Lost GENERATION
Bapa : Didi anak ku, engkau harus berhasil, harus lebih dari
bapa.......
Didi : ya Pa. Didi akan berupaya.......dan doakan Didi ya
Ma....
Mama : ya anakku
Lalu Didi pergi liburan ke kampung halaman ayahnya, mujur
nasib Didi, kakek dan neneknya masih hidup dan masih sehat. Dalam istilah orang
Batak, Oppung Doli dan Oppung Boru.
Pada saat liburan tersebut, Didi banyak bercerita dengan Oppung
Doli dan Oppung Boru yang selalu bersama pergi kemana pun, baik ke pesta,
maupun ke pasar. Hal ini yang diamati oleh Didi. Perbedaan kehidupan yang
kontras yang terjadi di Kampung dengan tempat tinggal Didi di kota besar. Hal
ini disaksikan oleh Didi dalam proses perkembangan hidupnya. Didi bertumbuh
dewasa, dan liburan akhir SMA, Didi seperti biasanya tak pernah absen ke
kampung bapanya. Dan setelah berlangsung
sekian lama, Didi pun kuliah di suatu Universitas terkemuka di negaranya. Lalu
ia mulai jatuh cinta dengan seorang gadis desa satu kampusnya. Namun orang
tuanya tidak merestui hubungan serta pertemannya dengan wanita itu. Didi pun
kecewa akan hal ini, lalu ia pergi ke kampung halaman bapanya dan bertemu
dengan Oppung Doli dan Oppung Borunya. Sepertinya Didi lebih merasa nyaman
dengan ketulusan desa itu.
Pada suatu hari, ketika sedang duduk di teras rumah.....
Didi : Pung, gimana dulu cara opung menyekolahkan Bapa?
Oppung Doli : Kamu kan tau kebun kopi kita itu kan? Semua
penghasilan kebun itu dulu, saya kirimkan buat uang sekolah dan belanja Bapa
mu.
Oppung Boru : Benar Didi, hasil kebun kopi itu, semua buat
bayar baiaya sekolah papa mu hingga tammat. Untuk Uda mu, hasil kebun karet. Dan
untuk Namborumu hasil ternak Oppung Boru yang di belakang itu. Jadi dahulu,
semua serba pas-pasan.....saya dan Oppung Doli mu makan seadanya, pakaian pun
susah dulu diganti.
Didi : Oh...begitu ya Pung.
Oppung Doli : Ya...begitu lah Didi.
Didi : Lalu, mengapa Oppung tdk betah tinggal di kota?
Oppung Doli : hawa nya tdk cocok Ambia Didi, di sana semua
orang sibuk.... lebih tenanglah di sini.
Oppung Boru: lebih
enak lah kami di sini amang......bisa ke ladang, ke sawah dan beternak.
............................ tanpa terasa..... Didi pun
dijemput oleh bapanya.
Didi sekarang sudah semester 7 di Fakultas Teknik dan sudah
faham betul akan gaji PNS tempat kerja bapanya. Dan sama seperti pada Oppung
dolinya ia bertanya:
Didi : Pa, dari mana Bapa bisa beli Rumah besar dan banyak,
mobil yang bagus?
Bapa : itu hasil usaha Bapak di kantor nak, dan itu gak
urusan mu. Kamu tdk usah tanya macam-macamlah..... kamu itu masih aku yang
biayai. Makanya kamu belajar dan cepat tamat...lalu kerja seperti Bapa.
Didi;.....................?
Setelah tiba di rumah, kembali Didi menanyakan hal yang sama
kepada Bapa dan Mamanya, dan terjadilah pertengkaran yang hebat pada keluarga
itu.
Didi : Ternyata, papa dan mama gak bisa jawab pertanyaan
saya.
Mama : Pertanyaan apa Didi?
Didi : Pa,Ma dari mana kita bisa beli Rumah besar dan banyak,
mobil yang bagus,serta tabungan?
Mama : Itu hasil kerja keras bapa mu.
Didi : Coba mama jelaskan secara rinci Ma....
Mama : ah....gak penting itu Nak, yang penting kamu sekolah
dan tamat.
Didi : .......aku gak mau terima uang kalian lagi, jika
kalian gak bisa jelaskan. Beda dengan Oppung, ia bisa jelaskan semua bagai mana
ia menyekolahkan dan membiayai anak-anaknya. Hitungan realistis. Kita.....hitungannya mistis dan mengaku berkat Tuhan. Tolong
jelaskan pa...ma....
Mama : aku mohon
Didi... jangan begitu?
Bapa : siapa yang merusak mu nak? Si Dina itu ya? Gadis pujaan
mu itu? Hidup bukan hanya cinta nak......harus ada harta dan modal......
Didi : aku gak mau dengar kalian lagi.......
dan aku sudah dewasa, jadi jangan salahkan siapa-siapa. Aku dah bisa
berfikir yang realistis......
Bapa:...................terserah kamu lah.....namun gak semua kamu tau itu.
Mama:...................????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar