2013-11-26

MELULUHKAN SANG TIRAN



MELULUHKAN SANG TIRAN
(Melawan Orang Yang Otoriter)
Diambil dari Buku “Healing Your Family Tree”
(Beverly Hubble Tauke, Tyndale PH)



Dia berani menghadapi salah satu Presiden Amerika Serikat dan menyeretnya turun dari kursi kepresidenan, sesudah Presidan dan orang-orangnya bukan hanya mengancam akan menyerangnya secara fisik, tetapi juga mengancam menghabisi profesi dan keuangannya.
            Apa yang menjadi tujuannya bukanlah manipulasi politik, melainkan mengemukakan kebenaran—akhirnya, kebenaranlah dan bukan Katharine Graham dari Washington Post –yang membuat Richard Nixon yang brilian namun tidak bijaksana itu meluncur jatuh dari garis sejarah.
            Katharine Graham nampak berdiri kokoh penuh tekad, tidak bergeming meskipun menghadapi berbagai kekacauan hukum, media massa, kekacauan sosial dan politik dalam skandal Watergate yang sangat menghebohkan itu.
            Selain orang-orang terdekatnya, siapa yang menduga bahwa Katharine Graham bisa mewarnai sejarah negara Amerika Serikat sesudah tahun-tahun penuh penderitaan dan penindasan oleh suaminya yang sewenang-wenang?
            Katharine baru mengenal Phil Graham beberapa kali melalui berbagai acara sosial sebelum Phil melamarnya. “Saya terpesona dan terpukau,” Katherine melaporkan dalam autobiografinya tahun 1997.  “Saya merasa sangat tersanjung—pria brilian yang memukau, menawan hati banyak orang dan mempesona ini mencintaiku!”
            Phil Graham berasal dari keluarga miskin yang tinggal di Florida, namun sebagai presiden Harvard Law Review kehidupan Phil Graham dikelilingi oleh koneksi-koneksi yang sangat kaya raya.  Dengan sedikit enggan, dia menerima tawaran untuk pindah menduduki manajemen puncak Washington Post yang dimiliki mertuanya, ayah Khatarine.  Graham menduduki jabatan sebagai salah satu pemilik Washongton Post pada usia tiga puluh satu tahun.  Karismanya yang luar biasa menarik perhatian para gubernur negara bagian dan kepala perusahaan-perusahaan multinasional serta para tokoh di bidang media massa.
            Di rumah, Katharine dengan sukarela merelakan diri menjadi korban sisi gelap Phil Graham.  “Anehnya, saya seakan-akan menikmati benar menjadi isteri yang bagaikan pembantu.  Apapun alasannya, saya suka didominasi,”  tulis Katharine.  “Saya benar-benar terpesona dan terpukau oleh Phil, namun saya juga sedikit jengkel…karena merasa terlalu sangat bergantung kepadanya.”
            Keluarga Graham ini menggambarkan dengan pas sekali apa yang dilukiskan Dr. Susan Forward dalam Emotional Blackmail, di mana korban sering dibawah sadar (subconsciously) mendorong diri mereka sendiri untuk secara psikologis “dipukuli lagi dna lagi” melalui perilaku yang memberikan ganjaran positif, terus menerus menghidupkan atau gagal menghalangi terjadinya pelecehan/penganiayaan.
            Berbagai pertengkaran hebat dalam pernikahan biasanya mengembangkan pola “terpicu oleh alkohol, minta maaf lalu mengurangi mabuk-mabukkan.”  Sebagaimana yang digambarkan Katharine,  “Kami tidak pernah bertengkar di depan umum—biasanya kemarahan besar itu akan meledak sesudah kami meninggalkan suatu tempat dan biasanya terpicu hanya oleh hal yang sepele….  Ia nampaknya selalu menyambar alasan sekecil apa pun untuk meluapkan kemarahannya.
           
TAKTIK MENGENDALIKAN orang yang sewenang-wenang

Graham terus berusaha agar Katharine menemaninya ke mana-mana, bahkan mendorong Katharine untuk mengembangkan kemampuan profesi dan intelektualnya, namun kata-katanya terus-menerus menyerang Katharine dan membuatnya menjadi bahan tertawaan dan bahan olok-olok keluarga.
            Serangan-serangan ini “pelan-pelan menggerogoti seluruh rasa percaya diri saya,” tulis Katharine, tetapi “Saya masih sangat terpesona olehnya sehingga saya tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang berlangsung.”
            Akhirnya, penderitaan Katharine yang tersembunyi ini pun diketahui oleh masyarakat luas karena serangan depresi yang diderita Phil berulang kali, tumpang tindih dengan perselingkuhan yang dipamer-pamerkannya, perilaku aneh di depan umum serta kesukaannya berfoya-foya dan memborong belanjaan sebanyak-banyaknya.
            Ketika Phil mengumumkan bahwa ia tidak hanya merencanakan menikahi wanita simpanannya tetapi juga berniat untuk tetap memegang saham terbesar Washington Post yang diberikan oleh mertuanya, Katherine akhirnya maju menguatkan diri.  Phil boleh saja meninggalkan dia—tetapi tidak boleh membawa perusahaan yang menjadi warisan keluarganya.
            Menurut Patricia Evans dalam The Verbally Abusive Relationship, mereka yang terbiasa menyakiti orang lain baik secara fisik maupun perasaan biasanya tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan.  Phil Graham pun terkejut sekali.
            Katharine memenangkan perebutan menyelamatkan Washington Post.  Dia juga bertekad bulat untuk melindungi dirinya dari aniaya.  Phil Graham sangat beruntung karena setelah berbulan-bulan keluyuran dengan wanita simpanannya akhirnya ia diterima kembali memasuki kehidupan Katharine dan kembali ke rumah tangga mereka.  Dia ditemukan menderita manic depression, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan gangguan bipolar/bipolar disorder. 
            Penderita gangguan bipolar masa kini bisa mendapatkan perawatan yang baik.  Akan tetapi pada masa itu, gsnggguan bipolar membuat Graham terperangkap keputusasaan.  Tidak lama sesudahnya dia mengakhiri kehidupannya yang bergejolak namun sebenarnya penuh potensi menjanjikan itu dengan menembak dirinya sendiri.
            Meskipun menderita banyak trauma batin, dalam beberapa hal Katharine Graham sangatlah beruntung.  Dia memiliki keluarga yang kaya, keamanan finansial dan keempat anaknya tumbuh dnegan baik.  Dia juga terbukti mewarisi darah leluhurnya yang mengantar mereka menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam dunia media massa di Amerika.
            Ketika Phil masih hidup dan Katharine harus berjuang mempertahankan perusahaan warisan keluarganya ini, dia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat yakin bahwa Katherine akan mampu menjadi nahkoda Post.  Dia juga dilindungi oleh sekelompok karyawan perusahaan yang sangat handal dan wartawan-wartawan yang berbakat dan sangat loyal kepadanya.  Lama tertindas oleh kekuatan yang sama sekali tidak mampu dilawannya, Katharine Graham akhirnya belajar untuk mengggunakan berbagai kekuatan di luar dirinya secara konstruktif.
            Ketika Katharine Graham akhirnya membuka keterlibatan orang-orang terkenal di dunia yang terlibat skandal Watergate, dia menunjukkan kemampuan luar biasa dalam hal independensi (kemerdekaan), keberanian dan tekad.  Tetapi seperti orang lain, selama dia menundukkan diri dan menyerah kepada kontrol dari luar yang menganiayanya, maka kehidupan pribadinya diwarnai banyak penderitaan.  Perhatikan tabel …

Faktor-faktor Eksternal dalam Pengambilan Keputusan
(Bisa Digunakan sebagai Alat Memaksakan Kepatuhan)
Paksaan (Coercion)
oleh mereka yang memegang kuasa untuk menghukum
Upah (Reward)
oleh mereka yang memegang kendali atas sumberdaya terlihat maupun tak terlihat
Keahlian (Expertise)
Oleh mereka yang menganggap diri mempunyai keahlian luar biasa
Karisma (Charisma)
Oleh mereka yang kepribadiannya sangat menarik sehingga membuat orang lain merasa tidak ada apa-apanya
Otoritas (Authority)
Oleh mereka yang dengan susah payah mendapatkan atau diberi wewenang/otoritas
Pengetahuan (Knowledge)
Oleh mereka yang dianggap lebih bijaksana, lebih pintar atau lebih berpengetahuan

Siklus *Tirani/ (kesewenang-wenangan)

Perubahan “mood”/perasaan Phil Graham—dari perilaku memikat hati menjadi penganiaya dan kembali menjadi lembut lagi—umum dijumpai pada siklus orang yang suka menganiaya.  Sebagaimana yang ditemukan oleh Katharine Graham, mereka yang hidup bersama dengan orang seperti ini akan menjumpai diri mereka turun derajat menjadi seperti bola tenis: Bam! Dipukul sekeras-kerasnya ke satu arah, kemudian bum! Dihajar kembali ke arah yang sebaliknya.
            Pertama, orang yang suka menganiaya menampilkan diri mereka sedemikian rupa untuk menawan hati orang lain baik secara emosi, sosial maupun fisik.  Kemudian, ketegangan akan meningkat karena dia mulai mengirimkan berbagai gelombang kekacauan—kadang-kadang khusus/eksklusif hanya untuk orang terdekatnya saja.
            Sesudah itu mulai muncul berbagai serangan verbal yang tajam atau ledakan kemarahan.  Jika ini dimotori oleh alkohol atau obat-obatan yang mengacaukan pikiran maka ledakannya akan menjadi lebih sering dan lebih panas.  Akhirnya, orang yang menganiaya ini akan menarik diri dan seakan-akan bersembunyi di balik ilusi ketenangan dan perasaaan teduh, bahkan penyesalan, sehingga sering membuat korban kembali terperangkap.

Batasi agar Anda tidak sering bergaul dengan pemarah.  Emosi mereka menular dan karenanya Anda akan merusak jiwamu sendiri.
                                                            PENAFSIRAN DARI AMSAL 22:24-25

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang suka menganiaya keluarganya seringkali menunjukkan gejala di perbatasan gangguan kejiwaan.  Orang-orang seperti ini luar biasa waspada, terus menerus mencurigai adanya penghianatan, kadang bahkan sampai bisa menemukannya di tempat yang sebenarnya tidak ada.  Radar sosial mereka yang begitu melenceng membuat mereka sama sekali tidka bisa diandalkan, selalu terombang-ambing.  Orang dengan pribadi seperti ini pada akhirnya akan patah karena mereka tidak percaya kepada orang yang dapat diandalkan dan menaruh percayanya justru pada mereka yang curang/berkhianat.
            Pikiran Phil Graham yang bingung membawanya kepada pola seperti ini.  Dia menyerang dengan kata-kata tajam dan menyakitkan bukan hanya kepada istrinya yang setia, tetapi juga kepada teman-teman baiknya dan bahkan pada Presiden John Kennedy yang adalah temannya.  Yang mebuat karir, keluarga dan kekayaannya terancam, bukanlah musuh yang dibayangkannya tetapi serangan-serangannya yang konfrontasional, membakar dan menghina.
            Terobsesi oleh keinginannnya untuk mengatur dan mengendalikan segala sesuatu dan siapa saja yang ada di sekitar dirinya, orang-orang yang sewenang-wenang ini biasanya memiliki konsep diri yang sangat kacau, hati yang kosong, depresi kronis dan tidak mampu menenangkan atau meneduhkan dirinya sendiri.  Sebagai orang yang menderita adiksi hubungan/relationship addict, mereka berusaha keras diterima atau dinilai tinggi oleh orang lain dan tersiksa oleh berbagai rasa takut yang saling bertolak belakang satu sama lain:
  • Takut akan ditinggalkan oleh orang-orang yang paling dikasihi atau teman baik
  • Takut akan tercekik oleh kedekatan hubungan sebab hubungan yang dekat akan menipiskan kendali atau kewenangannya.

Melekat erat, panik, menolak.  Melekat erat, panik, menolak.  Inilah siklus yang umum ditemui pada orang-orang yang suka mengendalikan.  Tidak heran jika orang yang seperti ini akhirnya sengsara karena hubungan-hubungan yang berantakan, isolasi sosial maupun kehilangan dukungan sosial.
            John N. Briere, seorang dosen di University of Southern California School of Medicine, menemukan kaitan yang snagat kuat antara gejala yang nampak pada orang-orang yang cenderung suka menganiaya dengan masa kanak yang sangat menderita, baik penderitaan fisik maupun perasaan.
            Kita cenderung menganggap bahwa ibulah yang paling membentuk dan mewarnai kepribadian seorang anak.  Tetapi para peneliti menemukan bahwa penolakan seorang ayah umumnya merubah seorang anak kecil (laki-laki) yang sangat berharga menjadi “teroris” keluarga bagi isteri, anak-anak dan masyarakat di masa depannya.
            The Abusive Personality oleh Donald G. Dutton, mencatat bahwa kontributor terbesar di masa kanak yang membuat seseorang berkembang menjadi penganiaya menurut urutan yang paling penting adalah:
  1. Yang dirasakan anak akibat penolakan sang ayah
  2. Yang dirasakan anak akibat “dinginnya” tanggapan si ayah
  3. Aniaya fisik dari ayah
  4. Aniaya verbal dari sang Ayah
  5. Yang dirasakan anak akibat penolakan sang Ibu

Yang disebut aniaya, bukan hanya terbatas kepada aniaya fisik saja.  Aniaya fisik hanya menyakiti tubuh, tetapi justru “serangan yang terus-menerus terhadap harga diri seorang anak” yang dilakukan di depan umum, hukuman-hukuman acak, serta serangan kata-kata tajam terhadap kepribadian seorang anaklah yang memberikan sumbangan besar terhadap terbentuknya kepribadian penganiaya fisik maupun emosi.  Demikian menurut Dutton.
“Jika saya harus memilih satu saja tindakan tunggal yang dilakukan orang tua yang paling memberi sumbangan terhadap terbentuknya pribadi penganiaya,” demikian kata profesor psikologi dari University of British Columbia ini, “maka saya akan menunjuk pada dipermalukan oleh sang ayah.”*8

Tentang keuletan/ketabahan, masih tetap misteri bagi kami soal bagaimana seorang yang sudah diinjak-injak, dikurung, dipukuli, dibenci dan dibuang bisa…akhirnya bangkit seperti burung Phoenix yang muncul dari debu.
                                                                              GINA O’CONNEL HIGGINS
                                                                  Resilient Adult:overcoming a Cruel Past

Orang dewasa yang mengalami trauma masa kecil seringkali memiliki struktur saraf yang sudah melenceng/terpelintir sedemikian rupa sehingga pemicu yang sangat kecil sekali pun akan mengguncang dan menimbulkan reaksi yang sangat berlebihan.  Sama seperti korban gangguan stress pasca trauma /post traumatic stress disorder, maka anak yang pernah dianiaya atau ditelantarkan orang tuanya di masa kecil akan memendam campuran kemarahan, rasa malu, rasa tidak percaya dan kecemasan yang sifatnya sangat mudah meledak.  Begitu anak ini menjadi dewasa, apa yang dulu dipendamnya akan mulai naik dan meledak ke permukaan.  Baik dia sendiri maupun pasangannya yang romantis—sosok baru yang menggantikan kedekatan yang diharapkannya dari orang tua—menyadari bahwa di hadapannya ada gunung yang bisa sewaktu-waktu meletus.
      Dutton mengatakan bahwa “sesudah beberapa kali meledak maka kecenderungan menganiaya itu menjadi tertanam di dalam sistem.  Mereka menjadi terprogram untuk melakukan aniaya terhadap orang-orang dekatnya.”  Anak yang dulu jadi korban trauma itu sekarang tumbuh menjadi yang menganiaya, dan kecenderungan yang dipendam sangat dalam biasanya akan bertahan hebat tidak mau diubah.  Ketika perilaku yang sangat meminimalkan hubungan ini diterapkan terhadap orang yang paling dekat, maka pihak luar hampir-hampir tidak bisa melihat bahwa ada orang yang sedang berperan bagaikan Jekyll dan Hyde **(kisah seseorang dengan kepribadian ganda yang saling bertentangan satu sama lain.  Satu sisi sangat baik, satu sisi sangat buruk.).


      Dalam kasus seperti ini, orang di luar mereka akan melihat korban sebagai sosok yang suka mengeluh, tidak tahu terimakasih atau sosok yang sedikit gila ketika dia seringkali mengeluhkan pasangannya; sedangkan pasangan si korban dipandang orang lain sebagai orang yang sangat baik atau paling tidak dia bukan orang yang berbahaya..  Siapa yang yang ingin bertahan selamat dari kasus semacam ini perlu belajar bagaimana mempergunakan semua Faktor-faktor Pengambilan Keputusan dari Luar Diri Kita (hal…) yang sering digunakan oleh para penganiaya untuk menganiaya.
Katharine Graham melatih menggunakan kekuatan dari luar ini.  Ia mempunyai dan memenangkan sekutu-sekutu yang memiliki keahlian dan pengetahuan dan otoritas yang menolong dia menang dalam peperangan melawan hukum dan politik perusahaan dan berhasil mempertahankan warisan keluarganya, koran terkenal Washington Post.

TIRAN KELAS *dua/teri

Mungkin tiran/orang yang sewenang-wenang dalam keluargamu, tidaklah semengerikan Phil Graham.  Namun tiran kelas dua sama saja seperti uranium kelas dua, tetap membuat anda beresiko terpapar radiasi.
Dalam berbagai lokakarya Kebiasaan-kebiasaan Keluarga yang saya adakan, para peserta menawarkan kidah-kisah mereka sendiri untuk dibahas dalam kelompok.  Pertimbangkan beberapa kisah tiran dalam keluarga ini, dan kemungkinan-kemungkinan respon seperti apa yang bisa Anda berikan  Apa yang akan anda kerjakan jika Anda menghadapi tiran semacam ini di dalam keluargamu?

  • Tukang Cuci Mobil.  Orangtua Anette memintanya datang.  Anette harus menyopir mobil menempuh jarak seraus limapuluh mil pulang pergi untuk mencucikan mobil van mereka tiap bulan.  Tempat cuci mobil di kota tempat orang tuanya berdiam, cukup “murah dan bagus” kata Anette, tetapi orangtuanya bilang bahwa tidak ada seorangpun yang mencuci mobil mereka sebersih dan secemerlang seperti Annete.  Sesudah mobilnya dicucikan, mereka tidak lalu mengajak Annette berjalan-jalan mengunjungi teman atau mengundang dia masuk ke dalam rumah—mereka hanya ingin mobil vannya di bersihkan, itu saja!  Jika Anette tidak mau, dia akan didiamkan oleh kedua orangtuanya.
  • Terlambat!.  Suami Cherie minta makan malam harus selalu tersedia jam 6 tepat.  Dia tidak peduli bahwa Cherie harus merangkap menjadi sopir bagi lima orang anak mereka, bukan hanya ke sekolah tetapi juga ke latihan dan pertandingan basket, sepakbola dan berenang serta ulang tahun teman.  Jika makan malam lewat sedikit dari jam enam Gerald dengan wajah cemberut akan memilih tidur di kamar tamu.
  • Nenek Baik Hati.  Albert yang berumur tiga puluh tahun, istrinya dan tiga orang anaknya pindah ke lantai bawah rumah ibunya, rencananya hanya untuk satu buan saja.  Dengan cepat mereka mengambil alih dan menguasai seluruh rumah dan mengharapkan nenek yang selalu menyediakan makanan mereka, membayar segala sesuatu yang mereka perlukan, mengambili dan menata barang-barang yang berantakan…dan satu bulan pun mundur menjadi satu tahun.  Nenek yang sangat kelelahan ini tidak tahu harus bagaimana meminta mereka keluar dari rumahnya tanpa membuang Albert, anaknya.
  • Isteriku, Milikku dan Hakku.  Jika Glen terbangun jam dua pagi dan dia sedang menginginkan hubungan badan, maka ia akan mencolek Frances dan meminta dilayani.  Glen berpikir “Ah..ini kan sudah hakku, aku yang kerja cari uang untuk menghidupi mereka.”
  • Mama Pengatur.  Gay akan menikah.  Ia menunggu sampai saat yang tepat untuk memesan gaun pengantinnya, supaya gaun yang diimpi-impikannya itu bisa pas benar dengan ukuran tubuhnya.  Sementara itu, secara sembunyi-sembunyi ibunya membayar seorang penjahit untuk membuat duplikat gaun pengantinnya yang dipakainya dua puluh lima tahun yang lalu—model gaun itu sama sekali tidak cocok untuk Gay karena bentuk tubuh mereka sangat berbeda.  Mamanya yang berusia lima puluh tahun itu marah besar karena Gay dianggapnya tidak tahu berterimakasih.
  • Gila banget!  Kevin pindah ke rumah istrinya, Gloria.  Karena dia sangat suka peanut butter dingin, maka dia menaruh satu botol peanut butter di lemari es.  Keesokan harinya, dia menemukan peanut butter-nya tersimpan di lemari, semua sudah tidak dingin sama sekali.  Dia mengembalikannya ke lemari es.  Besoknya peanut butter kembali ke lemari lagi dengan catatan “Kevin—peanut butter ini harus tetap disimpan di lemari dapur, sebab di situlah tempat yang seharusnya.”  Okey, jadi mungkin dia (Kevin) yang aneh.  Tetapi Gloria juga memberitahu dia untuk TIDAK menggantung jaketnya di tempat tertentu; TIDAK BOLEH mengisi freezer dengan jenis es krim tertentu selain satu jenis yang disukai Gloria; dan benar-benar TIDAK boleh menyalakan lebih dari satu bola lampu di satu ruangan.  Ini adalah rumah Gloria, dan seorang suami tidak boleh begitu saja merusak sistemnya.

Orang-orang yang menghadapi anggota keluarga yang bagai tiran kelas dua ini merasa stres, diremehkan dan kehilangan semangat.  Apa yang harus dilakukan?
            Dalam sebuah kisah yang pantas masuk dalam acara TV terkenal Prime Time Live, Abigail menunjukkan strategi cerdas untuk mengempiskan kewenangan seorang tiran di dalam keluarga.  Kisahnya bisa langsung Anda baca di 1 Samuel 25.  Kisah ini begitu menarik sehingga tidak aneh jika Abigail sangat terkenal dalam loka-karya keluarga yang saya adakan di gereja-gereja.  Di sebuah bangsa (USA) yang berdasarkan laporan jajak pendapat Gallup 95% dari populasinya percaya akan Allah dan 65% mengaku sebagai anggota jemaat sebuah gereja tertentu maka kisah Abigail mempunyai banyak relevansi dengan korban aniaya di abad 21 ini.
            Nabal, Suami Abigail suka minum-minum dan impulsif.  Nabal membuat kesalahan besar karena memicu kemarahan Daud, seorang pria yang dengan cepat mampu mengumpulkan empat ratus orang yang melarikan diri dari hukum.  Mereka bersumpah untuk tidak hanya membunuh Nabal, tetapi juga semua pria yang bekerja untuknya.  Semua laki-laki di rumah it akan dibunuh.  Habis perkara!
            Nabal sama seperti para penganiaya masa kini.  Mereka tidak hanya melukai keluarganya secara langsung tetapi juga mengundang kesengsaraan tidak langsung bagi keluarganya.  Jika penganiaya seperti ini adalah pria, maka isteri dan anak-anaknya terpaksa mengambil alih tanggungjawabnya sebagai ayah, sebab terlalu beresiko untuk menyandarkan diri kepada seseorang yang tidak bisa di duga, dan kadang meledak-ledak.  Reputasi keluarga menjadi hancur lebur karena tindakan sang penganiaya yang sama sekali tidak bertanggung jawab, isteri dan anaknya menjadi malu dan terasing dari kehidupan masyarakat.  Perilaku antisosial juga mengundang tindakan hukum oleh sistem hukum yang berlaku dan lembaga penegakan hukum, sama seperti Nabal mengundang tindakan gerombolan di bawah pimpinan Daud; bukan hanya mengancam Nabal saja akan tetapi juga mengancam seluruh keluarganya.  Serangan tidak langsung yang dilakukannya terhadap keluarganya sendiri ini membuat mereka terluka dan menekan; baik secara emosi, finansial, spiritual, fisik maupun sosial, menorehkan luka yang tak terlihat namun menyakitkan dan menghancurkan generasi demi generasi dalam keluarga.
            Melihat bahwa Nabal terancam bahaya besar, maka  salah seorang pelayannya memberitahu Abigail, yang mampu melihat adanya bahaya dan kesempatan sekaligus.  Kemampuannya berpikir strategis membuat dia lari meninggalkan bahaya dan mengejar kesempatan.  Dia memperteguh kemenangan ini dengan secara bijak mendengarkan nasehat bawahannya, sekutunya yang berharga, dan memanfaatkan keadaan yang menguntungkan—Nabal yang sedang tidak sadar.  Abigail pun berangkat membawa persembahan perdamaian.

Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.
Amsal 22:3

            Dengan kemauanya yang keras namun penuh diplomasi, Abigail berhasil bernegosiasi dengan Daud yang nantinya menjadi raja Israel.  Saat itu, Daud masih dipenuhi keinginan membunuh dan dia membawa para pendukungnya untuk membalas dendam.  Sedangkan Nabal, sesudah sadar dari minum-minum akhirnya menjadi sangat ketakutan.  Ia hampir saja mati.  Prospek bahwa dia akan terpaksa menghadapi hukum rimba langsung melenyapkan semua kesombongan,dan kemarahannya—secepat kilat.

KEBUTUHAN UNTUK MENDAPATKAN ARAHAN INTERNAL
            Bisakah Anda membayangkan bahwa dalam kehidupan bangsa Israel kuno, bagaimana mungkin sekelompok pria yang mengelola suatu tanah pertanian bisa minta tolong kepada seorang wanita?
            Abigail punya setumpuk aset internal, dia cerdik dan bisa menjadi alat pertahanan yang kokoh.  Kekayaan internal seseorang dalam mengambil keputusan membuatnya mampu mempengaruhi keluarga dan masyarakat sekelilingnya.

FAKTOR-FAKTOR INTERNAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kehendak
Keputusan di dalam diri yang berhubungan dengan kemauan, otonomi, dan tekad
Pengetahuan
Fakta-fakta, penyelidikan dan data objektif
Visi
Mengetahui tujuan yang ingin dicapai dan cara mencapainya
Penilaian
Pengambilan keputusan berdasarkan data, *insting/firasat/naluri
Hati nurani
Panduan dari dalam; apa yang benar dan apa yang salah
Kepekaan sosial
Pemahaman instingtif akan perilaku dan sikap dan akibatnya bagi orang lain
Iman
penyerahan kepada Tuhan, ke mana harus melangkah, perlindungan dan nilai kekal dari sesuatu dan perasaan aman.

            Abigail bukan hanya sangat peka.  Wanita beriman ini juga mempunyai apa yang dijadikan Rick Warren sebagai  judul bukunya Purpose Driven Life/Hidup yang Bertujuan.  Agendanya yang berfokus kepada Allah dan hati nuraninya yang tajam tidak akan membiarkan dia mementingkan keselamatan prubadinya di atas kepentingan mereka yang menjadi sasaran balas dendam Daud.  Tetapi, Abigail juga menyadari bahwa nilai-nilai inti yang dipegang oleh Daud itu sejalan dengan nilai-nilainya; kalau saja dia bisa menembus kemarahan Daud maka masalahnya pasti teratasi.
            Rick Warren mengamati bahwa “Daud sangat menginginkan mengenal Tuhan lebih dari apa pun di dalam hidupnya…Daud benar-benar kecanduan Allah.”  Abigail yang sangat peka ini memperingatkan Daud bahwa pembalasan berdarah akan menghambat keinginannya yang terdalam: semakin dekat Allah.
            Kita hampir bisa merasakan bagaimana Daud menarik nafas dalam-dalam mendengar hal ini.
            Orang yang nantinya menjadi Raja Israel, yang gagah berani, tampan, memukau, puitis dan penuh semangat ini terpukau oleh wanita yang pemberani dan berpikir jernih ini.  Ketika Nabal akhirnya meninggal sepuluh hari sesudah trauma yang dipicunya sendiri, Daud terpikat oleh kebijkan Abigail dan keberaniannya; meminta Abigail menjadi istrinya.
            Perhatikan studi kasus yang ada dalam lampiran hal….  Studi kasus ini bisa menolong Anda mengevaluasi bagaimana kepekaan rohani sejenis yang dimiliki Abigail merupakan hal yang penting jika Anda ingin memenangkan hidupmu dari cengkeraman orang yang telah bertindak sewenang-wenang padamu.

Bagaimana “mengempiskan” kekuatan orang yang sewenang-wenang
Kita cenderung menanggapi orang yang sewenang-wenang dalam dua bentuk respon ekstrim: menyerah atau membalas.
C.S Lewis mengatakan bahwa secara pasif mengijinkan orang lain mengendalikan hidup kita seakan akan dia itu Allah adalah sebuah tindakan penyembahan berhala.  Tetapi menanggapi dengan cara yang keras dan membalas adalah tindakan yang menghianati diri sendiri karena membuat si korban bergeser menjadi si penganiaya.   Abigail membuktikan bahwa taktik terbaik untuk menghadapi orang yang suka mengendalikan adalah dengan mengembangkan kemampuan penilaian yang baik dan pengendalian diri.  Prinsip-prinsip “mengempiskan” kekuatan orang yang sewenang-wenang (tabel…) merupakan hal penting dalam menghadapi orang semacam ini.



PEMBICARAAN YANG MENGUSUNG KEMATIAN VERSUS YANG MENGUSUNG KEHIDUPAN
“Mendekatlah,” suara serak itu berasal dari arah setumpukan bantal di rumah sakit.  Sambil menyiapkan hati menghadapi ibunya yang mudah meledak dan selalu menyerangnya dengan kata-kata yang tajam, Geraldine pelan-pelan beringsut ke arah ibunya, Marylin.  Dokter telah memperkirakan bahwa usia Marylin tidak akan bertahan sampai 24 jam berikutnya.  “Saya akan bicara denganmu dari kuburku,” bisik Marylin—bibirnya membentuk sekelumit senyum sementara tatapan matanya sekeras baja.
            Geraldine merinding.  Ibunya memang biasa menyampaikan sumpah serapah.
            Tanah merah masih segar di kuburan Marylin saat pengacaranya memanggil kedua anak perempuannya dan tiga cucunya untuk menghadiri pembacaan surat wasiat.  Marylin mempunyai banyak harta sehingga surat wasiatnya pasti akan mengubah kehidupan ke lima orang yang berhak menjadi ahli warisnya ini.
            Dan memang demikianlah yang terjadi.  Nama mereka berlima muncul dalam surat wasiat itu.  Empat orang mendapatkan warisan beberapa benda kecil di dalam rumahnya.  Benda-benda ini mengingatkan mereka pada kegusaran dan kemarahan Marylin ketika masih hidup.  Orang kelima, anak laki-laki Geraldine adalah satu-satunya yang menerima warisan dalam bentuk uang.  Bukan karena dia dulunya sangat menjadi kesayangan neneknya, namun karena dengan demikian sekarang ia bisa dipakai menjadi alat menyiksa, alat hidup untuk menyakiti ahli waris Marylin.
            Cucunya yang seorang itu menerima warisan lebih dari 1.5 juta dollar.  Penggunaannya diawasi oleh orang-orang yang ditunjuk mendiang Marylin.  Warisannya itu boleh dipakai untuk memperbaiki mobilnya atau segala sesuatu di dalam rumahnya bahkan boleh untuk membayar cicilan rumahnya.  Tetapi di dalam surat wasiat itu dicantumkan bahwa yang diijinkan untuk diperbaiki atau diganti hanyalah kendaraan atas namanya dan hanya untuk barang miliknya serta barang yang dibeli untuk mengisi atau memperbaiki rumahnya.  Jika ia melanggar aturan ini maka semua harta warisan itu akan diberikan kepada sebuah lembaga nirlaba yang sudah ditunjuk oleh mendiang Marylin, dan orang-orang yang dipilihnya dengan hati-hati untuk menjadi pengawas tampaknya tidak akan membiarkan sedikit pun penyimpangan terjadi.
            Geraldine dan saudaranya sudah mati rasa akibat penghinaan mental, emosi dan fisik yang dilontarkan ibu mereka selama bertahun-tahun sehingga mereka sudah mempersiapkan diri bahwa pastilah mereka semua akan dikeluarkan dari surat wasiat tersebut.  Mereka juga mempersiapkan diri akan kemungkinan bahwa anak-anak mereka (cucu-cucu Marylin) juga tidak akan menerima warisan.  Tetapi ternyata mendiang neneknya memandang bahwa sama-sama dicabut hak warisnya itu adalah hukuman yang terlalu ringan.  Karenanya dia memilih memberikan hartanya kepada salah satu cucu saja.  Harta yang tidak mungkin akan ditolaknya tetapi juga tidak bisa dibaginya.  Dari dalam kuburnya dia merancang tarian keputusasaan, kejengkelan, dan kepahitan menari-nari di hati keluarga besarnya.
Apa yang ada di akar suatu kepribadian yang jahat dan memuja diri sendiri, begitu keras keinginannya menyakiti dan sama sekali tidak peduli rasa sakit apa yang dihunjamkannya di dada orang lain?  Dr.Jeffrey J. Magnavita menyatakan bahwa faktor teratas yang memberikan sumbangan terbesar pada kepribadian yang seperti ini adalah membesarkan anak seakan-akan dia yang paling istimewa, lebih dari yang lain dan layak untuk menerima perlakuan yang lebih dalam segalanya.

PRINSIP-PRINSIP MENGEMPISKAN TINDAK SEWENANG-WENANG
-.Latihlah hati nurani, penilaian dan kehendakmu dan jangan menyerah kepada paksaan atau kontrol luar yang bersifat mengeksploitasi.

- Hargailah hak orang lain untuk memilih apa yang mereka mau—tetapi bukan memilihkan untukmu
-. Berbicaralah dengan jujur tanpa menyerang, menyalahkan atau merengek: Anda sedang berbicara kepada orang lain yang juga diciptakan serupa dengan gambar Allah.  Perlakukan mereka dengan hati-hati dan bertanggung jawab
Pilih tindakan yang kondusif dan memungkinkan semua pihak bertindak dengan dewasa.
Hindari pilihan akan mendorong terulangnya perilaku mengendalikan—oleh diri anda sendiri maupun orang lain
Sejauh mungkin, pilih tindakan yang menjaga integritas Anda; sementara pada saat yang sama bangunlah bentuk hubungan yang lebih baik
Pertimbangkan untuk menggunakan rumus Keluarga yang Merdeka.

            Sombong dan angkuh dengan ego yang melembung bagai balon, mereka yang narsis seperti ini jauh di dalam dirinya sesungguhnya merasa sangat tidak aman sehingga mereka sebenarnya bisa merasa dimiskinkan oleh usaha orang lain untuk memberi atau mengasihi mereka, demikianlah pendapat Dr. Judith Mishne, dari Newyork University.
            Marylin, sama seperti orang lain yang menjadi tiran di dalam keluarga, mempunyai ciri-ciri seorang narsis.  Apa yang menjadi tujuan, taktik dan hasil dari rencananya bisa dirasakan dingin menyayat seperti kematian, mengaburkan pikiran dan menimpangkan hubungan-hubungan.  Orang seperti ini bisa dilihat melalui kata-katanya yang mengusung kematian.  Kata-kata yang tajam dan merusak yang sangat efektif melukai dan menghancurkan.  Mereka sangat tidak mampu mengendalikan diri.  Kata-kata yang mengusung kehidupan cenderung mencoba menyembuhkan luka, mengurangi resiko dan menjamin adanya keamanan perasaan bagi semua pihak.
            Perhatikan dengan baik perbedaan antara tujuan-tujuan (baik sadar maupun di bawah sadar) dari kepribadian yang destruktif dan kepribadian konstruktif di tabel…
           
TUJUAN, TAKTIK DAN HASIL KOMUNIKASI
Tujuan Pembicaraan yang  Mengusung Kematian /Death Talk Goal
-          Mengendalikan korban
-          Balas dendam—penderitaan fisik maupun perasaan
-          Manipulasi
-          “Aku berhak”
-          Kebingungan
-          Kuasa
-          Peran dan Identitas yang dipaksakan
-          Korban merasa sebagai yang tidak ada nilainya / “bukan apa-apa”
Taktik dan Alat yang Dipakai
-          Kemarahan tak terkendali
-          Serangan emosi atau kata-kata tajam
-          Tuduhan dan permintaan yang terus-menerus
-          Menyalahkan
-          Intimidasi dan memaksakan keinginan
-          “Tabrak dan Lari”
Akibatnya bagi orang lain
-          Perasaan menjadi beku
-          Mati rasa terhadap penderitaan—baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain
-          Tidak peduli kalau ditindas
-          Kepribadian yang terkotak-kotak—meluncur dari rasa bersalah-marah-mengasihi diri sendiri-membenci orang yang menindas dan membenci diri sendiri
-          Timpang dan terpisah dari pergaulan sosial
-          Teraniaya—fisik dan emosi
-          Kemampuan berhubungan intim menjadi mengempis atau rusak sama sekali
-          Pesimis
-          Putus asa

  Tujuan Pembicaraan yang  Mengusung Kehidupan/Life Talk Goal
-          Keintiman emosional
-          Saling merasa aman—baik fisik maupun emosi
-          Saling mempengaruhi dan saling menanggapi
-          Membagi tanggung jawab
-          Memahami
-          Integritas
-          *Autentik/keaslian/berani menjadi apa adanya
-          Mempertahankan diri sendiri dan orang lain.
Taktik dan *Alat/Cara
-          Kemarahan dan perkataan yang dipertimbangkan dengan baik
-          Komunikasi yang bisa diterima nalar dan bijak
-          Permintaan dan kritik yang dilakukan dengan selektif
-          Obyektivitas: sama-sama mau menanggung kesalahan
-          Persetujuan damai dan diplomasi
-          Bersedia memeriksa masalah dengan saling menghormati

Akibatnya terhadap orang lain
-          Keamanan emosi
-          Empati dan berbelas kasih terhadap orang lain
-          Keterbukaan untuk menerima bahwa orang lain juga bisa terluka dan menyimpan luka
-          Kepribadian yang tabah—menyeimbangkan dukacita dengan sukacita, memperhatikan diri sendiri dengan kemurahan hati, ambisi dengan berbuat baik kepada orang lain
-          Pemberdayaan dan keterkaitan dengan masyarakat sekitar
-          Menolak untuk dijadikan korban
-          Kapasitas untuk menjalin hubungan intim ditingkatkan dan dimaksimalkan
-          Optimisme
-          Pengharapan


Orang yang pemikirannya sudah terpelintir sedemikian rupa biasanya menerapkan taktik pembicaraan yang mengusung kematian namun kemudian sangat terkejut dan jengkel waktu mereka ternyata tidak medapat upah pembicaraan yang mengusung kehidupan!.  Berapa banyak pasangan yang setiap harinya menyerang suami/isteri mereka dengan penghinaan yang menusuk hati dan ancaman –ancaman sebelum akhirnya menyalahkan mereka saat keinginannya berhubungan badan ditolak?  Logika yang dipakainya ialah: Kamu lah yang sakit jika aku gak bisa memaksamu untuk bersikap romantis!.
            Orang yang sama memukuli anak-anaknya dengan pandangan menghina, merendahkan anak itu selama bertahun-tahun, kemudian saat anak itu remaja; orangtuanya menuduhnya tidak menghargai orang tua, tidak tahu berterimakasih dan mengatai dia pemberontak saat anak itu gagal menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada orang tuanya.  Pesan yang ingin disampaikan orang tua semacam ini ialah:  Setelah aku menghancurkan semangatmu, menghapuskan rasa percaya dirimu, dan menciutkan kemampuanmu bergaul, kamu perlu menunjukkan penghargaan kepada karakterku, menghormati statusku, dan menanggapi nasehatku yang bijak.  Seorang tiran tahu bagaimana caranya menambahkan cuka di atas luka.
            Betapa besarnya harga yang harus dibayar para korban.  Anak-anak yang diremehkan dan secara emosi ditelantarkan oleh keluarganya banyak yang menderita depresi kronis, harga diri menciut, dan tidak mampu mengambil keputusan.  Mereka cenderung untuk terus mencari pengakuan akan nilai dirinya, tetapi terlalu takut menghadapi penolakan sehingga mereka juga tidak berani membela diri.  Mereka terombang-ambing di antara dua ekstrim: dari perilaku penyendiri ke mau mendapatkan keintiman instan, dari kecurigaan ke penghianatan; dan dari mengidolakan ke menguasai orang lain.  Setelah dewasa mereka masih menderita tekanan dari orangtuanya yang narsis dan masih terus mau mengendalikan dan menganiaya meskipun anak itu telah menginjak dewasa.  Tidak heran jika hati yang terluka ini berulang kali tertusuk oleh hubungan-hubungan yang akhirnya mati.
            Ada beberapa cara untuk mematahkan warisan tirani dalam sebuah keluarga.  Dalam The Narcissistic Family: Diagnosis and Treatment, anak-anak para tiran yang sudah dewasa harus mulai berani melakukan penilaian obyektif terhadap keluarga orang tuanya.  Mereka harus menangisi  kehilangan yang disebabkan oleh pelecehan masa kanak, aniaya serta penelantaran.  Mereka perlu mengamati konsekuensi apa saja yang masih berlangsung.  Mereka harus mau mengambil tanggung jawab untuk memulai perubahan.
            Nehemia pasal 9, kisah kuno bangsa Ibrani ini menggambarkan garis besar proses mengeluarkan diri dari riwayat traumatik keluarga.  Baik di masa hidup Nehemiah ataupun masa sekarang, kekacauan di dalam keluarga senantiasa menghadirkan pilihan-pilihan yang menyakitkan.  Salah satu piihan yang bisa dilakukan adalah mengabaikan saja orang yang menjadi tiran itu serta trauma yang dihasilkannya,  menolak mengakui kehancuran yang sudah terjadi dan menyerah tidak mau menghadapi sang tiran yang bertindak sewenang-wenang.


WARISAN NEHEMIA: FORMULA PEMULIHAN

  1. Akuilah dosa nenek-moyang : mengakui sejarah luka yang ada dalam keluarga
  2. Lakukan penilaian dampak kegagalan keluarga: buatlah penilaian yang jelas dan tetapkanlah siapa yang bertanggung jawab.
  3. Mengamati siapa saja pahlawan keluarga yang terabaikan, pencapaian-pencapaiannya yang tidak dihargai—biasanya mereka merasa sebagai korban yang menderita kepedihan.
  4. Bersandarlah kepada tanggung jawab pribadi dan bimbingan Tuhan sebagai tempat untuk melarikan diri dari kebiasaan keluarga yang kronis yang mengakibatkan orang merasa terkungkung dan tidak bisa bergerak.


            Pilihan yang kedua—mematahkan siklus dan mengidentifikasi siapa yang menjadi tiran dalam keluarga.  Ini memerlukan keberanian luar biasa, namun sangat penting bagi terjadinya pemulihan.  Ironisnya, orang yang sudah bertahun-tahun bertindak sewenang-wenang dan menciptakan berbagai kekacauan kadang-kadang memberikan tanggapan/respon yang luar biasa mengejutkan saat dikonfrontasi dengan penuh keberanian.

GAMBAR JIWA SANG TIRAN
Sama seperti setiap orang menunjukkan sidik jari yang unik, kita semua juga mempunyai “gambar jiwa” yang berbeda dari ornag lain. Perkataan kita, sikap, nilai-nilai dan perilaku, menorehkan bekas yang tak terhapuskan di pikiran dan hati mereka yang dekat atau bersentuhan dengan kita.  Orang yang sewenang-wenang mempunyai gambaran jiwa yang terlalu mencintai diri sendiri, tindakannya bukan hanya mencintai diri berlebihan akan tetapi tampak ingin melukai, membingungkan, membuat cacat dan meniadakan korbannya.  Renungkan dengan baik ciri-ciri orang yang menjadi tiran dan sewenang-wenang di dalam keluarga seperti yang tampak dalam beberapa kasus di buku ini.

Keturunan orang Israel… mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka.  (Nehemia 9:1-2)

MEMPERTAHANKAN DIRI DARI PENGHANCUR KELUARGA
Bagaimana caranya bisa melepaskan diri dari cengkeraman penghancur keluarga?  Seperti yang ditunjukkan oleh Katherine Graham dan Abigail, kita bisa mempertahankan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang menghancurkan di dalam keluarga.  Tetapi keputusan untuk mematahkan siklus ini tentu saja menuntut kesediaan Anda untuk membayar harga.  Pertanyaan yang perlu Anda ajukan pada diri sendiri ialah:
Apa yang perlu Anda korbankan (perasaan, hubungan sosial, finansial, dll) untuk mewujudkan rencanamu membebaskan diri?
Apakah Anda bersedia membayar harga itu?
Harga apa yang harus Anda bayar jika Anda menolak untuk mempertahankan diri darinya?
Begitu Anda menyadari pentingnya mematahkan siklus ini, Anda bisa mulai dengan membangun perisai pelindung untuk melindungi Anda dari serangan tiran keluarga.
  1. Luncurkan kemerdekaan itu dipikiran anda.
Penghambaan diri Katharine Graham kepada penindasan emosional yang dilakukan suaminya akan bisa berlangsung terus-menerus seandainya Katharine memilih untuk percaya bahwa dia memang benar-benarlebih rendah/inferior dan sama sekali tidak penting.  Dalam kasusnya kita melihat bahwa menghambakan diri, bukanlah cara untuk membuktikan kasih dan kesetiaan.
  1. Tempa aspek-aspek identitas Anda yang terpelintir akibat perlakuan sang tiran.  Abraham Lincoln membebaskan dirinya sendiri saat dia mencoret dan menghapus “pesan” dari ayahnya bahwa ia pantas menerima aniaya fisik maupun emosi dan dia tidak layak untuk menerima pendidikan atau pujian hanya karena berhasil mencapai sesuatu (Bab 2).  Abe menyerap semua dukungan yang didapatnya dari orang lain dan tidak mau menyetujui pendapat ayahnya yang suram tentang dia. Kenyataannya Abe adalah anak yang sangat  luar biasa.
  2. Jangan mau menerima identitas sebagai korban
Terobsesi untuk menyenangkan orang tuanya yang sangat mengabaikan dia hampir-hampir mengunci Sharon dalam statusnya sebagai korban—sekaligus memperpanjang kendali mereka atasnya (bab 4).  Sharon menolak kebiasaan menjadi korban, mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap kehidupannya.  Dengan demikian dia melucuti kuasa keluarganya untuk bertindak semau mereka.
  1. Tanamkan faktor-faktor dentitas yang positif. Kuat, tabah, pemberani, bersemangat dan setia adalah kata-kata yang digunakan oleh teman-temannya untuk menggambarkan siapa Bonnie (bab 2).  Seperti tanah yang kering ia menikmati dan menyerap semua penghargaan dan peneguhan yang disampaikan oleh mereka yang ada di luar keluarganya.  Dengan menerapkan ciri-ciri positif ini, Bonnie berhasil menyingkirkan usaha ayahnya untuk menanamkan bahwa dia hanyalah anak yang tidak berarti apa-apa.
  2. Antisipasi datangnya ancaman, kemarahan, hinaan dan mungkin balasan dari tiran keluarga.  Karena kebiasaan hidup Phil, Katharine Graham bisa bersiap-siap mewaspadai dan memperkirakan bahwa Phil pasti akan sangat marah menemukan Katharine akhirnya mengambil langkah maju untuk membuat keputusan-keputusan yang konstruktif.  Ia kehilangan kesempatan untuk balik menyergap.
  3. Perhitungkan baik-baik harga yang mampu Anda bayar untuk memperjuangkan persamaan hak, sebelum Anda mengambil tindakan nyata.  Jesse (bab 5) menimbang-nimbang bahwa menyampaikan keputusannya kepada ibunya pastilah akan membuahkan kemarahan dan penolakan.  Dengan mengantisipasi hal ini dia menjadi siap menghadpi keinginannya untuk balik  menekan dan membalas.
  4. Batasi dan cegah akses fisik dan emosi dari orang tersebut kepada Anda.  Abigail menghindari suaminya yang pemarah, ketika dia menjalankan rencananya membawa persembahan perdamaian demi menyelamatkan keluarganya.  Dengan demikian ia membatasi gerak Nabal sehingga tidak semakin membahayakan dirinya sendiri maupun orang-orangnya.
  5. Biarkan si sewenang-wenang ini menerima berbagai konsekuensi dari tindakannya yang jahat, dan mementingkan diri sendiri.  Abigail menggunakan barang-barang milik keluarganya untuk meredakan bahaya yang mengancam dan dengan demikian mengijinkan Nabal membayar mahal perilaku buruknya itu.  Dengan mengklaim hak-haknya sebagi pemilik Washington Post, Katharine Graham juga sekaligus menolak melindungi suaminya dari kehilangan kuasa di dalam perusahaan itu dan kerusakan status sosialnya yang disebabkan oleh perilaku buruknya.
  6. Gunakan aturan verbal untuk mengempiskan tirani seseorang:  Lebih sedikit bicara, lebih bermakna!.  Hematlah pembicaraanmu! Tetapkan batasan yang tegas.  Abigail memutuskan menyelamatkan keluarganya tanpa mendiskusikan tindakan yang akan diambilnya dengan Nabal.  Sharon yang dianggap sepi oleh orang tuanya berhenti menelpon mereka setiap hari, ini membuat mereka akhirnya berinisatif menghubungi Sharon.  Jesse yang baru pulih dari adiksi kokain dengan lemah lenbut menetapkan batas-batas yang jelas untuk ibunya tetapi tidak mau terlibat perdebatan tentang batas itu.  Pribadi-pribadi dengan keputusan dan tekad yang jelas dan tegas menemukan bahwa tantangan yang mereka hadapi menjadi lebih mereda saat mereka mengkombinasikan sedikit kata-kata dengan banyak tindakan yang nyata.
Jika Anda melihat bahwa ada pola seperti ini dalam keluargamu, sekaranglah waktunya.  Bertindaklah!.  Buatlah rencana.  Jalankan itu dengan hati-hati dan penuh kepandaian diplomasi tetapi disertai keputusan-keputusan yang jelas dan tegas.  Jangan mau menerima taktik yang bisa menghancurkan semangatmu, hindari perasaan sombong apa saja yang mampir di hatimu, keinginan untuk membalas dendam, ingin mendiamkan orang lain atau tindak kemarahan; posisikan diri Anda kuat secara moral saat Anda mengklaim dan memperjuangkan peranan dan hubungan yang lebih sehat.


CIRI-CIRI TIRAN KELUARGA

Pola Pikir dan kebiasaan
Contoh
Mentalitas “Aku berhak …”
Christine yang masa kecilnya dimanjakan (Bab 4) nampaknya berharap suami-suaminya selalu memenuhi apa saja yang dia minta seperti yang selalu dilakukan orang tuanya.  Mereka semua akhirnya memilih untuk meninggalkan Christine.
Sombong, Merasa diri paling penting
Marilyn (Bab 6) menggunakan kekayaan dan usianya untuk memaksakan kehendaknya kepada sanak-saudaranya.

Hati Nurani yang beku/ Kebutaan moral dan Emosi yang berkarat
Ayah Bonnie, Bryan dan Bobby (Bab 1 dan 2) sebagai penatua gereja memamerkan kehidupan Kristen yang saleh dan sering mengutip Alkitab namun nampaknya sama sekali tidak menyadari penderitaan emosi, fisik dan spiritual yang ia bebankan kepada anak-anaknya
Orang yang menunjukkan ledakan kemarahan, kemarahan kronis dan ekstrim
Nabal (Bab 6) dikenal karena kemarahannya yang meledak-ledak membuat hidupnya dan hidup keluarga serta anak buahnya terancam bahaya karena harus berhdapan dengan Daud yang perkasa.
Menuntut Penghargaan dan Hormat yang tidak sepantasnya ia dapat
Sering mengamuk/menangis seperti anak kecil, namun mereka marah besar dan sangat jengkel jika tidak dihargai, seakan-akan dia bertindak sebagai anggota keluarga yang matang dan terhormat

Manipulasi dan Eksploitasi
Ayah Ben Carson menipu dan memanipulasi seorang gadis muda yang percaya kepadanya, kemudian meninggalkannya membesarkan anak mereka dalam kemiskinan ketika tindakan aib ayahnya ini terbuka (Bab 8)


Rancangan balas Dendam
Marylin dengan kejam membalas melalui surat wasiatnya yang ditujukan kepada keluarganya yang tidak bisa menunjukkan pemujaan dan pelayanan sebagaimana yang diinginkannya


            Kehidupan Anda terlalu berharga untuk disia-siakan dan dihancurkan oleh seorang tiran dalam keluarga.


RENCANA TRANSFORMASI
  • Mulailah bekerja ke arah kebebasan dengan memperkuat radar internal-mu
  • Bangunlah dirimu berdasarkan aspek positif dari karakter dan kepribadianmu
  • Tentukan seberapa besar harga yang bersedia Anda bayar untukk memperoleh kemerdekaan
  • Tetapkan batasan-batasan yang tegas untuk terciptanya peran dan hubungan yang sehat





     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar