MELULUHKAN
SANG TIRAN
(Melawan
Orang Yang Otoriter)
Diambil
dari Buku “Healing Your Family Tree”
(Beverly
Hubble Tauke, Tyndale PH)
Dia berani
menghadapi salah satu Presiden Amerika Serikat dan menyeretnya turun dari kursi
kepresidenan, sesudah Presidan dan orang-orangnya bukan hanya mengancam akan
menyerangnya secara fisik, tetapi juga mengancam menghabisi profesi dan
keuangannya.
Apa yang menjadi tujuannya bukanlah
manipulasi politik, melainkan mengemukakan kebenaran—akhirnya, kebenaranlah dan
bukan Katharine Graham dari Washington Post –yang membuat Richard Nixon yang
brilian namun tidak bijaksana itu meluncur jatuh dari garis sejarah.
Katharine Graham nampak berdiri
kokoh penuh tekad, tidak bergeming meskipun menghadapi berbagai kekacauan
hukum, media massa, kekacauan sosial dan politik dalam skandal Watergate yang
sangat menghebohkan itu.
Selain orang-orang terdekatnya,
siapa yang menduga bahwa Katharine Graham bisa mewarnai sejarah negara Amerika
Serikat sesudah tahun-tahun penuh penderitaan dan penindasan oleh suaminya yang
sewenang-wenang?
Katharine baru mengenal Phil Graham
beberapa kali melalui berbagai acara sosial sebelum Phil melamarnya. “Saya
terpesona dan terpukau,” Katherine melaporkan dalam autobiografinya tahun
1997. “Saya merasa sangat
tersanjung—pria brilian yang memukau, menawan hati banyak orang dan mempesona
ini mencintaiku!”
Phil Graham berasal dari keluarga
miskin yang tinggal di Florida, namun sebagai presiden Harvard Law Review kehidupan Phil Graham dikelilingi oleh koneksi-koneksi
yang sangat kaya raya. Dengan sedikit
enggan, dia menerima tawaran untuk pindah menduduki manajemen puncak Washington
Post yang dimiliki mertuanya, ayah Khatarine.
Graham menduduki jabatan sebagai salah satu pemilik Washongton Post pada
usia tiga puluh satu tahun. Karismanya
yang luar biasa menarik perhatian para gubernur negara bagian dan kepala
perusahaan-perusahaan multinasional serta para tokoh di bidang media massa.
Di rumah, Katharine dengan sukarela
merelakan diri menjadi korban sisi gelap Phil Graham. “Anehnya, saya seakan-akan menikmati benar
menjadi isteri yang bagaikan pembantu.
Apapun alasannya, saya suka didominasi,”
tulis Katharine. “Saya
benar-benar terpesona dan terpukau oleh Phil, namun saya juga sedikit
jengkel…karena merasa terlalu sangat bergantung kepadanya.”
Keluarga Graham ini menggambarkan
dengan pas sekali apa yang dilukiskan Dr. Susan Forward dalam Emotional Blackmail, di mana korban
sering dibawah sadar (subconsciously)
mendorong diri mereka sendiri untuk secara psikologis “dipukuli lagi dna lagi”
melalui perilaku yang memberikan ganjaran positif, terus menerus menghidupkan
atau gagal menghalangi terjadinya pelecehan/penganiayaan.
Berbagai pertengkaran hebat dalam
pernikahan biasanya mengembangkan pola “terpicu oleh alkohol, minta maaf lalu
mengurangi mabuk-mabukkan.” Sebagaimana
yang digambarkan Katharine, “Kami tidak
pernah bertengkar di depan umum—biasanya kemarahan besar itu akan meledak
sesudah kami meninggalkan suatu tempat dan biasanya terpicu hanya oleh hal yang
sepele…. Ia nampaknya selalu menyambar
alasan sekecil apa pun untuk meluapkan kemarahannya.
TAKTIK MENGENDALIKAN orang yang
sewenang-wenang
Graham terus
berusaha agar Katharine menemaninya ke mana-mana, bahkan mendorong Katharine
untuk mengembangkan kemampuan profesi dan intelektualnya, namun kata-katanya
terus-menerus menyerang Katharine dan membuatnya menjadi bahan tertawaan dan
bahan olok-olok keluarga.
Serangan-serangan ini “pelan-pelan
menggerogoti seluruh rasa percaya diri saya,” tulis Katharine, tetapi “Saya
masih sangat terpesona olehnya sehingga saya tidak mengerti apa yang sebenarnya
sedang berlangsung.”
Akhirnya, penderitaan Katharine yang
tersembunyi ini pun diketahui oleh masyarakat luas karena serangan depresi yang
diderita Phil berulang kali, tumpang tindih dengan perselingkuhan yang
dipamer-pamerkannya, perilaku aneh di depan umum serta kesukaannya berfoya-foya
dan memborong belanjaan sebanyak-banyaknya.
Ketika Phil mengumumkan bahwa ia
tidak hanya merencanakan menikahi wanita simpanannya tetapi juga berniat untuk
tetap memegang saham terbesar Washington Post yang diberikan oleh mertuanya,
Katherine akhirnya maju menguatkan diri.
Phil boleh saja meninggalkan dia—tetapi tidak boleh membawa perusahaan
yang menjadi warisan keluarganya.
Menurut Patricia Evans dalam The Verbally Abusive Relationship,
mereka yang terbiasa menyakiti orang lain baik secara fisik maupun perasaan
biasanya tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan. Phil Graham pun terkejut sekali.
Katharine memenangkan perebutan
menyelamatkan Washington Post.
Dia juga bertekad bulat untuk melindungi dirinya dari aniaya. Phil Graham sangat beruntung karena setelah
berbulan-bulan keluyuran dengan wanita simpanannya akhirnya ia diterima kembali
memasuki kehidupan Katharine dan kembali ke rumah tangga mereka. Dia ditemukan menderita manic depression, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan
gangguan bipolar/bipolar disorder.
Penderita gangguan bipolar masa kini
bisa mendapatkan perawatan yang baik.
Akan tetapi pada masa itu, gsnggguan bipolar membuat Graham terperangkap
keputusasaan. Tidak lama sesudahnya dia
mengakhiri kehidupannya yang bergejolak namun sebenarnya penuh potensi
menjanjikan itu dengan menembak dirinya sendiri.
Meskipun menderita banyak trauma
batin, dalam beberapa hal Katharine Graham sangatlah beruntung. Dia memiliki keluarga yang kaya, keamanan
finansial dan keempat anaknya tumbuh dnegan baik. Dia juga terbukti mewarisi darah leluhurnya
yang mengantar mereka menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam dunia media
massa di Amerika.
Ketika Phil masih hidup dan
Katharine harus berjuang mempertahankan perusahaan warisan keluarganya ini, dia
dikelilingi oleh orang-orang yang sangat yakin bahwa Katherine akan mampu
menjadi nahkoda Post. Dia juga dilindungi
oleh sekelompok karyawan perusahaan yang sangat handal dan wartawan-wartawan
yang berbakat dan sangat loyal kepadanya.
Lama tertindas oleh kekuatan yang sama sekali tidak mampu dilawannya,
Katharine Graham akhirnya belajar untuk mengggunakan berbagai kekuatan di luar
dirinya secara konstruktif.
Ketika Katharine Graham akhirnya
membuka keterlibatan orang-orang terkenal di dunia yang terlibat skandal
Watergate, dia menunjukkan kemampuan luar biasa dalam hal independensi
(kemerdekaan), keberanian dan tekad.
Tetapi seperti orang lain, selama dia menundukkan diri dan menyerah
kepada kontrol dari luar yang menganiayanya, maka kehidupan pribadinya diwarnai
banyak penderitaan. Perhatikan tabel …
|
Faktor-faktor Eksternal dalam
Pengambilan Keputusan
(Bisa Digunakan
sebagai Alat Memaksakan Kepatuhan)
|
|
|
Paksaan (Coercion)
|
oleh mereka yang
memegang kuasa untuk menghukum
|
|
Upah (Reward)
|
oleh mereka yang
memegang kendali atas sumberdaya terlihat maupun tak terlihat
|
|
Keahlian (Expertise)
|
Oleh mereka yang
menganggap diri mempunyai keahlian luar biasa
|
|
Karisma (Charisma)
|
Oleh mereka yang
kepribadiannya sangat menarik sehingga membuat orang lain merasa tidak ada
apa-apanya
|
|
Otoritas (Authority)
|
Oleh mereka yang
dengan susah payah mendapatkan atau diberi wewenang/otoritas
|
|
Pengetahuan (Knowledge)
|
Oleh mereka yang
dianggap lebih bijaksana, lebih pintar atau lebih berpengetahuan
|
Siklus *Tirani/
(kesewenang-wenangan)
Perubahan
“mood”/perasaan Phil Graham—dari perilaku memikat hati menjadi penganiaya dan
kembali menjadi lembut lagi—umum dijumpai pada siklus orang yang suka
menganiaya. Sebagaimana yang ditemukan
oleh Katharine Graham, mereka yang hidup bersama dengan orang seperti ini akan
menjumpai diri mereka turun derajat menjadi seperti bola tenis: Bam! Dipukul
sekeras-kerasnya ke satu arah, kemudian bum! Dihajar kembali ke arah yang
sebaliknya.
Pertama, orang yang suka menganiaya
menampilkan diri mereka sedemikian rupa untuk menawan hati orang lain baik
secara emosi, sosial maupun fisik.
Kemudian, ketegangan akan meningkat karena dia mulai mengirimkan
berbagai gelombang kekacauan—kadang-kadang khusus/eksklusif hanya untuk orang
terdekatnya saja.
Sesudah itu mulai muncul berbagai
serangan verbal yang tajam atau ledakan kemarahan. Jika ini dimotori oleh alkohol atau obat-obatan
yang mengacaukan pikiran maka ledakannya akan menjadi lebih sering dan lebih
panas. Akhirnya, orang yang menganiaya
ini akan menarik diri dan seakan-akan bersembunyi di balik ilusi ketenangan dan
perasaaan teduh, bahkan penyesalan, sehingga sering membuat korban kembali
terperangkap.
Batasi agar Anda tidak sering bergaul dengan pemarah. Emosi mereka menular dan karenanya Anda akan
merusak jiwamu sendiri.
PENAFSIRAN
DARI AMSAL 22:24-25
Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang suka menganiaya
keluarganya seringkali menunjukkan gejala di perbatasan gangguan kejiwaan. Orang-orang seperti ini luar biasa waspada,
terus menerus mencurigai adanya penghianatan, kadang bahkan sampai bisa
menemukannya di tempat yang sebenarnya tidak ada. Radar sosial mereka yang begitu melenceng
membuat mereka sama sekali tidka bisa diandalkan, selalu terombang-ambing. Orang dengan pribadi seperti ini pada
akhirnya akan patah karena mereka tidak percaya kepada orang yang dapat
diandalkan dan menaruh percayanya justru pada mereka yang curang/berkhianat.
Pikiran Phil Graham yang bingung
membawanya kepada pola seperti ini. Dia
menyerang dengan kata-kata tajam dan menyakitkan bukan hanya kepada istrinya
yang setia, tetapi juga kepada teman-teman baiknya dan bahkan pada Presiden
John Kennedy yang adalah temannya. Yang
mebuat karir, keluarga dan kekayaannya terancam, bukanlah musuh yang
dibayangkannya tetapi serangan-serangannya yang konfrontasional, membakar dan
menghina.
Terobsesi oleh keinginannnya untuk
mengatur dan mengendalikan segala sesuatu dan siapa saja yang ada di sekitar
dirinya, orang-orang yang sewenang-wenang ini biasanya memiliki konsep diri
yang sangat kacau, hati yang kosong, depresi kronis dan tidak mampu menenangkan
atau meneduhkan dirinya sendiri. Sebagai
orang yang menderita adiksi hubungan/relationship
addict, mereka berusaha keras diterima atau dinilai tinggi oleh orang lain
dan tersiksa oleh berbagai rasa takut yang saling bertolak belakang satu sama
lain:
- Takut akan ditinggalkan oleh orang-orang yang paling dikasihi atau teman baik
- Takut akan tercekik oleh kedekatan hubungan sebab hubungan yang dekat akan menipiskan kendali atau kewenangannya.
Melekat erat,
panik, menolak. Melekat erat, panik,
menolak. Inilah siklus yang umum ditemui
pada orang-orang yang suka mengendalikan.
Tidak heran jika orang yang seperti ini akhirnya sengsara karena
hubungan-hubungan yang berantakan, isolasi sosial maupun kehilangan dukungan
sosial.
John N. Briere, seorang dosen di University of Southern California School of
Medicine, menemukan kaitan yang snagat kuat antara gejala yang nampak pada
orang-orang yang cenderung suka menganiaya dengan masa kanak yang sangat
menderita, baik penderitaan fisik maupun perasaan.
Kita cenderung menganggap bahwa
ibulah yang paling membentuk dan mewarnai kepribadian seorang anak. Tetapi para peneliti menemukan bahwa
penolakan seorang ayah umumnya merubah seorang anak kecil (laki-laki) yang
sangat berharga menjadi “teroris” keluarga bagi isteri, anak-anak dan
masyarakat di masa depannya.
The
Abusive Personality oleh Donald G. Dutton, mencatat bahwa kontributor
terbesar di masa kanak yang membuat seseorang berkembang menjadi penganiaya
menurut urutan yang paling penting adalah:
- Yang dirasakan anak akibat penolakan sang ayah
- Yang dirasakan anak akibat “dinginnya” tanggapan si ayah
- Aniaya fisik dari ayah
- Aniaya verbal dari sang Ayah
- Yang dirasakan anak akibat penolakan sang Ibu
Yang disebut aniaya, bukan hanya terbatas kepada aniaya
fisik saja. Aniaya fisik hanya menyakiti
tubuh, tetapi justru “serangan yang terus-menerus terhadap harga diri seorang
anak” yang dilakukan di depan umum, hukuman-hukuman acak, serta serangan
kata-kata tajam terhadap kepribadian seorang anaklah yang memberikan sumbangan
besar terhadap terbentuknya kepribadian penganiaya fisik maupun emosi. Demikian menurut Dutton.
“Jika saya harus memilih satu saja tindakan tunggal yang dilakukan
orang tua yang paling memberi sumbangan terhadap terbentuknya pribadi
penganiaya,” demikian kata profesor psikologi dari University of British
Columbia ini, “maka saya akan menunjuk pada
dipermalukan oleh sang ayah.”*8
Tentang keuletan/ketabahan,
masih tetap misteri bagi kami soal bagaimana seorang yang sudah diinjak-injak,
dikurung, dipukuli, dibenci dan dibuang bisa…akhirnya bangkit seperti burung
Phoenix yang muncul dari debu.
GINA
O’CONNEL HIGGINS
Resilient Adult:overcoming a Cruel Past
Orang dewasa yang mengalami trauma masa kecil seringkali
memiliki struktur saraf yang sudah melenceng/terpelintir sedemikian rupa
sehingga pemicu yang sangat kecil sekali pun akan mengguncang dan menimbulkan
reaksi yang sangat berlebihan. Sama
seperti korban gangguan stress pasca trauma /post traumatic stress disorder, maka anak yang pernah dianiaya atau
ditelantarkan orang tuanya di masa kecil akan memendam campuran kemarahan, rasa
malu, rasa tidak percaya dan kecemasan yang sifatnya sangat mudah meledak. Begitu anak ini menjadi dewasa, apa yang dulu
dipendamnya akan mulai naik dan meledak ke permukaan. Baik dia sendiri maupun pasangannya yang
romantis—sosok baru yang menggantikan kedekatan yang diharapkannya dari orang
tua—menyadari bahwa di hadapannya ada gunung yang bisa sewaktu-waktu meletus.
Dutton mengatakan bahwa
“sesudah beberapa kali meledak maka kecenderungan menganiaya itu menjadi
tertanam di dalam sistem. Mereka menjadi
terprogram untuk melakukan aniaya terhadap orang-orang dekatnya.” Anak yang dulu jadi korban trauma itu
sekarang tumbuh menjadi yang menganiaya, dan kecenderungan yang dipendam sangat
dalam biasanya akan bertahan hebat tidak mau diubah. Ketika perilaku yang sangat meminimalkan
hubungan ini diterapkan terhadap orang yang paling dekat, maka pihak luar
hampir-hampir tidak bisa melihat bahwa ada orang yang sedang berperan bagaikan
Jekyll dan Hyde **(kisah seseorang dengan kepribadian ganda yang saling
bertentangan satu sama lain. Satu sisi
sangat baik, satu sisi sangat buruk.).
Dalam kasus seperti ini,
orang di luar mereka akan melihat korban sebagai sosok yang suka mengeluh,
tidak tahu terimakasih atau sosok yang sedikit gila ketika dia seringkali
mengeluhkan pasangannya; sedangkan pasangan si korban dipandang orang lain
sebagai orang yang sangat baik atau paling tidak dia bukan orang yang
berbahaya.. Siapa yang yang ingin
bertahan selamat dari kasus semacam ini perlu belajar bagaimana mempergunakan
semua Faktor-faktor Pengambilan Keputusan dari Luar Diri Kita (hal…) yang
sering digunakan oleh para penganiaya untuk menganiaya.
Katharine Graham melatih menggunakan kekuatan dari luar
ini. Ia mempunyai dan memenangkan
sekutu-sekutu yang memiliki keahlian dan pengetahuan dan otoritas yang menolong
dia menang dalam peperangan melawan hukum dan politik perusahaan dan berhasil
mempertahankan warisan keluarganya, koran terkenal Washington Post.
TIRAN
KELAS *dua/teri
Mungkin tiran/orang yang sewenang-wenang dalam
keluargamu, tidaklah semengerikan Phil Graham.
Namun tiran kelas dua sama saja seperti uranium kelas dua, tetap membuat
anda beresiko terpapar radiasi.
Dalam berbagai lokakarya Kebiasaan-kebiasaan Keluarga
yang saya adakan, para peserta menawarkan kidah-kisah mereka sendiri untuk
dibahas dalam kelompok. Pertimbangkan
beberapa kisah tiran dalam keluarga ini, dan kemungkinan-kemungkinan respon
seperti apa yang bisa Anda berikan Apa
yang akan anda kerjakan jika Anda menghadapi tiran semacam ini di dalam
keluargamu?
- Tukang Cuci Mobil. Orangtua Anette memintanya datang. Anette harus menyopir mobil menempuh jarak seraus limapuluh mil pulang pergi untuk mencucikan mobil van mereka tiap bulan. Tempat cuci mobil di kota tempat orang tuanya berdiam, cukup “murah dan bagus” kata Anette, tetapi orangtuanya bilang bahwa tidak ada seorangpun yang mencuci mobil mereka sebersih dan secemerlang seperti Annete. Sesudah mobilnya dicucikan, mereka tidak lalu mengajak Annette berjalan-jalan mengunjungi teman atau mengundang dia masuk ke dalam rumah—mereka hanya ingin mobil vannya di bersihkan, itu saja! Jika Anette tidak mau, dia akan didiamkan oleh kedua orangtuanya.
- Terlambat!. Suami Cherie minta makan malam harus selalu tersedia jam 6 tepat. Dia tidak peduli bahwa Cherie harus merangkap menjadi sopir bagi lima orang anak mereka, bukan hanya ke sekolah tetapi juga ke latihan dan pertandingan basket, sepakbola dan berenang serta ulang tahun teman. Jika makan malam lewat sedikit dari jam enam Gerald dengan wajah cemberut akan memilih tidur di kamar tamu.
- Nenek Baik Hati. Albert yang berumur tiga puluh tahun, istrinya dan tiga orang anaknya pindah ke lantai bawah rumah ibunya, rencananya hanya untuk satu buan saja. Dengan cepat mereka mengambil alih dan menguasai seluruh rumah dan mengharapkan nenek yang selalu menyediakan makanan mereka, membayar segala sesuatu yang mereka perlukan, mengambili dan menata barang-barang yang berantakan…dan satu bulan pun mundur menjadi satu tahun. Nenek yang sangat kelelahan ini tidak tahu harus bagaimana meminta mereka keluar dari rumahnya tanpa membuang Albert, anaknya.
- Isteriku, Milikku dan Hakku. Jika Glen terbangun jam dua pagi dan dia sedang menginginkan hubungan badan, maka ia akan mencolek Frances dan meminta dilayani. Glen berpikir “Ah..ini kan sudah hakku, aku yang kerja cari uang untuk menghidupi mereka.”
- Mama Pengatur. Gay akan menikah. Ia menunggu sampai saat yang tepat untuk memesan gaun pengantinnya, supaya gaun yang diimpi-impikannya itu bisa pas benar dengan ukuran tubuhnya. Sementara itu, secara sembunyi-sembunyi ibunya membayar seorang penjahit untuk membuat duplikat gaun pengantinnya yang dipakainya dua puluh lima tahun yang lalu—model gaun itu sama sekali tidak cocok untuk Gay karena bentuk tubuh mereka sangat berbeda. Mamanya yang berusia lima puluh tahun itu marah besar karena Gay dianggapnya tidak tahu berterimakasih.
- Gila banget! Kevin pindah ke rumah istrinya, Gloria. Karena dia sangat suka peanut butter dingin, maka dia menaruh satu botol peanut butter di lemari es. Keesokan harinya, dia menemukan peanut butter-nya tersimpan di lemari, semua sudah tidak dingin sama sekali. Dia mengembalikannya ke lemari es. Besoknya peanut butter kembali ke lemari lagi dengan catatan “Kevin—peanut butter ini harus tetap disimpan di lemari dapur, sebab di situlah tempat yang seharusnya.” Okey, jadi mungkin dia (Kevin) yang aneh. Tetapi Gloria juga memberitahu dia untuk TIDAK menggantung jaketnya di tempat tertentu; TIDAK BOLEH mengisi freezer dengan jenis es krim tertentu selain satu jenis yang disukai Gloria; dan benar-benar TIDAK boleh menyalakan lebih dari satu bola lampu di satu ruangan. Ini adalah rumah Gloria, dan seorang suami tidak boleh begitu saja merusak sistemnya.
Orang-orang yang
menghadapi anggota keluarga yang bagai tiran kelas dua ini merasa stres,
diremehkan dan kehilangan semangat. Apa
yang harus dilakukan?
Dalam sebuah kisah yang pantas masuk
dalam acara TV terkenal Prime Time Live,
Abigail menunjukkan strategi cerdas untuk mengempiskan kewenangan seorang tiran
di dalam keluarga. Kisahnya bisa
langsung Anda baca di 1 Samuel 25. Kisah
ini begitu menarik sehingga tidak aneh jika Abigail sangat terkenal dalam
loka-karya keluarga yang saya adakan di gereja-gereja. Di sebuah bangsa (USA) yang berdasarkan
laporan jajak pendapat Gallup 95% dari populasinya percaya akan Allah dan 65%
mengaku sebagai anggota jemaat sebuah gereja tertentu maka kisah Abigail mempunyai
banyak relevansi dengan korban aniaya di abad 21 ini.
Nabal, Suami Abigail suka
minum-minum dan impulsif. Nabal membuat
kesalahan besar karena memicu kemarahan Daud, seorang pria yang dengan cepat
mampu mengumpulkan empat ratus orang yang melarikan diri dari hukum. Mereka bersumpah untuk tidak hanya membunuh
Nabal, tetapi juga semua pria yang bekerja untuknya. Semua laki-laki di rumah it akan
dibunuh. Habis perkara!
Nabal sama seperti para penganiaya
masa kini. Mereka tidak hanya melukai
keluarganya secara langsung tetapi juga mengundang kesengsaraan tidak langsung
bagi keluarganya. Jika penganiaya
seperti ini adalah pria, maka isteri dan anak-anaknya terpaksa mengambil alih
tanggungjawabnya sebagai ayah, sebab terlalu beresiko untuk menyandarkan diri
kepada seseorang yang tidak bisa di duga, dan kadang meledak-ledak. Reputasi keluarga menjadi hancur lebur karena
tindakan sang penganiaya yang sama sekali tidak bertanggung jawab, isteri dan
anaknya menjadi malu dan terasing dari kehidupan masyarakat. Perilaku antisosial juga mengundang tindakan
hukum oleh sistem hukum yang berlaku dan lembaga penegakan hukum, sama seperti
Nabal mengundang tindakan gerombolan di bawah pimpinan Daud; bukan hanya
mengancam Nabal saja akan tetapi juga mengancam seluruh keluarganya. Serangan tidak langsung yang dilakukannya
terhadap keluarganya sendiri ini membuat mereka terluka dan menekan; baik
secara emosi, finansial, spiritual, fisik maupun sosial, menorehkan luka yang
tak terlihat namun menyakitkan dan menghancurkan generasi demi generasi dalam
keluarga.
Melihat bahwa Nabal
terancam bahaya besar, maka salah
seorang pelayannya memberitahu Abigail, yang mampu melihat adanya bahaya dan
kesempatan sekaligus. Kemampuannya
berpikir strategis membuat dia lari meninggalkan bahaya dan mengejar
kesempatan. Dia memperteguh kemenangan
ini dengan secara bijak mendengarkan nasehat bawahannya, sekutunya yang
berharga, dan memanfaatkan keadaan yang menguntungkan—Nabal yang sedang tidak
sadar. Abigail pun berangkat membawa
persembahan perdamaian.
Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang
yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.
Amsal 22:3
Dengan kemauanya yang
keras namun penuh diplomasi, Abigail berhasil bernegosiasi dengan Daud yang
nantinya menjadi raja Israel. Saat itu,
Daud masih dipenuhi keinginan membunuh dan dia membawa para pendukungnya untuk
membalas dendam. Sedangkan Nabal,
sesudah sadar dari minum-minum akhirnya menjadi sangat ketakutan. Ia hampir saja mati. Prospek bahwa dia akan terpaksa menghadapi
hukum rimba langsung melenyapkan semua kesombongan,dan kemarahannya—secepat
kilat.
KEBUTUHAN UNTUK MENDAPATKAN
ARAHAN INTERNAL
Bisakah Anda
membayangkan bahwa dalam kehidupan bangsa Israel kuno, bagaimana mungkin
sekelompok pria yang mengelola suatu tanah pertanian bisa minta tolong kepada seorang wanita?
Abigail punya
setumpuk aset internal, dia cerdik dan bisa menjadi alat pertahanan yang
kokoh. Kekayaan internal seseorang dalam
mengambil keputusan membuatnya mampu mempengaruhi keluarga dan masyarakat sekelilingnya.
|
FAKTOR-FAKTOR INTERNAL DALAM PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
|
|
|
Kehendak
|
Keputusan di dalam diri yang berhubungan dengan
kemauan, otonomi, dan tekad
|
|
Pengetahuan
|
Fakta-fakta, penyelidikan dan data objektif
|
|
Visi
|
Mengetahui tujuan yang ingin dicapai dan cara
mencapainya
|
|
Penilaian
|
Pengambilan keputusan berdasarkan data,
*insting/firasat/naluri
|
|
Hati nurani
|
Panduan dari dalam; apa yang benar dan apa yang
salah
|
|
Kepekaan sosial
|
Pemahaman instingtif akan perilaku dan sikap
dan akibatnya bagi orang lain
|
|
Iman
|
penyerahan kepada Tuhan, ke mana harus
melangkah, perlindungan dan nilai kekal dari sesuatu dan perasaan aman.
|
Abigail bukan hanya
sangat peka. Wanita beriman ini juga
mempunyai apa yang dijadikan Rick Warren sebagai judul bukunya Purpose Driven Life/Hidup yang Bertujuan. Agendanya yang berfokus kepada Allah dan hati
nuraninya yang tajam tidak akan membiarkan dia mementingkan keselamatan
prubadinya di atas kepentingan mereka yang menjadi sasaran balas dendam Daud. Tetapi, Abigail juga menyadari bahwa nilai-nilai
inti yang dipegang oleh Daud itu sejalan dengan nilai-nilainya; kalau saja dia
bisa menembus kemarahan Daud maka masalahnya pasti teratasi.
Rick Warren mengamati
bahwa “Daud sangat menginginkan mengenal Tuhan lebih dari apa pun di dalam
hidupnya…Daud benar-benar kecanduan Allah.”
Abigail yang sangat peka ini memperingatkan Daud bahwa pembalasan
berdarah akan menghambat keinginannya yang terdalam: semakin dekat Allah.
Kita hampir bisa
merasakan bagaimana Daud menarik nafas dalam-dalam mendengar hal ini.
Orang yang nantinya
menjadi Raja Israel, yang gagah berani, tampan, memukau, puitis dan penuh
semangat ini terpukau oleh wanita yang pemberani dan berpikir jernih ini. Ketika Nabal akhirnya meninggal sepuluh hari
sesudah trauma yang dipicunya sendiri, Daud terpikat oleh kebijkan Abigail dan
keberaniannya; meminta Abigail menjadi istrinya.
Perhatikan studi
kasus yang ada dalam lampiran hal….
Studi kasus ini bisa menolong Anda mengevaluasi bagaimana kepekaan
rohani sejenis yang dimiliki Abigail merupakan hal yang penting jika Anda ingin
memenangkan hidupmu dari cengkeraman orang yang telah bertindak sewenang-wenang
padamu.
Bagaimana “mengempiskan”
kekuatan orang yang sewenang-wenang
Kita cenderung menanggapi orang yang
sewenang-wenang dalam dua bentuk respon ekstrim: menyerah atau membalas.
C.S Lewis mengatakan bahwa secara pasif
mengijinkan orang lain mengendalikan hidup kita seakan akan dia itu Allah
adalah sebuah tindakan penyembahan berhala.
Tetapi menanggapi dengan cara yang keras dan membalas adalah tindakan
yang menghianati diri sendiri karena membuat si korban bergeser menjadi si
penganiaya. Abigail membuktikan bahwa
taktik terbaik untuk menghadapi orang yang suka mengendalikan adalah dengan
mengembangkan kemampuan penilaian yang baik dan pengendalian diri. Prinsip-prinsip “mengempiskan” kekuatan orang
yang sewenang-wenang (tabel…) merupakan hal penting dalam menghadapi orang
semacam ini.
PEMBICARAAN YANG MENGUSUNG
KEMATIAN VERSUS YANG MENGUSUNG
KEHIDUPAN
“Mendekatlah,” suara serak itu berasal dari arah
setumpukan bantal di rumah sakit. Sambil
menyiapkan hati menghadapi ibunya yang mudah meledak dan selalu menyerangnya
dengan kata-kata yang tajam, Geraldine pelan-pelan beringsut ke arah ibunya,
Marylin. Dokter telah memperkirakan bahwa
usia Marylin tidak akan bertahan sampai 24 jam berikutnya. “Saya akan bicara denganmu dari kuburku,”
bisik Marylin—bibirnya membentuk sekelumit senyum sementara tatapan matanya
sekeras baja.
Geraldine
merinding. Ibunya memang biasa
menyampaikan sumpah serapah.
Tanah merah masih
segar di kuburan Marylin saat pengacaranya memanggil kedua anak perempuannya
dan tiga cucunya untuk menghadiri pembacaan surat wasiat.
Marylin mempunyai banyak harta sehingga surat wasiatnya pasti akan
mengubah kehidupan ke lima
orang yang berhak menjadi ahli warisnya ini.
Dan memang
demikianlah yang terjadi. Nama mereka
berlima muncul dalam surat wasiat itu.
Empat orang mendapatkan warisan beberapa benda kecil di dalam rumahnya. Benda-benda ini mengingatkan mereka pada
kegusaran dan kemarahan Marylin ketika masih hidup. Orang kelima, anak laki-laki Geraldine adalah
satu-satunya yang menerima warisan dalam bentuk uang. Bukan karena dia dulunya sangat menjadi
kesayangan neneknya, namun karena dengan demikian sekarang ia bisa dipakai
menjadi alat menyiksa, alat hidup untuk menyakiti ahli waris Marylin.
Cucunya yang seorang
itu menerima warisan lebih dari 1.5 juta dollar. Penggunaannya diawasi oleh orang-orang yang
ditunjuk mendiang Marylin. Warisannya
itu boleh dipakai untuk memperbaiki mobilnya atau segala sesuatu di dalam
rumahnya bahkan boleh untuk membayar cicilan rumahnya. Tetapi di dalam surat wasiat itu dicantumkan
bahwa yang diijinkan untuk diperbaiki atau diganti hanyalah kendaraan atas
namanya dan hanya untuk barang miliknya serta barang yang dibeli untuk mengisi
atau memperbaiki rumahnya. Jika ia
melanggar aturan ini maka semua harta warisan itu akan diberikan kepada sebuah
lembaga nirlaba yang sudah ditunjuk oleh mendiang Marylin, dan orang-orang yang
dipilihnya dengan hati-hati untuk menjadi pengawas tampaknya tidak akan
membiarkan sedikit pun penyimpangan terjadi.
Geraldine dan
saudaranya sudah mati rasa akibat penghinaan mental, emosi dan fisik yang
dilontarkan ibu mereka selama bertahun-tahun sehingga mereka sudah
mempersiapkan diri bahwa pastilah mereka semua akan dikeluarkan dari surat wasiat
tersebut. Mereka juga mempersiapkan diri
akan kemungkinan bahwa anak-anak mereka (cucu-cucu Marylin) juga tidak akan
menerima warisan. Tetapi ternyata
mendiang neneknya memandang bahwa sama-sama dicabut hak warisnya itu adalah
hukuman yang terlalu ringan. Karenanya
dia memilih memberikan hartanya kepada salah satu cucu saja. Harta yang tidak mungkin akan ditolaknya
tetapi juga tidak bisa dibaginya. Dari
dalam kuburnya dia merancang tarian keputusasaan, kejengkelan, dan kepahitan
menari-nari di hati keluarga besarnya.
Apa yang ada di akar suatu kepribadian yang jahat
dan memuja diri sendiri, begitu keras keinginannya menyakiti dan sama sekali
tidak peduli rasa sakit apa yang dihunjamkannya di dada orang lain? Dr.Jeffrey J. Magnavita menyatakan bahwa
faktor teratas yang memberikan sumbangan terbesar pada kepribadian yang seperti
ini adalah membesarkan anak seakan-akan dia yang paling istimewa, lebih dari
yang lain dan layak untuk menerima perlakuan yang lebih dalam segalanya.
|
PRINSIP-PRINSIP MENGEMPISKAN TINDAK
SEWENANG-WENANG
|
|
-.Latihlah hati nurani, penilaian dan
kehendakmu dan jangan menyerah kepada paksaan atau kontrol luar yang bersifat
mengeksploitasi.
|
|
- Hargailah hak orang lain untuk memilih apa
yang mereka mau—tetapi bukan memilihkan untukmu
|
|
-. Berbicaralah dengan jujur tanpa menyerang,
menyalahkan atau merengek: Anda sedang berbicara kepada orang lain yang juga
diciptakan serupa dengan gambar Allah.
Perlakukan mereka dengan hati-hati dan bertanggung jawab
|
|
Pilih tindakan yang kondusif dan memungkinkan
semua pihak bertindak dengan dewasa.
|
|
Hindari pilihan akan mendorong terulangnya
perilaku mengendalikan—oleh diri anda sendiri maupun orang lain
|
|
Sejauh mungkin, pilih tindakan yang menjaga
integritas Anda; sementara pada saat yang sama bangunlah bentuk hubungan yang
lebih baik
|
|
Pertimbangkan untuk menggunakan rumus Keluarga
yang Merdeka.
|
Sombong dan angkuh
dengan ego yang melembung bagai balon, mereka yang narsis seperti ini jauh di
dalam dirinya sesungguhnya merasa sangat tidak aman sehingga mereka sebenarnya
bisa merasa dimiskinkan oleh usaha orang lain untuk memberi atau mengasihi
mereka, demikianlah pendapat Dr. Judith Mishne, dari Newyork University.
Marylin, sama seperti
orang lain yang menjadi tiran di dalam keluarga, mempunyai ciri-ciri seorang
narsis. Apa yang menjadi tujuan, taktik
dan hasil dari rencananya bisa dirasakan dingin menyayat seperti kematian, mengaburkan
pikiran dan menimpangkan hubungan-hubungan.
Orang seperti ini bisa dilihat melalui kata-katanya yang mengusung
kematian. Kata-kata yang tajam dan
merusak yang sangat efektif melukai dan menghancurkan. Mereka sangat tidak mampu mengendalikan
diri. Kata-kata yang mengusung kehidupan
cenderung mencoba menyembuhkan luka, mengurangi resiko dan menjamin adanya
keamanan perasaan bagi semua pihak.
Perhatikan dengan
baik perbedaan antara tujuan-tujuan (baik sadar maupun di bawah sadar) dari
kepribadian yang destruktif dan kepribadian konstruktif di tabel…
|
TUJUAN, TAKTIK DAN HASIL KOMUNIKASI
|
|
Tujuan
Pembicaraan yang Mengusung Kematian /Death Talk Goal
-
Mengendalikan korban
-
Balas dendam—penderitaan
fisik maupun perasaan
-
Manipulasi
-
“Aku berhak”
-
Kebingungan
-
Kuasa
-
Peran dan Identitas yang dipaksakan
-
Korban merasa sebagai yang
tidak ada nilainya / “bukan apa-apa”
Taktik
dan Alat yang Dipakai
-
Kemarahan tak terkendali
-
Serangan emosi atau kata-kata
tajam
-
Tuduhan dan permintaan yang
terus-menerus
-
Menyalahkan
-
Intimidasi dan memaksakan
keinginan
-
“Tabrak dan Lari”
Akibatnya
bagi orang lain
-
Perasaan menjadi beku
-
Mati rasa terhadap
penderitaan—baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain
-
Tidak peduli kalau ditindas
-
Kepribadian yang
terkotak-kotak—meluncur dari rasa bersalah-marah-mengasihi diri sendiri-membenci
orang yang menindas dan membenci diri sendiri
-
Timpang dan terpisah dari
pergaulan sosial
-
Teraniaya—fisik dan emosi
-
Kemampuan berhubungan intim
menjadi mengempis atau rusak sama sekali
-
Pesimis
-
Putus asa
|
|
Tujuan Pembicaraan yang Mengusung Kehidupan/Life Talk Goal
-
Keintiman emosional
-
Saling merasa aman—baik fisik
maupun emosi
-
Saling mempengaruhi dan
saling menanggapi
-
Membagi tanggung jawab
-
Memahami
-
Integritas
-
*Autentik/keaslian/berani
menjadi apa adanya
-
Mempertahankan diri sendiri
dan orang lain.
Taktik
dan *Alat/Cara
-
Kemarahan dan perkataan yang
dipertimbangkan dengan baik
-
Komunikasi yang bisa diterima
nalar dan bijak
-
Permintaan dan kritik yang
dilakukan dengan selektif
-
Obyektivitas: sama-sama mau
menanggung kesalahan
-
Persetujuan damai dan diplomasi
-
Bersedia memeriksa masalah
dengan saling menghormati
Akibatnya
terhadap orang lain
-
Keamanan emosi
-
Empati dan berbelas kasih
terhadap orang lain
-
Keterbukaan untuk menerima
bahwa orang lain juga bisa terluka dan menyimpan luka
-
Kepribadian yang tabah—menyeimbangkan
dukacita dengan sukacita, memperhatikan diri sendiri dengan kemurahan hati,
ambisi dengan berbuat baik kepada orang lain
-
Pemberdayaan dan keterkaitan
dengan masyarakat sekitar
-
Menolak untuk dijadikan
korban
-
Kapasitas untuk menjalin
hubungan intim ditingkatkan dan dimaksimalkan
-
Optimisme
-
Pengharapan
|
Orang yang pemikirannya sudah terpelintir sedemikian rupa biasanya
menerapkan taktik pembicaraan yang mengusung kematian namun kemudian sangat
terkejut dan jengkel waktu mereka ternyata tidak medapat upah pembicaraan yang
mengusung kehidupan!. Berapa banyak
pasangan yang setiap harinya menyerang suami/isteri mereka dengan penghinaan
yang menusuk hati dan ancaman –ancaman sebelum akhirnya menyalahkan mereka saat
keinginannya berhubungan badan ditolak?
Logika yang dipakainya ialah: Kamu
lah yang sakit jika aku gak bisa memaksamu untuk bersikap romantis!.
Orang yang sama
memukuli anak-anaknya dengan pandangan menghina, merendahkan anak itu selama
bertahun-tahun, kemudian saat anak itu remaja; orangtuanya menuduhnya tidak
menghargai orang tua, tidak tahu berterimakasih dan mengatai dia pemberontak
saat anak itu gagal menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada orang
tuanya. Pesan yang ingin disampaikan
orang tua semacam ini ialah: Setelah aku menghancurkan semangatmu,
menghapuskan rasa percaya dirimu, dan menciutkan kemampuanmu bergaul, kamu
perlu menunjukkan penghargaan kepada karakterku, menghormati statusku, dan
menanggapi nasehatku yang bijak.
Seorang tiran tahu bagaimana caranya menambahkan cuka di atas luka.
Betapa besarnya harga
yang harus dibayar para korban.
Anak-anak yang diremehkan dan secara emosi ditelantarkan oleh
keluarganya banyak yang menderita depresi kronis, harga diri menciut, dan tidak
mampu mengambil keputusan. Mereka cenderung
untuk terus mencari pengakuan akan nilai dirinya, tetapi terlalu takut
menghadapi penolakan sehingga mereka juga tidak berani membela diri. Mereka terombang-ambing di antara dua
ekstrim: dari perilaku penyendiri ke mau mendapatkan keintiman instan, dari
kecurigaan ke penghianatan; dan dari mengidolakan ke menguasai orang lain. Setelah dewasa mereka masih menderita tekanan
dari orangtuanya yang narsis dan masih terus mau mengendalikan dan menganiaya
meskipun anak itu telah menginjak dewasa.
Tidak heran jika hati yang terluka ini berulang kali tertusuk oleh
hubungan-hubungan yang akhirnya mati.
Ada beberapa cara untuk mematahkan warisan
tirani dalam sebuah keluarga. Dalam The Narcissistic Family: Diagnosis and
Treatment, anak-anak para tiran yang sudah dewasa harus mulai berani
melakukan penilaian obyektif terhadap keluarga orang tuanya. Mereka harus menangisi kehilangan yang disebabkan oleh pelecehan
masa kanak, aniaya serta penelantaran.
Mereka perlu mengamati konsekuensi apa saja yang masih berlangsung. Mereka harus mau mengambil tanggung jawab
untuk memulai perubahan.
Nehemia pasal 9,
kisah kuno bangsa Ibrani ini menggambarkan garis besar proses mengeluarkan diri
dari riwayat traumatik keluarga. Baik di
masa hidup Nehemiah ataupun masa sekarang, kekacauan di dalam keluarga
senantiasa menghadirkan pilihan-pilihan yang menyakitkan. Salah satu piihan yang bisa dilakukan adalah
mengabaikan saja orang yang menjadi tiran itu serta trauma yang dihasilkannya, menolak mengakui kehancuran yang sudah terjadi
dan menyerah tidak mau menghadapi sang tiran yang bertindak sewenang-wenang.
|
WARISAN NEHEMIA: FORMULA
PEMULIHAN
|
|
Pilihan yang
kedua—mematahkan siklus dan mengidentifikasi siapa yang menjadi tiran dalam
keluarga. Ini memerlukan keberanian luar
biasa, namun sangat penting bagi terjadinya pemulihan. Ironisnya, orang yang sudah bertahun-tahun
bertindak sewenang-wenang dan menciptakan berbagai kekacauan kadang-kadang
memberikan tanggapan/respon yang luar biasa mengejutkan saat dikonfrontasi
dengan penuh keberanian.
GAMBAR JIWA SANG TIRAN
Sama seperti setiap orang menunjukkan sidik jari yang unik, kita
semua juga mempunyai “gambar jiwa” yang berbeda dari ornag lain. Perkataan
kita, sikap, nilai-nilai dan perilaku, menorehkan bekas yang tak terhapuskan di
pikiran dan hati mereka yang dekat atau bersentuhan dengan kita. Orang yang sewenang-wenang mempunyai gambaran
jiwa yang terlalu mencintai diri sendiri, tindakannya bukan hanya mencintai
diri berlebihan akan tetapi tampak ingin melukai, membingungkan, membuat cacat
dan meniadakan korbannya. Renungkan
dengan baik ciri-ciri orang yang menjadi tiran dan sewenang-wenang di dalam
keluarga seperti yang tampak dalam beberapa kasus di buku ini.
Keturunan
orang Israel… mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka. (Nehemia
9:1-2)
MEMPERTAHANKAN
DIRI DARI PENGHANCUR KELUARGA
Bagaimana caranya
bisa melepaskan diri dari cengkeraman penghancur keluarga? Seperti yang ditunjukkan oleh Katherine Graham
dan Abigail, kita bisa mempertahankan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang
menghancurkan di dalam keluarga. Tetapi
keputusan untuk mematahkan siklus ini tentu saja menuntut kesediaan Anda untuk
membayar harga. Pertanyaan yang perlu
Anda ajukan pada diri sendiri ialah:
Apa yang perlu
Anda korbankan (perasaan, hubungan sosial, finansial, dll) untuk mewujudkan
rencanamu membebaskan diri?
Apakah Anda
bersedia membayar harga itu?
Harga apa yang
harus Anda bayar jika Anda menolak untuk mempertahankan diri darinya?
Begitu Anda
menyadari pentingnya mematahkan siklus ini, Anda bisa mulai dengan membangun
perisai pelindung untuk melindungi Anda dari serangan tiran keluarga.
- Luncurkan kemerdekaan itu dipikiran anda.
Penghambaan diri Katharine Graham kepada penindasan emosional yang
dilakukan suaminya akan bisa berlangsung terus-menerus seandainya Katharine
memilih untuk percaya bahwa dia memang benar-benarlebih rendah/inferior dan sama sekali tidak
penting. Dalam kasusnya kita melihat
bahwa menghambakan diri, bukanlah cara untuk membuktikan kasih dan kesetiaan.
- Tempa aspek-aspek identitas Anda yang terpelintir akibat perlakuan sang tiran. Abraham Lincoln membebaskan dirinya sendiri saat dia mencoret dan menghapus “pesan” dari ayahnya bahwa ia pantas menerima aniaya fisik maupun emosi dan dia tidak layak untuk menerima pendidikan atau pujian hanya karena berhasil mencapai sesuatu (Bab 2). Abe menyerap semua dukungan yang didapatnya dari orang lain dan tidak mau menyetujui pendapat ayahnya yang suram tentang dia. Kenyataannya Abe adalah anak yang sangat luar biasa.
- Jangan mau menerima identitas sebagai korban
Terobsesi untuk menyenangkan orang tuanya yang sangat mengabaikan
dia hampir-hampir mengunci Sharon
dalam statusnya sebagai korban—sekaligus memperpanjang kendali mereka atasnya
(bab 4). Sharon menolak kebiasaan
menjadi korban, mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap
kehidupannya. Dengan demikian dia
melucuti kuasa keluarganya untuk bertindak semau mereka.
- Tanamkan faktor-faktor dentitas yang positif. Kuat, tabah, pemberani, bersemangat dan setia adalah kata-kata yang digunakan oleh teman-temannya untuk menggambarkan siapa Bonnie (bab 2). Seperti tanah yang kering ia menikmati dan menyerap semua penghargaan dan peneguhan yang disampaikan oleh mereka yang ada di luar keluarganya. Dengan menerapkan ciri-ciri positif ini, Bonnie berhasil menyingkirkan usaha ayahnya untuk menanamkan bahwa dia hanyalah anak yang tidak berarti apa-apa.
- Antisipasi datangnya ancaman, kemarahan, hinaan dan mungkin balasan dari tiran keluarga. Karena kebiasaan hidup Phil, Katharine Graham bisa bersiap-siap mewaspadai dan memperkirakan bahwa Phil pasti akan sangat marah menemukan Katharine akhirnya mengambil langkah maju untuk membuat keputusan-keputusan yang konstruktif. Ia kehilangan kesempatan untuk balik menyergap.
- Perhitungkan baik-baik harga yang mampu Anda bayar untuk memperjuangkan persamaan hak, sebelum Anda mengambil tindakan nyata. Jesse (bab 5) menimbang-nimbang bahwa menyampaikan keputusannya kepada ibunya pastilah akan membuahkan kemarahan dan penolakan. Dengan mengantisipasi hal ini dia menjadi siap menghadpi keinginannya untuk balik menekan dan membalas.
- Batasi dan cegah akses fisik dan emosi dari orang tersebut kepada Anda. Abigail menghindari suaminya yang pemarah, ketika dia menjalankan rencananya membawa persembahan perdamaian demi menyelamatkan keluarganya. Dengan demikian ia membatasi gerak Nabal sehingga tidak semakin membahayakan dirinya sendiri maupun orang-orangnya.
- Biarkan si sewenang-wenang ini menerima berbagai konsekuensi dari tindakannya yang jahat, dan mementingkan diri sendiri. Abigail menggunakan barang-barang milik keluarganya untuk meredakan bahaya yang mengancam dan dengan demikian mengijinkan Nabal membayar mahal perilaku buruknya itu. Dengan mengklaim hak-haknya sebagi pemilik Washington Post, Katharine Graham juga sekaligus menolak melindungi suaminya dari kehilangan kuasa di dalam perusahaan itu dan kerusakan status sosialnya yang disebabkan oleh perilaku buruknya.
- Gunakan aturan verbal untuk mengempiskan tirani seseorang: Lebih sedikit bicara, lebih bermakna!. Hematlah pembicaraanmu! Tetapkan batasan yang tegas. Abigail memutuskan menyelamatkan keluarganya tanpa mendiskusikan tindakan yang akan diambilnya dengan Nabal. Sharon yang dianggap sepi oleh orang tuanya berhenti menelpon mereka setiap hari, ini membuat mereka akhirnya berinisatif menghubungi Sharon. Jesse yang baru pulih dari adiksi kokain dengan lemah lenbut menetapkan batas-batas yang jelas untuk ibunya tetapi tidak mau terlibat perdebatan tentang batas itu. Pribadi-pribadi dengan keputusan dan tekad yang jelas dan tegas menemukan bahwa tantangan yang mereka hadapi menjadi lebih mereda saat mereka mengkombinasikan sedikit kata-kata dengan banyak tindakan yang nyata.
Jika Anda melihat bahwa ada pola seperti ini dalam keluargamu,
sekaranglah waktunya.
Bertindaklah!. Buatlah
rencana. Jalankan itu dengan hati-hati
dan penuh kepandaian diplomasi tetapi disertai keputusan-keputusan yang jelas
dan tegas. Jangan mau menerima taktik
yang bisa menghancurkan semangatmu, hindari perasaan sombong apa saja yang
mampir di hatimu, keinginan untuk membalas dendam, ingin mendiamkan orang lain
atau tindak kemarahan; posisikan diri Anda kuat secara moral saat Anda
mengklaim dan memperjuangkan peranan dan hubungan yang lebih sehat.
|
CIRI-CIRI
TIRAN KELUARGA
|
|
|
Pola
Pikir dan kebiasaan
|
Contoh
|
|
Mentalitas “Aku berhak …”
|
Christine yang masa kecilnya dimanjakan
(Bab 4) nampaknya berharap suami-suaminya selalu memenuhi apa saja yang dia
minta seperti yang selalu dilakukan orang tuanya. Mereka semua akhirnya memilih untuk
meninggalkan Christine.
|
|
Sombong, Merasa diri paling penting
|
Marilyn (Bab 6) menggunakan kekayaan dan
usianya untuk memaksakan kehendaknya kepada sanak-saudaranya.
|
|
Hati Nurani yang beku/ Kebutaan moral dan
Emosi yang berkarat
|
Ayah Bonnie, Bryan dan Bobby (Bab 1 dan 2) sebagai
penatua gereja memamerkan kehidupan Kristen yang saleh dan sering mengutip
Alkitab namun nampaknya sama sekali tidak menyadari penderitaan emosi, fisik dan
spiritual yang ia bebankan kepada anak-anaknya
|
|
Orang yang menunjukkan ledakan kemarahan,
kemarahan kronis dan ekstrim
|
Nabal (Bab 6) dikenal karena kemarahannya
yang meledak-ledak membuat hidupnya dan hidup keluarga serta anak buahnya
terancam bahaya karena harus berhdapan dengan Daud yang perkasa.
|
|
Menuntut Penghargaan dan Hormat yang
tidak sepantasnya ia dapat
|
Sering mengamuk/menangis seperti anak
kecil, namun mereka marah besar dan sangat jengkel jika tidak dihargai,
seakan-akan dia bertindak sebagai anggota keluarga yang matang dan terhormat
|
|
Manipulasi dan Eksploitasi
|
Ayah Ben Carson menipu dan memanipulasi
seorang gadis muda yang percaya kepadanya, kemudian meninggalkannya
membesarkan anak mereka dalam kemiskinan ketika tindakan aib ayahnya ini terbuka
(Bab 8)
|
|
Rancangan balas Dendam
|
Marylin dengan kejam membalas melalui surat wasiatnya yang
ditujukan kepada keluarganya yang tidak bisa menunjukkan pemujaan dan
pelayanan sebagaimana yang diinginkannya
|
Kehidupan Anda terlalu berharga
untuk disia-siakan dan dihancurkan oleh seorang tiran dalam keluarga.
RENCANA TRANSFORMASI
- Mulailah bekerja ke arah kebebasan dengan memperkuat radar internal-mu
- Bangunlah dirimu berdasarkan aspek positif dari karakter dan kepribadianmu
- Tentukan seberapa besar harga yang bersedia Anda bayar untukk memperoleh kemerdekaan
- Tetapkan batasan-batasan yang tegas untuk terciptanya peran dan hubungan yang sehat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar