? Ataukah mereka akan tunduk pada berbagai tekanan
dari luar, atau menghadapi secara langsung krisis tersebut? Apakah
mereka akan terbujuk dengan penghargaan-penghargaan jangka pendek
ataukah mereka akan melakukan pengorbanan jangka pendek untuk
memperbaiki situasi jangka panjang?
Pelajaran 6:
Jangan pernah menyia-nyiakan sebuah
krisis yang baik. Saat hal-hal berjalan baik, orang-orang menolak
berbagai perubahan penting atau mencoba melakukan berbagai adaptasi
kecil-kecilan. Sebuah krisis menyediakan suatu platform bagi pemimpin
untuk menyelesaikan semua hal yang diperlukan dengan cara apa pun dan
menawarkan rasa urgensi untuk mempercepat implementasi.
Pelajaran 7:
Agresiflah di pasar. Ini mungkin
terdengar kontraintuitif, namun sebuah krisis menawarkan kesempatan
terbaik untuk mengubah permainan sesuai selera Anda, dengan berbagai
produk atau layanan baru untuk mendapatkan pangsa pasar. Banyak orang
melihat sebuah krisis sebagai sesuatu yang harus dilewati, sampai mereka
dapat kembali ke bisnis seperti biasanya. Namun, "bisnis seperti
biasanya" itu tidak pernah kembali karena pasar telah mengalami
perubahan yang tidak dapat ditarik kembali. Daripada menunggu dan
bereaksi terhadap berbagai perubahan yang terjadi, mengapa tidak
menciptakan berbagai perubahan yang menggerakkan pasar sesuai selera
Anda? (t/Berlin B.)
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | The Wall Street Journal |
| Alamat URL | : | http://guides.wsj.com |
| Judul asli artikel | : | Leadership in a Crisis – How To Be a Leader |
| Penulis | : | Bill George |
| Tanggal akses | : | 1 Oktober 2013 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar